
Memahami Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ dan Mi’raj Para Wali
Banyak orang yang gagal memahami perbedaan antara Mi’raj Nabi dengan Mi’raj Para Wali, sehingga menyebabkan bias kognitif dan kekacauan berpikir.
Bahkan ada seorang pengasuh pesantren yang seharusnya memberikan penjelasan yang benar berdasarkan keilmuan, justru menggiring opini publik dengan pemahaman yang keliru dan sarat sentimen. Akibatnya banyak orang awam yang ikut terseret dalam arus narasi kebencian.
Berikut ini penjelasan tentang perbedaan antara Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Mi’raj Para Wali dalam tradisi Islam, khususnya tasawuf, kami sajikan dengan bahasa yang sederhana, jelas dan mudah dipahami.
—
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
a). Apa Itu?
Isra’ Mi’raj yaitu suatu perjalanan nyata yang dialami Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana dalam Al-Qur’an (Surah Al-Isra ayat 1 dan An-Najm ayat 1–18). Isra’ adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem), sedangkan Mi’raj adalah kenaikan Nabi ke langit hingga ke Sidratul Muntaha (langit ketujuh) dan menghadap Allah SWT secara langsung.
b). Sifat Perjalanan:
• Fisik dan Spiritual: Nabi Muhammad ﷺ melakukan perjalanan ini dengan tubuh dan jiwa secara nyata, bukan hanya dalam mimpi atau visi. Ini adalah mukjizat khusus yang Allah berikan kepada Nabi.
• Langsung ke Hadirat Ilahi: Nabi ﷺ naik melewati tujuh lapis langit, bertemu para nabi (seperti: Nabi Adam, Musa, dan Isa), bahkan melihat surga dan neraka, hingga mencapai Sidratul Muntaha dan berbicara langsung dengan Allah tanpa perantara.
• Tujuan Utama: Yaitu menerima perintah salat lima waktu, melihat rahasia alam semesta, dan memperkuat iman Nabi serta umatnya.
c). Kekhususan:
• Hanya Nabi Muhammad ﷺ yang mengalami Mi’raj dalam bentuk fisik dan spiritual secara nyata.
~ Peristiwa ini adalah mukjizat, bagian dari keimanan umat Islam, dan memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Hadits.
– Tidak ada manusia lain yang diberi pengalaman seperti ini dalam bentuk fisik.
d). Bukti:
Diceritakan dalam Al-Qur’an, hadits shahih (misalnya, riwayat Bukhari dan Muslim), dan diterima secara konsensus oleh umat Islam.
—
Mi’raj Para Wali
a). Apa Itu?
Mi’raj Para Wali yaitu istilah kiasan (metafora) untuk pengalaman spiritual atau batiniah yang dialami para wali Allah (sufi atau tokoh saleh) dalam mendekati Allah. Ini bukan perjalanan fisik, melainkan pengalaman jiwa melalui mimpi, visi gaib (kasyf), atau ekstase spiritual (wajd). Contohnya, wali seperti: Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, Rabi’ah Al-Adawiyah, atau Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili.
b). Sifat Perjalanan:
• Hanya Spiritual: Pengalaman ini terjadi dalam hati atau jiwa, bukan dengan tubuh fisik. Biasanya dialami saat dzikir, khalwat, atau mimpi ilahi.
~ Tidak Sampai ke Arsy Secara Langsung: Para wali tidak benar-benar naik ke langit atau menghadap Allah seperti Nabi ﷺ. Mereka mungkin melihat “cahaya ilahi,” malaikat, atau alam gaib dalam visi batin, yang diibaratkan sebagai “langit” atau “Arsy.”
– Simbolis: Istilah “naik ke langit” adalah metafora untuk kenaikan derajat spiritual, seperti mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah) atau fana’ (lenyap dalam Allah Ta’ala).
c). Tujuan:
• Taqorrub mencapai kedekatan dengan Allah melalui cinta (mahabbah), pengetahuan ilahi (ma’rifat), atau pencerahan batin.
~ Menerima ilham, hikmah, atau karamah (keistimewaan spiritual) sebagai tanda kewalian.
– Menginspirasi pengikut untuk lebih taqwa dan mencintai Allah.
d). Keistimewaan:
• Bukan mukjizat, melainkan karamah (keistimewaan) yang Allah berikan kepada kekasihNya hamba pilihan.
~ Tidak setara dengan Mi’raj Nabi, karena hanya Nabi yang mendapat kedudukan khusus untuk bertemu Allah secara langsung.
– Sifatnya subjektif, bergantung pada pengalaman individu wali, dan umat islan tidak wajib mengimani.
e). Bukti:
• Berasal dari manaqib (biografi wali), literatur sufi seperti Tazkirat al-Auliya karya Fariduddin Attar, atau tradisi lisan tarekat.
• Tidak ada dasar dalam Al-Qur’an atau Hadits Shahih, melainkan berdasarkan riwayat sufi yang kadang bersifat simbolis atau legendaris.
—
3. Tabel Mi’raj Nabi dan Mi’raj Para Wali
Berikut kami sajikan dalm bentuk tabel, agar lebih mudah memahaminya.
|
Aspek
|
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
|
Mi’raj Para Wali
|
|---|---|---|
|
Sifat Perjalanan
|
Fisik dan spiritual, nyata dengan tubuh dan jiwa
|
Hanya spiritual, dalam mimpi, visi, atau ekstase
|
|
Tempat Tujuan
|
Langit ketujuh, Sidratul Muntaha, hingga hadirat Allah
|
Alam batin, diibaratkan “langit” atau “Arsy”
|
|
Status
|
Mukjizat, khusus untuk Nabi, maka wajib mengimani
|
Karamah, tidak wajib diimani, bersifat simbolis
|
|
Tujuan
|
Menerima perintah salat, melihat alam semesta
|
Pencerahan batin, kedekatan dengan Allah
|
|
Dasar
|
Al-Qur’an (Al-Isra: 1, An-Najm: 1–18), dan Hadits Shahih
|
Manaqib sufi, cerita lisan, literatur tasawuf
|
|
Pelaku
|
Hanya Baginda Nabi Muhammad ﷺ
|
Para wali, seperti Abdul Qadir, Rabi’ah, dll.
|
|
Kebenaran
|
Pasti, bagian dari aqidah Islam
|
Subjektif, tidak wajib diterima sebagai fakta
|
—
4. Ringkasan
• Isra’ Mi’raj Nabi: Nabi Muhammad ﷺ benar-benar naik ke langit dengan tubuhnya, dibawa oleh Buraq, bertemu nabi-nabi lain, melihat surga dan neraka, dan berbicara langsung dengan Allah Ta’ala. Ini seperti perjalanan nyata ke “dunia lain” yang hanya bisa dilakukan Nabi ﷺ.
• Mi’raj Para Wali: Misalnya, Rabi’ah Al-Adawiyah berzikir hingga “melihat” cahaya ilahi dalam hati, seolah jiwanya “terbang” ke langit. Ini seperti mimpi atau perasaan batin yang sangat kuat, tapi tubuhnya tetap di bumi.
—
5. Kesimpulan
Maka kesimpulannya, Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ adalah peristiwa nyata, khusus, dan mukjizat yang hanya Nabi mengalami, dengan dasar Al-Qur’an dan hadits.
Sementara itu, mi’raj para wali adalah pengalaman batiniah, simbolis, dan bersifat karamah, yang menggambarkan kedekatan mereka dengan Allah melalui dzikir, cinta, atau visi spiritual.
Perbedaan utamanya yaitu ada pada sifat (fisik vs. batin), status (mukjizat vs. karamah), dan keharusan mempercayainya (wajib vs. tidak wajib).
(*) Untuk menambah wawasan sarkubiyin, maka admin akan menerbitkan artikel lanjutan: kisah Mi’raj Para Wali (“naik ke langit”).
—
Pustaka Menyan


No Responses