Pengetahuan Mengenai Cara Meneliti Aib Sendiri

Sarkub Share:
Share

  1. Mencari teman yang tulus, piawai dan menjaga aturan serta etika pergaulan untuk dijadikan sebagai pengawas baginya, dan mengamati segala gerak dan tindakannya.

Di jaman sekarang ini merupakan hal yang langka, sungguh amat sedikit diantara teman-teman yang menghindari dari sikap berpura-pura, lalu bersedia menunjukkan cacat saudaranya, atau menghidari kedengkian, sehingga tidak menunjukkan lebih daripada kadar yang secukupnya saja.

Apalagi saya pernah mengalami memiliki teman yang dasarnya memang benci kepada kita, apapun kebaikkan yang kita lakukan selalu dinilai buruk terhadap tingkahlaku kita sehingga akal sehatnya sudah lagi tidak digunakan lagi untuk menerima kebaikan orang lain karena sudah terbelenggu oleh hawa nafsu setan..(jadi curhat deh).

Sebab Akhlak yang buruk laksana ular dan kalajengking yang menyengat, coba saja bila ada teman yang mengingatkan ada kalajengking di baju kita, hmm tentunya kita akan segera membuang dan membunuhnya, juga kita akan sangat berterimakasih kepada orang yang memberitahu kepada kita.

Kendala yang lain lagi, betapa tersinggungnya kita bila akhlak buruk kita diberitau oleh teman kita sendiri, bahkan berdalih dengan mengatakan,”kamu juga begitu punya sifat begini dan begitu..” Justru sikap inilah yang menimbulkan permusuhan dan menghalangi kita dari kemanfaatan nasihatnya, sikap kita inilah yang bersumber dari kekerasan hati kita karena banyaknya dosa-dosa yang dikerjakan (kelemahan iman).

Oleh karena itu berdoalah mohon kepada Allah SWT untuk membukakan mata-hati kita agar mampu melihat cacat-cacat diri pribadi dan menyibukkan diri untuk mengobati serta memberi Taufik agar senantiasa legowo (lapang dada) dengan tidak melihat lagi SIAPA yang menasihati kita tapi lihatlah isi dari nasihat tersebut.

  1. Mengambil Manfaat dari Orang-orang Yang membenci Kita

Seorang yang bijak dan waspada takkan mengabaikan manfaat dari ucapan musuh-musuhnya yang selalu menonjolkan segala keburukan kita, sebab biasanya justru dari merekalah akan terungkap keburukan-keburukannya melalui lidah mereka.

  1. Mengambil Hikmah dari Perbuatan buruk Orang Lain yang ada di lingkungan kita sendiri, hendaknya kita selalu waspada dengan keburukkan orang lain apalagi mencelanya.

Sebenarnya bila kita mau belajar dan memperbaiki aib kita sendiri-sendiri, cara ini jauh lebih efektif dengan meninggalkan sifat buruk kita sendiri dan memperbaikinya, niscaya kita tidak perlu lagi seorang pendidik.

Tetapi ini semua hanyalah upaya darurat bila kita tidak berhasil mendapatkan seorang syaikh yang arif yang bisa menunujukkan aib dan keburukan akhlak kita. Karena seorang Syaikh tajam penglihatan melalui mata hatinya, berhati-hati dan tulus karena mereka sendiri telah berhasil membersihkan dirinya sendiri, kemudian membantu kita memperbaiki akhlak hamba-hamba Allah secara tulus ikhlas.

Maka dari itu seyogyanya bergaul dengan orang-orang sholeh yang selalu berdekatan dengan Allah sehingga mereka bisa mewarnai cara berpikir dan bergaul yang baik akhlakul karimah sehingga kita senantiasa waspada dan memperbaiki akhlak kita yang masih kurang baik. Karena dari merekalah yang akan sanggup menyembuhkan dari penyakit hatinya serta menyelamatkan kita dari kebinasaan pergaulan yang tidak baik.

Wallahu ‘alam Bishshowab

Sumber : Tim Sarkub diambil dari Karya Imam Ghozaly, Karisma

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan