7:41 am - Tuesday December 9, 2014

Sulthan al-Fatih dan Kekuatan Dibalik Keperkasaannya

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

: لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
“Sungguh (pasti) Qasthanthiniyah (Konstantinopel) akan di taklukkan, maka sungguh sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan itu”

Banyak ulama yang berpendapat bahwa pemimpin yang dimaksudkan dalam hadits di atas ialah Sultan Muhammad II bin Sulthan Murad II al-‘Utsmani yang masyhur dengan sebutan “Al-Fatih” (w. 886 H). Beliaulah yang berhasil menaklukkan kota Konstantinopel dan mengubahnya menjadi pusat pemerintahan kekhilafahan ‘Utsmaniyah yang dikenal dengan “Islambul” (yang berarti Kota Islam), yang sekarang disebut “Istanbul”, di Turki. ‘Ulama menyebut bahwa ini adalah salah satu penghormatan kepada Sulthan Muhammad al-Fatih yang mana Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam telah mengkhabarkan tentang kedatangannya serta telah memujinya.

Sebenarnya sebelum beliau, telah banyak pemimpin Islam yang berusaha untuk menawan kota Konstantinopel, mereka berusaha memenuhi nubuat Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam :

  1. Gerakan pertama dilancarkan pada tahun 44 H yakni di masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan radliyallah ‘anh. Akan tetapi, usaha tersebut gagal dan Abu Ayyub al-Ansari yang merupakan salah seorang sahabat Nabi yang ikut dalam gerakan tersebut, namun syahid di pinggir kota Konstantinopel tersebut.
  2. Di zaman Sulaiman bin Abdul Malik, Khilafah Bani Umayyah telah menyiapkan pasukan elit untuk kembali mengepung kota tersebut pada tahun 98 H, tetapi masih belum diizinkan oleh Allah Ta’alaa untuk menaklukkannya.
  3. Di zaman pemerintahan Khilafah Abbasiyyah, beberapa usaha terus dilancarkan tetapi masih menemui kegagalan termasuk usaha di zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid tahun 190 H. Khalifah yang terkenal dengan kejayaannya, namun ternyata Allah Ta’alaa masih belum mengizinkannya.
  4. Setelah jatuhnya kota Baghdad tahun 656 H, usaha menaklukkan Konstantinopel tetap di lanjutkan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Minor (yakni Anatolia) terutamanya Kerajaan Seljuk. Pemimpin masyhurnya adalah Alp Arslan (455 – 465 H / 1063 – 1072 M) telah berhasil mengalahkan Raja Rum, Dimonos, pada tahun 463 H / 1070 M.
  5. Daulah Khilafah ‘Utsmaniyyah di awal ada ke 8 H / 14 M, telah mengadakan persepakatan bersama Seljuk Rum yang ketika itu berpusat di bandar Konya. Di zaman Sultan Yildrim Beyazid (w. 1402 M) beliau telah berhasil mengepung kota Konstantinopel pada tahun 796 H / 1393 M hingga memaksa Raja Byzantine menyerahkan Konstantinopel secara damai kepada umat Islam. Tetapi, usahanya itu menemui kegagalan karena tentara Mongol di bawah pimpinan Timurlank telah menyerang Daulah Khilafah ‘Utsmaniyyah dan telah memaksa Sultan Beyazid untuk menarik kembali tentaranya untuk mempertahankan daulah dari serangan Mongol. Namun, beliau telah ditawan.
  6. Kemudian Sultan Murad II (824-863 H / 1421-1451 M) melanjurkan usaha menaklukkan Konstantinopel, namun tidak berhasil hingga tibalah masa putra beliau yakni, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Khilafah Daulah ‘Utsmaniyyah.

Sultan Muhammad Al-Fatih menaiki tahta kekhilafahan pada tahun 855 H / 1451 M, dan kekuatan beliau banyak terletak pada ketinggian akhlaknya. Ini karena atas keprihatinan ayahnya, semenjak kecil beliau telah di didik secara intensif oleh para ulama terkenal di zamannya. Diantara gurunya adalah Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani (w. 893H), ulama yang disebut oleh Sultan al-Fatih sebagai “Abu Hanifah di Zamannya”. Beliau juga mempunyai hubungan yang baik dengan para ulama lain diantaranya ;

  1. Seorang Syaikh Thariqat Naqsyabandiyyah yakni al-Mulla ‘Abdur Rahman al-Jami (w. 898 H),
  2. Seorang pakar ilmu kalam, al-Qadhi Mustafa bin Yusuf yang masyhur dengan sebutan “Khawajah Zadah” (w. 893 H), yang telah menyusun kitab al-Tahafut atas perintah Sulthan al-Fatih, yakni kitab tentang kajian komperehensif antara kitab Tahafut al-Falasifah karya Imam al-Ghazali dan kitab Tahafut al-Hukama’ karya Ibn Rusyd,
  3. Seorang alim sufi, Syaikh Muhammad bin Hamzah yang masyhur dengan sebutan “Aq Syamsuddin” Ad-Dimasyqi Ar-Rumi, nasabnya bersambung kepada Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq radliyallah ‘anh.

Syaikh Aq Syamsuddin mengajar al-Fatih ilmu-ilmu pokok yakni Al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Linguistik (Arab, Parsi dan Turki) dan juga disiplin ilmu yang lain seperti Matematika, Falak, Sejarah, Ilmu Peperangan dan sebagainya. Syaikh Aq Syamsuddin telah berfirasat bahwa al-Fatih adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits tentang penaklukan Konstantinopel tersebut, lalu beliau memberikannya motivasi dan meyakinkannya. Ketika Al-Fatih menjadi Khalifah, Syaikh Aq Syamsuddin  segera menemui beliayu, kemudian menyiapkan bala tentara untuk menaklukkan Konstantinopel, demi merealisasikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallaml

Peperangan dahsyat berlangsung selama 54 hari. Sultan Muhammad Al-Fatih sangat menyayangi Syaikh Aq Syamsuddin dan mempunyai kedudukan yang istimewa pada diri baginda dan ini sangat jelas dinyatakan oleh beliau ketika futuhat Istanbul,

“…Sesungguhnya kalian melihat aku sangat gembira. Kegembiraanku ini bukanlah semata-mata karena keberhasilan menaklukkan kota ini, akan tetapi adalah karena hadirnya di sisiku Syaikh ku yang mulia, dialah pendidikku, Syaikh Aq Syamsuddin.”

Sebagaimana yang diketahui, kebanyakan ulama dalam Khilafah ‘Utsmaniyyah adalah bermadzhab Maturidiyyah dari segi akidah, bermazhab Hanafi dari segi fiqh dan merupakan ahli tasawuf. Didikan dan bimbingan yang diterima oleh Sultan Muhammad al-Fatih dari para ulama inilah yang merupakan rahasia kekuatan dan keberhasilan beliau. Sehingga Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam memberitakan tentang diri beliau serta memujinya ratusan tahun sebelum kemunculannya.

Fakta ini mungkin menyebabkan kumpulan “tajdid”  yang membenci aliran tradisi merasa kurang senang. Maka kadang cara membantahnya mereka adalah mengatakan bahwa hadits ini adalah dla’if ! Bagaimana mereka bisa membantah jika banyak ulama yang menyatakan bahwa hadits tersebut tsabit dari Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam.

HIKMAH YANG BISA DIPETIK :

  • Untuk menjadi pribadi yang tangguh diperlukan ketekunan dalam menuntut ilmu, kepribadian yang berakhlak serta penguasaan berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat.
  • Bagaimana pun ‘ulama adalah kekuatan umat Islam, mereka adalah pewaris Nabi yang seharusnya berada di garda terdepan dalam membawa kejayaan Islam, dalam mendidik generasi muda menjadi pemuda yang berpribadian Islam. Sebab bagaimana pun semangat seorang pemuda tanpa bimbingan ulaman niscaya akan tersesat dan salah arah.
  • Tidak selayaknya umat Islam mencela kaum Sufi yang lurus, Ahli Kalam yang lurus, serta thariqat-thariqat lain, sebab kebanyakan merekalah yang banyak memperjuangkan Islam. Maka sangat disayangkan kaum pencela yang gencar dimasa kini yang banyak mencela sufi.
  • Demikian juga tidak sepatutnya mencela Aqidah Maturidiyah yang merupakan aqidah ahlussunnah, juga Asy’ariyah yang banyak di pegang oleh mayoritas umat Islam. Sebab Maturidi lah aqidah al-Fatih dan Asy’ariyah aqidah Shalahuddin al-Ayyubi. Kenapa kalian cela wahai pencela ?!!
  • Pemuda-pemudi Islam hendaknya menyibukkan diri dengan ilmu tanpa meninggalkan akhlakul karimah, dan berhati-hati dalam menuntut ilmu yakni kenali ahlussunnah wal jama’ah dengan benar, agar tidak keliru.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
image_pdfimage_print

Filed in: Kisah Hikayat, Tokoh

One Response to “Sulthan al-Fatih dan Kekuatan Dibalik Keperkasaannya”

  1. 09/01/2014 at 12:56 #

    Sultan Muhammad AL-Fatih

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


+ 7 = 13