
Pelajari cara menangkal tipuan setan dalam beramal dengan 7 cara efektif menurut Imam Al-Ghazali. Temukan tips dan strategi untuk meningkatkan keimanan dan ketaatan kepada Allah.
Asy-Syekh Al-Ajal Al-Imam Az-Zahid As-Sa’id Al-Muwaffaq Hujjatul Islam Zainuddin Syarful Ummah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali At-Thusiy, yang lebih dikenal dengan Imam Ghazali, dalam kitab tasawufnya “Minhajul ‘Abidin ila Jannati Rabbil ‘Alamin”, membagikan tipuan setan terhadap anak cucu Adam dalam berbuat taat kepada Allah dengan 7 cara.
Cara pertama: Setan mencegah seseorang untuk berbuat taat. Maka, jika Allah memelihara seseorang, ia akan menolak setan dengan mengatakan, “Aku butuh amalan ini karena tidak boleh tidak bagiku mengambil perbekalan di dunia yang fana ini untuk akhirat nanti yang tidak ada penghabisan di sana.”
Cara kedua: Setan menyuruh seseorang untuk menunda-nunda suatu amalan. Maka, jika Allah memelihara seseorang, ia akan melawan tipuan setan dengan berkata, “Tiada adalah ajalku berada di genggamanku. Kalau aku menunda amalan hari ini untuk aku kerjakan besok, maka amalan besok kapan aku kerjakan? Bukankah setiap hari ada amalan tertentu?”
Cara ketiga: Setan menyuruh seseorang untuk mempercepat dalam beramal. Maka, jika Allah memelihara seseorang, ia akan menolak setan dengan berkata, “Sedikit amal beserta kesempurnaan lebih baik daripada banyak amalan namun serba kekurangan.”
Cara keempat: Setan menyuruh seseorang untuk menyempurnakan amalan karena ingin memperlihatkan kepada manusia (riya’). Maka, jika Allah memelihara seseorang, ia akan menolak perintah setan dengan berkata, “Apa arti aku beramal untuk memperlihatkan kepada manusia? Tidakkah cukup bagiku Allah saja yang melihat?”
Cara kelima: Setan ingin menjerumuskan anak cucu Adam dalam lembah ‘ujub (heran terhadap diri sendiri). Setan berbisik, “Oh, tidak ada yang lebih mulia darimu, tidak ada yang lebih sadar darimu, tidak ada yang melebihi darimu.” Maka, jika Allah memelihara seseorang, ia akan menolak bisikan setan dengan berkata, “Segala nikmat pada itu semua karena Allah, bukan karena perbuatanku. Allah yang memilih aku dengan taufiq-Nya dan Ia yang menjadikan amalanku sebagai suatu nilai yang sangat berharga dengan karunia-Nya.”
Cara keenam: Setan menyuruh seseorang untuk beramal secara rahasia dan menyembunyikannya dari manusia, dengan harapan Allah akan memperjelaskan amalan tersebut bagi manusia sehingga mereka semua memuji. Maka, jika Allah memelihara seseorang, ia akan menolak tipuan setan dengan berkata, “Wahai yang terkutuk, dari dulu kamu selalu saja mendatangiku dengan cara membinasakan amalanku, dan sekarang kamu mendatangiku dengan cara memperbagus amalanku agar kamu membinasakan amalanku.”
Cara ketujuh: Setan berkata, “Tidak ada keperluan untukmu amalan ini, karena sesungguhnya jika engkau diciptakan sebagai orang yang sa’adah (beruntung) pada azali, maka tidak akan menjadi suatu kemudharatan bagimu meninggalkan amalan. Dan jika engkau diciptakan sebagai orang yang syaqawah (celaka), maka tidak dapat memberi manfaat bagimu mengerjakan amalan.” Maka, jika Allah memelihara seseorang, ia akan menolak kicauan setan dengan berkata, “Aku ini hanyalah seorang hamba, kewajiban seorang hamba adalah menjunjung tinggi perintah untuk beribadah kepada Allah.”
Demikianlah petuah-petuah Imam Al-Ghazali dalam menangkal tipuan setan. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Amien.
Rujukan: Syarah Minhajul ‘Abidin karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jamfasi Al-Kadiri, juz 1, hal. 312-315.
Pustaka Menyan


No Responses