Terlantarnya Makam KH. Idris Jamsaren Solo

Sarkub Share:
Share

Pada Makam K.H. Idris Jamsren terkesan agak kotor dan hanya terdapat potongan plastik berbentuk persegi panjang seperti pengaris yang sudah pecah yang bertuliskan nama beliau yang sudah mulai memudar dan sulit untuk dibaca. Penulis sendiri merasa kesulitan saat mau ziarah ke makam beliau. Saat pertama kali datang ke komplek makam haji  penulis bertanya pada orang sekitar tetapi mereka tidak tahu. Saat penulis mencari di google juga tidak menemui lokasi tepatnya padahal makam haji itu sangat luas. Penulis juga tidak menemukan gambar makam beliau samasekali. Akhirnya pada kesempatan kedua penulis berhasil menemukanya. Padahal makam beliau berada tepat diamping makam K.H. Ahmad Siroj. Rupanya orang sekitar lebih mengenal makam K.H. Ahmad Siroj dari pada makam K.H. Idris Jamsren. Mungkin karena agak lamanya jarak wafat kedua Ulama tersebut

Sekilas Tentang K.H Idris Jamsaren

K.H. Idris Jamsari merupakan penerus kepengasuhan Pondok Pesantren tertua di Solo yakni Pondok Jamsaren yang didirikan pada tahun 1750 pada masa Paku Buwono IV. Pengasuh pertama adalah Kyai Jamsari dari Banyumas, setelah beliau wafat kepengurusan Pondok digantikan oleh putranya  Kyai Jamsari II. Karena banyak Kiai yang diburu dan ditangkap oleh Belanda maka Kiai Jamsari II melarikan diri, ada yang mengatakan beliau melarikan diri Kediri tepatnya di desa Jamaren Kecamatan Pesantren.

Kemudian Pesantren Jamaren mengalami kekosongan  sekitar 50 tahun lamanya. Disaat seperti itu munculah K.H. Idris yang berasal dari Klaten menghidupkan kembali situasi Pondok tepatnya pada tahun 1878. Pada masa K.H Idris Pesantren Jamaren mengalami perkembangan yang sangat pesat.

K.H Idris merupakan cucu Ulama besar dari Klaten yaitu Kyai Imam Rozi pendiri pesantren Singo Manjat dari desa Tempursari, Ngawen, Klaten. Kiai Imam Razi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Wirononggo II bin Kiai Wirononggo I bin Kiai Singo Hadiwijoyo bin Kiai Tosari bin Kiai Ya’kub bin Kiai Ageng Kenongo. Ia lahir pada tahun 1801 M. Sejak kecil ia belajar agama dari ayahnya, Kiai Maryani, kemudian berguru kepada Kiai Rifai, yang sekarang makamnya ada di Gathak Rejo, Drono Klaten. Ia juga berguru kepada Kiai Abdul Jalil Kalioso bersama Kiai Mojo, Penasihat Pangeran Diponegoro.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply