Lima Penyakit Manusia Modern

Sarkub Share:
Share

hackingHidup di era modern ini sungguh jauh lebih mudah dan lebih enak daripada zaman dahulu. Teknologi modern yang telah Allah buka melalui kecerdasan manusia telah memberikan perubahan yang sangat besar dalam hidup manusia. Semua menjadi lebih mudah, efektif dan efisien. Bukan hanya alat-alat canggih yang bersifat hiburan saja, tetapi sektor pertanian dan produksi kebutuhan pokok juga bisa dibudi-dayakan. Sebagai contoh, di tahun 1970-an tanah yang kita pakai untuk pertanian padi hanya bisa dimanfaatkan untuk sekali tanam dan panen dalam setahun. Sekarang, dengan teknologi yang lebih mendukung, tanah ini bisa kita tanami tiga kali dalam setahun meski juga diselingi musim kemarau.

 

Kita juga telah dihadapkan pada pola kehidupan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Ketika roda, mesin, listrik dan elektronika belum ditemukan, kita tidak pernah tahu bahwa akan ada alat pemindah dan penyimpan suara seperti pesawat radio dan recorder. Juga alat pemindah gambar secara langsung seperti televisi dan teknologi pendukungnya seperti kamera. Amati juga munculnya penghantar suara dengan langsung seperti telepon. Sebelum ditemukan kumparan, tentu menimba air dari perut bumi merupakan hal yang amat melelahkan. Kita juga tidak dapat menikmati malam yang gemerlap sebelum lampu pijar listrik ditemukan.

 

Semua itu merupakan karunia Allah yang wajib kita syukuri dan kita jadikan sebagai sarana kebaikan. Manusia hanya mengolah bahan-bahan alam yang telah disediakan oleh Allah SWT seperti aneka jenis logam dan magnet, biji plastik dan kristal atau batu bahan kaca. Juga minyak bumi yang melimpah sebagai bahan bakar mesin atau aspal untuk bahan pembuatan jalan. Manusia tak menciptakan semuanya itu, tetapi sekedar mengeksplorasi dan mengeksploitasinya untuk selanjutnya diolah sesuai hukum- kukum fisika, kimia dan elektronika. Terkait dengan logam Allah SWT berfirman :

 

"Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi (atau baja) yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya walau pun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS Al-Hadid [57]: 25)

 

Namun sayangnya, dari sisi moral justru kehidupan modern semakin rentan oleh godaan yang begitu komplek. Keberadaan teknologi informasi yang makin memberikan peluang privasi lebih banyak itu membuat orang kian terkena "penyakit-penyakit" modern. Terkadang penyakit moral ini tidak disadari ketika ia menjadi semakin kronis. Setidaknya pada tulisan ini akan penulis sebutkan lima macam "penyakit" modern yang umum kita temui di sekitar kita,

 

Pertama adalah penyakit yang timbul sebagai dampak munculnya seluler. Teknologi informasi seluler telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup . sehari-hari kita. Ironisnya hal itu amat menyita waktu kita. Orang kerap lupa waktu jika sudah memegang HP pintar dengan bermacam aplikasinya seperti jejaring sosial. Orang kadang lupa dan apatis terhadap orang-orang di sekitarnya. Mereka berdekatan jarak namun terasa jauh, karena masing-masing sibuk dengan HPnya. Kadang lupa waktu shalat dan zikir. Bisa dikatakan bahwa alat semacam HP telah menyita waktu kita untuk hal-hal ; yang kebanyakan tidak bermanfaat.

 

Kita tidak bermaksud menafikan manfaat HP dalam kehidupan sosial. Tetapi ketika HP sudah sedemikian canggih, maka manfaat utama untuk komunikasi i positif dan informatif beralih pada sarana hiburan. Manusia memang butuh , hiburan. Namun sayang, banyak orang sudah melupakan waktu yang berpotensi mengabaikan hal yang lebih bermanfaat seperti membaca Al-Quran atau berdzikir. Tampaknya tangan yang seharusnya dekat dengan biji tasbih, kini jauh lebih akrab j dengan HP. Telinga yang dulu banyak mendengar hal-hal bermanfaat kini lebih banyak dihabiskan untuk mendengarkan obrolan tak penting yang kadang tak kenal waktu.

 

Kedua adalah keranjingan hiburan. Sudah sering kita saksikan bagaimana pemuda-pemudi kita atau para orang tua begitu keranjingan hiburan. Mulai dari game di internet sampai pada menghadiri konser musik. Dunia intertainmen seolah sudah menjadi identitas yang lekat dengan  mereka. Kegiatan keagaamaan yang serius tak pernah mendapat respon semeriah dunia hiburan. Refreshing memang juga dibutuhkan, namun Ironis sekali ketika hiburan itu menjadi begitu "wajib"nya dalam pandangan para peeandunya.

 

Seorang guru mungkin berteriak- teriak ketika memberikan peringatan kepada murid yang kadang tak digubris. Seorang khatib mungkin akan berapi-api dalam memberikan orasinya, yang kadang hanya sekedar jadi tontonan dan rutinitas tanpa peresapan makna. Bandingkan dengan artis yang begitu digandrungi dan ditaati ketika meminta para penontonnya untuk mengangkat tangan atau mengajak bergoyang bersama. Anak-anak kita hafal di luar kepala lagu-lagu kelompok band. Tetapi berapa dari mereka yang mengerti apalagi hafal Asma'ul Husna beserta artinya, atau sifat-sifat Allah dan para rasulNya, atau nama-nama malaikat dan tugas-tugasnya?

 

Ketiga adalah pamer kecantikan dan keseksian. Sudah sering kita saksikan di sekitar kita betapa kini banyak orang telah terjebak dalam tren pamer lekuk tubuh dan kecantikan tanpa atau dengan menyadari bahwa hal itu bertentangan dengan norma- norma agama dan berpotensi memancing fitnah dan syahwat. Ironisnya hal itu malah didukung oleh pihak media. Bahkan pihak medialah yang telah mengajari masyarakat jadi hobi pamer dan menonton aurat. Hal itu juga bisa kita lihat dari sekian banyaknya produk yang diiklankan di televisi yang rata-rata berupa iklan komoditas pendukung pamer kemolekan tersebut.

Pada akhirnya tren berbusana juga mengarah pada nuansa pamer kemolekan dan kecantikan yang sebenarnya merupakan budaya Jahiliyah dahulu. Islam datang mengajarkan kesantunan, termasuk dalam berbusana yang lebih memberikan kesejukan suasana. Tetapi Barat merusaknya dengan menularkan budaya mereka melalui jaringan multimedia. Dengan bahasa "globalisasi" dan semacamnya, ukuran moralitas telah mereka belokkan ke arah penurutan libido dan ego. Maka istilah yang tidak Islami pun semacam "gaul" kian sering kita dapati di tengah masyarakat. Pengertian Istilah "modern"pun dibelokkan pada pergaulan bebas dan tren Barat.

 

Keempat, belakangan ini muncul joke-joke dalam komunikasi jejaring sosial yang berbau istilah-itilah agama tapi sebenarnya jauh dari mendidik. Contohnya adalah kidding-kidding dalam BBM, FB dan semacamnya yang "melibatkan" nama Tuhan, nabi, malaikat, pahala, siksa, surga dan neraka. Hal itu kita khawatirkan dapat mengganggu keimanan. Perihal akhirat yang serius dan harus dicemaskan seperti neraka, malah menjadi semacam hal-hal lucu yang ditertawakan. Bagaimana jika yang membaca adalah anak-anak kita atau orang-orang yang belum mendalam pengertian agamanya? Kita jangan sampai tergolong orang-orang yang masuk kategori mempermainkan agama.

 

Kita memang menolak keras ketika ada pencitraan buruk Islam di dunia Barat. Tetapi sayangnya, tanpa disadari, kita telah melakukan hal-hal yang sekilas terlihat remeh, tapi sebenarnya termasuk tindakan pendangkalan agama di tengah kehidupan sosial. Wal-'iyadzu billah.

 

Penyakit modern kelima yang tak kalah parah dan lebih memprihatinkan adalah maraknya perselingkuhan sebagai efek samping teknologi seluler. Dengan privasi yang makin leluasa, seseorang kerap terjebak dalam tindakan menyeleweng dan berselingkuh. Maraknya kasus perselingkuhan adalah fakta ironis yang mestinya kita perangi dengan pemahaman agama dan informasi moral yang efektif agar takwa bukan sekedar kata-kata di bibir saja!

 

Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy Tahun 2012

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

4 Responses

  1. Avatar

    umi fitria04/10/2013 at 06:48Reply

    betul jg sih…^_^

Leave a Reply