Siapa Yang Menanggung Rejekimu?

Sarkub Share:
Share

Dr. Said Ramadhan, seorang da’i muda Mesir yang tersohor pada masanya, karena sering mengritik pemerintah Gamal Abdul Naser, ditutup akses-akses usaha ekonominya. Dia merasa sedih dan cemas karena tidak bisa membayangkan bagaimana akan mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya.

Ditengah kecemasannya itu, dia mendengar melalui radio seorang qari` sedang membaca ayat 32 surat Az-Zukhruf, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami lah yang membagikan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Mendengar bacaan ini, dia merasa seolah-olah ayat itu baru turun dan khusus ditujukan kepadanya. Maka segera hilanglah rasa cemas dalam hatinya, berubah menjadi optimisme, harapan dan penuh semangat memandang hari esok yang membentang di hadapannya.

Allah menjamin rezeki setiap makhluk yang diciptakanya. Jaminan itu dinyatakan dalam firman-Nya di surat Hud ayat 6. “Dan tidak ada satu hewan melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. Hewan melata dalam ayat ini disepakati oleh para ahli tafsir maknanya adalah semua makhluk Allah termasuk manusia. Di dalam surat Al-Baqarah 212 dan An-Nur 38, Allah Juga menegaskan “Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nyatanpa batas”.

Apakah rezeki dari Allah diberikan dengan sebab atau tanpa sebab, dengan syarat atau tanpa syarat? Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi’i mempunyai pandangan yang berbeda. Imam Malik berpendapat bahwa rezeki itu tanpa sebab. Dengan tawakkal, berserah diri kepada Allah, maka Allah akan menurunkan rezeki-Nya.

Hal ini didasarkan atas hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka Allah akan memberi kaliaan rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki, di pagi hari dia pergi dalam keadaan lapar, sore hari dia pulang dalam keadaan kenyang”.

Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa rezeki itu dengan sebab, yaitu harus ada ikhtiar atau usaha. Dasarnya adalah hadis yang sama, tapi Imam Syafi’i memberikan penekanan pada bagian akhirnya, yaitu; “di pagi hari dia pergi dalam keadaan lapar, sore hari dia pulang dalam keadaan kenyang”. Jadi, burung pun tidak diam untuk mendapat rezeki.

Menurut riwayat, Imam Syafi’i pun pergi ke rumah gurunya itu untuk menyampaikan pendapatnya. Di tengah jalan di dekat pasar, bertemu dengan seorang kakek yang terengah-engah memanggul barang belanjaannya. Dia menawarkan diri untuk membantu memanggulnya. Setelah sampai di rumah, sang kakek memberinya sekeranjang korma. Imam Syafi’i membawa korma itu sebagai oleh-oleh untuk gurunya, dan menceritakan apa yang dialaminya sebagai bukti kebenaran pendapatnya bahwa rezeki itu ada sebabnya. “Kalau saya tidak membantu mengangkat barang, saya tidak akan memperoleh korma ini”. Imam Malik pun menjawab degan tenang, “Saya tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa, tapi dapat juga rezeki sekeranjang korma”.

Jadi siapa yang benar?

Keduanya benar. Rezeki adalah anugerah Allah. Ada yang diperoleh dengan usaha dan ada yang tidak. Ada yang harus diusahakan dan ada yang hanya ditawakkalkan. Banyak ayat di dalam Al-Qur`an yang mendorong manusia agar bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. “Jika shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian di muka bumi, berusahalah untuk memperoleh karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung” (Al-Jumu’ah 10). “Supaya mereka makan dari buahnya dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka” (Ya` Sin 35).

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply