4:58 pm - Saturday September 20, 2014

Misi Wahabi Dibalik Tayangan “Hadits-Hadits Palsu” di RCTI

hadits-palsu-rcti-okjpgSeharusnya seluruh tayangan di televisi harus bersifat mendidik serta memberi pencerahan kepada pemirsanya. Selain dua faktor di atas, konten tayangan pun harus bersifat objektif dan jauh dari kesan subjektif dan memojokkan salah satu kelompok/pihak. Terlebih bila itu tayangan yang berbau agama layaknya ‘Khazanah Tran7 dan khususnya Hadist-Hadist Palsu’ yang ditayangkan setiap hari selama bulan Ramadhan 1434 H di RCTI.

Selama ini hampir tak ada masalah dengan tayangan tersebut. Di tengah kekeringan umat akan tayangan agama yang bersifat mendidik dan juga menghibur, “Khazanah Tran7 atau Hadist-Hadist Palsu” datang menyapa umat dan memberikan pencerahan pada umat islam.

Namun menyimak tayangan RCTI bertajuk “Hadist-hadist palsu”, kalau tidak salah ingat pada hari ke-6 puasa kesan mendidik dan memberikan pencerahan terhadap umat menjadi hilang seketika. Alih-alih objektif tayangan “Hadist-Hadist Palsu” dengan judul tersebut justru terkesan melemahkan semangat umat islam dalam beribadah dan beramal shalih.

Hadist-hadist palsu merupakan tayangan dan program RCTI yang katanya mengungkap hadist-hadist lemah dan palsu yang tersebar dan populer di masyarakat, namun betulkah demikian realitasnya ?

Dalam judul program diatas jelas “Hadits-Hadits Palsu” (Maudhu’), tapi kenapa memasukkan di dalam tayangannya tentang hadits dho’if (Lemah). Padahal beda atara Dho’if dan Maudhu’ (lemah dan palsu).

Hadits Dhoif adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shohih atau hadits hasan. Hadits Dho’if banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak dipenuhinya.

Hadits Maudhu’: adalah hadits yang diciptakan oleh seorang pendusta yang ciptaan itu mereka katakan bahwa itu adalah sabda Nabi SAW, baik hal itu disengaja maupun tidak.

Kata Dho’if di ambil dari kata dhu’fu atau dha’fu (Lemah) yang merupakan isim sifat dhifa yang berarti lawan dari kata (quwwah)kuat. Secara terminology hadist dhoif yaitu hadist yang tidak memiliki shifat “hasan” dah jauh dari “shahih”. Secara spesifik Hadis Dhaif adalah Setiap hadis yang tidak terhimpun padanya semua syarat hadis sahhih dan tidak pula semua syarat hadis Hassan. (Al-manhal ar-Rawiy (ms/38);Muqadimatu Ibni Ash-Shalah (ms/20); Irsyad Thullab Al-Haqaiq (1/153)

Pendapat Tentang Hadist Dho’if :

1. Syeikh Al-Qasimi : Refrensi dari kitab ’Uyun al-athar dan Fathul Mughis, di dalam kitabnya beliau berkata “Diceritakan oleh Ibnu Sayyid al-Nas didalam kitab ’Uyun al-athar dari Yahya Bin Mu’in dan dinisbahkan pula didalam karya Abi Bakr Ibni Arabi “Secara zahirnya sesungguhnya mazhab al-bukhari, Muslim mengatakan : “Tidak boleh beramal dengan mengunakan hadis Dha’if’’.

2. Syeikh Ali al-Qari : kitab Al-Maraqah jilid 2 ms/381, didalam kitab Al-Maraqah jilid 2 ms/381. Beliau berkata : “Sesungguhnya hadis Dhaif ini “boleh” diamalkan didalam perkara-perkara yang tergolong dalam amalan-amalan tambahan(fadail amal),dan sesungguhnya perkara itu merupakan hasil ijmak ulama yang sebagaimana telah dikatakan oleh Imam nawawi.Namun,yang dimaksudkan itu (fadhail a’mal) disini adalah amalan-amalan yang sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ’’

3. Ahmad bin hambal, Abdullah bin al Mubarak berkata: “Apabila kami meriwayatkan hadits tentang halal, haram dan hukum-hukum, kami perkeras sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa kami permudah dan kami perlunak rawi-rawinya.”

4. Ibnu Hajar Al Asqalany: ” Membolehkan berhujjah dengan hadits dhoif untuk fadla’ilul amal dalam 3 syarat, yaitu:
a. Syarat yang pertama : Hadits dhoif itu tidak dilebih-lebihkan. Oleh karena itu, untuk hadits-hadits dhoif yang disebabkan rawinya pendusta, tertuduh dusta, dan banyak salah, tidak dapat dibuat hujjah kendatipun untuk fadla’ilul amal.
b. Syarat yang kedua : Dasar amal yang ditunjuk oleh hadits dhoif tersebut, masih dibawah satu dasar yang dibenarkan oleh hadits yang dapat diamalkan (shahih dan hasan)
c. Syarat yang ketiga : Dalam mengamalkannya tidak mengitikadkan atau menekankan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber kepada nabi, tetapi tujuan mengamalkannya hanya semata mata untuk ikhtiyath (hati-hati) belaka.

5. Pendapat Imam An-Nawawi Di-Syarah Arbain : Jumhur Ulama telah sepakat membolehkan mengamalkan Hadits Dhaif Untuk Keutamaan-Keutamaan Amal(fadhailul-A’mal)

Untuk mengkritisi kenapa tayangan “Hadits-Hadits Palsu” RCTI itu tidak obyektif salah satu buktinya adalah ketika narator menjelaskan tentang, “Beramallah untuk duniamu seolah-olah Anda akan hidup selama-lamanya! Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah Anda akan meninggal dunia esok hari!” itu adalah sebuah maqolah dan bukan hadits.

Padahal salah satu ulama kondang WAHABI membahas tentang hadits dimaksud dengan menyatakan DHO’IF (lemah) bukan MAUDHU’ (palsu), sebagaimana penjelasan albani berikut ini:

” اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا , و اعمل لآخرتك كأنك تموت غدا ” .

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 63 ) : لا أصل له مرفوعا . و إن اشتهر على الألسنة في الأزمنة المتأخرة حتى إن الشيخ عبد الكريم العامري الغزي لم يورده في كتابه ” الجد الحثيث في بيان ما ليس بحديث ” .

و قد وجدت له أصلا موقوفا , رواه ابن قتيبة في ” غريب الحديث ” ( 1 / 46 / 2 )
حدثني السجستاني حدثنا الأصمعي عن حماد بن سلمة عن عبيد الله بن العيزار عن ‏عبد الله بن عمرو‏أنه قال : فذكره موقوفا عليه إلا أنه قال : ” احرث لدنياك ” إلخ . و عبيد الله بن العيزار لم أجد من ترجمه .

ثم وقفت عليها في “‏تاريخ البخاري ” ( 3 / 394 ) و ” الجرح و التعديل ” ( 2 / 2
/ 330 ) بدلالة بعض أفاضل المكيين نقلا عن تعليق للعلامة الشيخ عبد الرحمن
المعلمي اليماني رحمه الله تعالى و فيها يتبين أن الرجل وثقه يحيي بن سعيد القطان و أنه يروي عن الحسن البصري و غيره من التابعين فالإسناد منقطع .
و يؤكده أنني رأيت الحديث في ” زوائد مسند الحارث ” للهيثمي ( ق 130 / 2 ) من طريق أخرى عن ابن العيزار قال : لقيت شيخا بالرمل من الأعراب كبيرا فقلت : لقيت أحدا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ? فقال : نعم , فقلت : من ? فقال : عبد الله بن عمرو بن العاص ….

ثم رأيت ابن حبان قد أورده في ” ثقات أتباع التابعين ” ( 7 / 148 ) . و رواه ابن المبارك في ” الزهد ” من طريق آخر فقال ( 218 / 2 ) : أنبأنا محمد ابن عجلان عبد الله بن عمرو بن العاص قال : فذكره موقوفا , و هذا منقطع و قد روي مرفوعا , أخرجه البيهقي في سننه ( 3 / 19 ) من طريق أبي صالح حدثنا الليث عن ابن عجلان عن مولى لعمر بن عبد العزيز عن عبد الله بن عمرو بن العاص عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : فذكره في تمام حديث أوله : ” إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق , و لا تبغض إلى نفسك عبادة ربك , فإن المنبت لا سفرا قطع و لا ظهرا أبقى , فاعمل عمل امريء يظن أن لن يموت أبدا , و احذر حذر ( امريء ) يخشى أن يموت غدا ” .

و هذا سند ضعيف و له علتان جهالة مولى عمر بن عبد العزيز و ضعف أبي صالح و هو عبد الله بن صالح كاتب الليث كما تقدم في الحديث ( 6 ) . ثم إن هذا السياق ليس نصا في أن العمل المذكور فيه هو العمل للدنيا , بل الظاهر منه أنه يعني العمل للآخرة , و الغرض منه الحض على الاستمرار برفق في العمل الصالح و عدم الانقطاع عنه , فهو كقوله صلى الله عليه وسلم : ” أحب الأعمال إلى الله أدومها و إن قل ” متفق عليه والله أعلم .

هذا و النصف الأول من حديث ابن عمرو رواه البزار [ 1 / 57 / 74 ـ كشف الأستار] من حديث جابر , قال الهيثمي في ” مجمع الزوائد ” ( 1 / 62 ) : و فيه يحيى بن المتوكل أبو عقيل و هو كذاب . قلت : و من طريقه رواه أبو الشيخ ابن حيان في كتابه ” الأمثال ” ( رقم 229 ) .

لكن يغني عنه قوله صلى الله عليه وسلم : ” إن هذا الدين يسر , و لن يشاد هذا الدين أحد إلا غلبه , فسددوا و قاربوا و أبشروا … ” أخرجه البخاري في صحيحه من حديث أبي هريرة مرفوعا.

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=23897

_________________________________________
اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

“Beramallah untuk duniamu seolah-olah Anda akan hidup selama-lamanya! Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah Anda akan meninggal dunia esok hari!”

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata dalam kitabnya “Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah” jilid pertama halaman 63-65, hadits nomor 8 :

Riwayat Hadits ini secara marfu’ tidak ada asal-usulnya, walaupun hadits ini sangat terkenal di kalangan kaum muslimin terlebih pada zaman terakhir saat ini, sampai-sampai Syaikh Abdul Karim al-Amiri al-Ghazzi tidak mencantumkan hadits ini dalam kitabnya“al-Jadd al-Hatsits fii Bayaani Maa Laisa Bihadits”.

Saya telah menemukan asal hadits ini secara mauquf. Ibnu Qutaibah meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya “Gharibul Hadits” (1/46/2) : “as-Sijistani telah menceritakan sebuah hadits kepadaku, al-Asmu’i telah menceritakan sebuah hadits kepada kami, dari Hammad bin Salamah dari Ubaidillah bin al-‘Iizar dari Abdullah bin ‘Amru, sesungguhnya ia telah berkata : ..(kemudian ia menyebutkan hadits ini secara mauquf sampai kepada Abdullah bin ‘Amru, hanya saja lafadz hadits ini berbunyi, “Tanamlah untuk duniamu…..hingga akhir hadits.)

Adapun Ubaidillah bin al-‘Iizar, maka saya belum mendapatkan biografinya.

Kemudian saya mendapatkan biografinya dalam kitab “Tarikh al-Bukhari” (3/394) dan dalam kitab “al-Jarh wat Ta’dil” (2/330) atas petunjuk beberapa orang ahli ilmu yang tinggal di Mekkah. Mereka menukil komentar al-‘Allamah Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi al-Yamani rahimahullah. Ternyata orang ini (Ubaidillah bin al-‘Iizar) dianggap tsiqah oleh Yahya bin Said al-Qaththan, dan ia meriwayatkan hadits dari al-Hasan al-Bashri dan ulama lainnya dari kalangan tabi’in. Dengan demikian maka sanad hadits ini munqathi’ (terputus).

Hal ini diperkuat lagi ketika saya menemukan hadits ini dalam kitab “Zawaid Musnad al-Harits” karya al-Haitsami (Qaf 130/2) dari jalur sanad yang lain dari Ahmad Ubaidillah Zenh) bin al-‘Iizar, ia berkata, “Saya pernah bertemu dengan seorang syaikh yang sudah tua dari kalangan orang arab badui di suatu tempat yang bernama ar-Raml. Aku bertanya kepadanya, “Apakah Anda pernah bertemu dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Siapa?” Ia menjawab, “Abdullah bin ‘Amru bin al-Ash…”

Kemudian saya mendapati bahwa Ibnu Hibban telah menyebutkan nama Ubaidillah bin al-‘Iizar dalam kelompok “Tsiqat Atba’ut Tabi’in” (7/148).

Ibnul Mubarak juga meriwayatkan hadits ini dalam kitab “az-Zuhd” dari jalur sanad yang lain. Beliau (Ibnul Mubarak) berkata (2/218), “Muhammad bin ‘Ajlan telah mengabarkan kepada kami bahwa Abdullah bin ‘Amru bin al-Ash berkata, “….(kemudian beliau menyebutkan hadits ini secara mauquf). Maka sanad hadits ini pun munqathi’ (terputus).

Hadits ini juga diriwayatkan secara marfu. Al-Baihaqi mentakhrij hadits ini dalam kitab “Sunan al-Baihaqi” (3/19) dari jalur sanad Abu Shalih, ia berkata, “al-Laits telah menceritakan suatu hadits kepada kami dari Ibnu ‘Ajlan dari seorang maula (budak yang telah dimerdekakan) Umar bin Abdul Aziz dari Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa sesungguhnya beliau pernah bersabda, “…” (kemudian dia menyebutkan hadits ini dengan redaksi yang lebih sempurna. Bunyi awal hadits ini :

إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق ، و لا تبغض إلى نفسك عبادة ربك ، فإن المنبت لا سفرا قطع و لا ظهرا أبقى ، فاعمل عمل امريء يظن أن لن يموت أبدا ، و احذر حذر ( امريء ) يخشى أن يموت غدا

“Sesungguhnya agama Islam ini adalah agama yang kokoh dan kuat, maka masuklah ke dalamnya dengan kelemahlembutan. Dan janganlah Anda menbenci untuk diri Anda ibadah kepada Allah. Karena sesungguhnya orang yang kekelahan, ia tidak dapat menempuh perjalanan dan tidak pula meninggalkan punggung hewan tunggangannya. Maka beramallah seperti amalnya seseorang yang meyakini bahwa ia tidak akan meninggal dunia untuk selamanya! Dan berhati-hatilah seperti kehati-hatiannya seseorang yang khawatir akan meninggal dunia esok hari.”

Sanad hadits ini juga dha’if (lemah) karena di dalam sanadnya terdapat dua ‘illat (sebab yang dapat melemahkan hadits). (Pertama) kemajhulan maula (budak yang telah dimerdekakan) Umar bin Abdul Aziz dan (ke dua) kelemahan Abu Shalih yang nama lengkapnya adalah Abdullah bin Shalih juru tulis al-Laits.

Kemudian, redaksi hadits di atas tidak menjadi nash yang menunjukkan bahwa amal yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah amal untuk dunia, bahkan sebaliknya, dhahir hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah amal untuk akhirat. Tujuan dari hadits ini adalah anjuran untuk senantiasa konsisten dalam beramal shalih secara bertahap sedikit demi sedikit tanpa terputus. Makna hadits ini sesuai dengan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling konsisten dilakukan secara terus-menerus tanpa terputus meskipun amal itu sedikit.” Wallahu a’lam.

Bagian pertama dari hadits (Abdullah) Ibnu ‘Amru diriwayatkan oleh al-Bazzar (1/57/74 – Kasyful Astar) dari hadits Jabir. Al-Haitsami berkata dalam kitab “Majma az-Zawa’id” (1/62), “Dalam sanad hadits ini terdapat seorang rawi yang bernama Yahya bin al-Mutawakkil Abu ‘Uqail. Dia adalah seorang pendusta.”

Aku (al-Albani) berkata, “Hadits dengan sanad ini diriwayatkan pula oleh Abu asy-Syaikh dalam kitabnya “al-Amtsal” (nomor 229). Akan tetapi hadits (shahih) berikut ini telah cukup (untuk kita pegang daripada hadits di atas), yaitu sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

إن هذا الدين يسر ، ولن يشاد هذا الدين أحد إلا غلبه ، فسددوا وقاربوا وأبشروا ….

“Sesungguhnya agama (Islam) ini mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama ini dengan cara memaksakan dirinya untuk melakukan ibadah-ibadah yang tidak sanggup ia lakukan, melainkan agama ini akan mengembalikannya ke jalan kemudahan dan pertengahan. Maka hendaklah kalian beramal secara proporsional (pertengahan) dan berusahalah menyempurnakan amal ibadah secara optimal dan berikanlah kabar gembira…

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah secara marfu’. (terjemahan link diatas)

Maka wajar bila publik beranggapan bahwa ada “sesuatu” yang menunggangi tayangan “Hadits-Hadits Palsu” RCTI, sehingga memberi kesan tendensius, subjektif dan memojokkan salah satu kelompok yang mengamalkan hadits dho’if untuk semangat beribadah dan amal shaleh. Dan “sesuatu itu ialah “Wahabi”.

Mengapa “wahabi”? Publik punya penilaian sendiri. Selama ini dakwah yang dilontarkan oleh para penganut aliran “wahabi”-lah yang sering melemparkan panah-panah beracun terhadap amaliyah yang sedari dahulu telah dijalankan umat islam pada umumnya “Panah-panah” semacam “syirik, kufur, bid’ah, dho’if” bertebaran di situs-situs yang mengusung paham wahabi. Dan panah itu justru tanpa rasa intoleran menacap di ulu hati para pengamal “Fadhoil al-A’mal” dan semisalnya.

Terlepas dari “sesuatu” bernama wahabi di balik tayangan “Hadits-Hadits Palsu”, maka sewajarnya suatu tayangan agama lebih berimbang dalam menyajikan suatu opini. Sehingga tayangan agama tersebut benar-benar memberi pencerahan terhadap umat, dan bukan keresahan serta pendangkalan materi. Gitu aja koq repot! Wallahu a’lam bish-Shawab dan semoga bermanfa’at. Aamiin

(Oleh: KH. Ibnu Mas'ud, Anggota Laskar Tim Sarkub)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: Bantahan, Firqoh

32 Responses to “Misi Wahabi Dibalik Tayangan “Hadits-Hadits Palsu” di RCTI”

  1. 21/07/2013 at 21:55 #

    Sudah pasti oknum NU yang terdepan menghambat dakwah islam.

  2. andika
    21/07/2013 at 22:36 #

    selama ini yang saya pantau…tayangan itu blom menyinggung masalah Furuiyah seperti khazanah trans TV,,,,,apalagi KH Ali Mustafa yaqub…penganut Bid’ah hasanah….

  3. abangdoli
    22/07/2013 at 12:04 #

    Wahabi dari mana pak Kiyai..??? Lha wong yg ngisi Kiyai NU jg kok..?? Beliau kan Rais Syuriah PBNU..alumni tebu ireng pula.. jadi lucu saya baca artikel ini..

    • 26/07/2013 at 08:11 #

      Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, benar sekali kata bang doli. Beliau juga guru hadis saya selama 6 tahun, beliau NU tulen. Dan Ustadz Lc yang lainnya juga guru saya, NU. Terlalu jauh mengatakan itu acara wahabi. Hebat sekali wahabi ngaji hadis, semestinya kajian hadis dikuasai oleh aswaja, bukan diidentikkan dengan wahabi, terlalu jauh.

  4. senyum
    22/07/2013 at 16:01 #

    jiaaaaah….apa2 wahabi, apa2 wahabi ……coba teliti lagi om kub

  5. 22/07/2013 at 17:34 #

    abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
    –=
    =’lkk
    ‘[[l
    .,/
    uhuk – uhuk kebakaran cepet – cepet dipadamin

  6. dalijo
    22/07/2013 at 23:00 #

    …sebenarnay ada apa to..

    sampai segitunya….ya ap emang di seting saling menjatuhkan…wahabi salafi…gak syiah aja skalian ap ldii ahmadiayah biar seru tumpah darah sekalian tanggung amat sih..oay ajak sekalian fpi maklum mas dab orang awam

  7. lakone wonk cepoe
    23/07/2013 at 15:51 #

    utk kelompok wahabiyun cs,kta harus sering2 suudzon.bgmn tdk mukanyaja gada yg adem n miskin seni,tiap hari hiburanya cuma liat onta arab doang smbl ngomong ya hareem2 kawin misyar nyok!

  8. 24/07/2013 at 03:32 #

    insyaAllah di tinjau terus pak kyai.. Allahu Akbar

  9. alex
    24/07/2013 at 21:59 #

    situs ini asal2an

  10. alex
    24/07/2013 at 22:09 #

    hahahahhaa…..ada yg merah telinganya

  11. alex
    24/07/2013 at 22:11 #

    kub….sarkub…..

  12. Pencariilmu
    25/07/2013 at 06:11 #

    Sudah saatnya ya…Umat Islam yg menganut kebanyakan mengenal Hadist2 yg jarang disampaikan Kyai2 atau para Ulama, kok takut dengan kebenaran sih Blog ini…takut kehilangan rezeki? spt dalam ayat2 Al Qur’an “Tidak meminta Upah dalam berdakwah”
    balasannya dari ALLAH(upah) , memang yg saya tahu di bulan ramadhan spt ini para ……….arep2 kebanjiran amplop (isine)

    • Mas Derajad
      27/07/2013 at 10:28 #

      Bismillahirrahmanirrahim

      @Pencariilmu :

      Saudara mengatakan takut kehilangan rizqi ? Siapa yang mengatur rizqi ? Sebaiknya tidak su-udzon. Artikel diatas jelas menyampaikan bahwa kita tidak sembarangan berasumsi Hadits Dhaif=Hadits Palsu. Ini untuk mengkritisi, acara di RCTI yang mengambil judul “Hadits-hadits Palsu ?”

      Jadi jangan dibawa kepada hal lain yang keluar konteks.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  13. 25/07/2013 at 08:52 #

    ha ha ha…. maksud kamu apa lex hi hi hi

  14. shiyam
    26/07/2013 at 00:22 #

    pada tayangan Hadist palsu tentang masalah perhiasan/cincin untuk laki2..KH Ali Musthofa Ya’qub sudah pernah membahas tentang perbedaan hadis dhoif dan maudhu’, terlebih kan narasumbernya pasti….(KH. Ali Musthofa Ya’qub), jd kiranya kita berchusnudzonlah pd beliau dan tayangan Hadist Palsu..
    Kang….TRI MURTI NU (Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri) adalah tokoh2 yg mengutamakan kedamaian (Rahmatan Lil ‘Alamin)..Islam bkn di ajarkan dg kekerasan..ko kesannya kayak ormas yg sering grebak grebek wkt ramadlan…
    saran saya utk Situs ini…
    1. Jika situs ini yg pny orang2 beraliran NU, tlg jgn trll menghina dan merendahkan aliran lain…yg disebut AHLI SUNNAH WAL JAMA’Ah oleh Nabi hanya (maa ana ‘alaihi wa ash habih), Nabi tdk prnh menyebutkan siapa itu yg termasuk Ahlussunah…apakah itu sunni, syiah, murjiah, khowarij, NU, MTA, Muhammadiyah, LDII, de el el
    2. Islam terutama NU kan jelas lebih mengutamakan perdamaian, Gus Dur aja pernah ngendiko Islam NU itu bukan Islam Pethenthengan..
    3. jIka kita (NU) tdk mau masjid di kampung2 diambil oleh aliran lain, ya…di isi…jama’ah yasin tahli, muslimatan, diba’iyah, tawasulan, mauludan ya dillaskanakan scr istiqomah…(Coba dengar ceramah KH. Marzuki Mustamar ketika Haul PPBU Tambak Beras Jombang), salah satunyg menyebabkan santri gampang menjadi santri Mursal adalah krn Kyainya kurang bisa menjadi Kyai seutuhnya, Banyak yg cenderung senang mengejar harta daripada mengajar santri, Santri ga patio di gatekno).
    4. Bukannya mencoba menggurui…jk masih seperti ini terus, NU akan terkesan otoriter, penuh kedengkian tidak Rahmatan Lil ‘Alamin..
    5. bilamana ada sesuatu yg mgkn berbeda, jgn trlalu Lebay menanggapinya..LANAA A’ MAALUNAA WA LAKUM A’ MAALUKUM
    6. kalo org jawa timur bilang JANCUK (JAngan COba-coba Usik Kami)
    Sekali Lagi Bukan berniat menggurui, hanya sbg org NU, saya cenderung kurang setuju dengan situs ini dalam menanggapi suatu permasalahan, sekali lg MAAF…
    ALMUHAAFADHOTU ‘ALAL QODIMISH SHOLIH WAL AKHDZU BIL JADIDIL ASHLAH
    PMII bilang…yg penting DZIKIRM FIKIR, AMAL SHOLEH

    • Mas Derajad
      27/07/2013 at 10:47 #

      Bismillahirrahmanirrahim,

      @shiyam

      Saudaraku, jika memang saudara Warga Nahdhiyin tentunya saudara memahami dinamikadidalam Jam’iyyah NU. Perbedaan itu sunatullah, dan kita harus menyikapinya dengan baik. Dalam tubuh NU perbedaan tidak jarang terjadi antara beberapa masayikh, ulama dan pemimpinnya, tapi dalam kapasitas kedudukan beliau dalam mengambil sumber hukum. Ini tidak bisa dipungkiri. Namun dalam jam’iyyah yang besar ini pula selalu ada sikap tasamuh, tawazun, dan tawadu’ antara beliau. Kita harus memahami dinamika tersebut.

      Berkaitan dengan artikel diatas, saya membacanya lebih kepada pemahaman kepada umat Islam terutama yang masih awam, agar tidak terjerumus pemahamannya kepada menyamakan antara hadits dhaif dan hadits maudu’. Hal ini penting karena seringnya dihembuskan oleh kelompok Wahabi yahg sekarang berubah-ubah namanya menjadi Salafi dll, yang mempermasalahkan amaliah Warga Nahdiyin dengan memvonis sebagai Ahli Bid’ah, Khurafat dan lain-lain.

      Jadi jika memang saudara Warga Nahdiyin, berfikirlah lebih terbuka atas perbedaan pandangan dalam tubuh NU sendiri. Dan situs ini mengungkap fakta tentang pemahaman kelompok sempalan Wahabi ini dengan nyata. Lihat saja situs-situs mereka sudah banyak merancukan kaum awam dalam Islam. Coba baca juga di Situs NU online http://www.nu.or.id, para Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di bagian Dakwahnya juga mulai mengambil langkah untuk memperkuat Dakwah di bagian IT, sampai mengumpulkan beberapa ahli khusus untuk memperkuat hal ini. Apa sebab ? Karena masyarakat Islam masa sekarang lebih suka ngaji di Syaikh Al Google, Al Yahoo, Al Bing dls. :D Padahal ngaji di Internet jika tidak dibarengi ngaji offline ke ulama sangat berbahaya. Sudah sering para Masayikh, semisal Ketua Umum PBNU mengatakan selangkah lagi Salafi Wahabi pasti jadi Teroris.

      Wallahu a’lam

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  15. 29/07/2013 at 13:53 #

    laa hawla walaa quwwata illa billah… sungguh, mengapa sungguh tega… saat ini bukannya kita bersatu untuk menghancurkan kebathilan dan satu suara atas kebathilan, malah saling menyebarkan rasa was2 kepada saudara kita yang awam.. apa maksudnya tulisan diatas??? padahal saat ini, saudara2 kita di syiria disembelih oleh orang yang mengaku muslim (syi’ah/ rofidhoh)…… yaa Allah, matikanlah aku diatas agama islam dan sunnah….

  16. 30/07/2013 at 04:01 #

    ya begini ini, orang yang ndak tau apa-apa tapi maksa nulis.. dirinya sudah dipenuhi kebencian, dibutakan kebencian, ga bisa berpikir jerniih :D

  17. 30/07/2013 at 10:29 #

    memang betul saudaraq Ainul rofiq al rofiq, sekarang ini memang ironis, ggak jauh2 ke suriah disekitar kita saja kalo saudara cermat banyak yang menggembar-gemborkan ukhuwah/persatuan, kembali ke qur’an hadits akan tetapi dia sendiri ibarat kuman di seberang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata tidak tampak. dan banyak yag sudah dicuci otak oleh orang2 yang mengaku kembali ke qur’an, hadits. tapi semua hanya kapas.

    dan untuk saudaraq ahmad fatiq

    pertanyaan saudara sudah basi, silahkan cari sendiri jawabannya di situs ini juga, kalo ggak ketemu kontak saya

    salam ukhuwah dan maqbulan puasa kita

  18. 30/07/2013 at 11:06 #

    hati2 dengan orang2 munafiq zaman rosulullah sudah ada, menggembar-gemborkan ukhuwah tapi kenyataannya menjatuhkan, mencela, mengkafirkan, dan memberi lebel/merk kepada sesama muslim dengan dengan hal yang tidak pantas apabila tidak sependapat/ mengikuti pendapat mereka, merekalah yang nyata2 memecah belah umat.

  19. kusmanta
    31/07/2013 at 09:02 #

    Assalamu’alaikum wa rahmtullahi wa barakatuh SARKUB and team. Sudah lama saya tidak mampir, SARKUB it’s OK. Alhamdulillah wa Syukrurillah, aska sholati wa salami li Rosulillah

  20. 31/07/2013 at 09:46 #

    cak yud
    Haduuh sarkub ini benar2 sarang kuburan, otaknya di penuhi nafsu dendam dan emosi. Kayak sarkub koq dakwah santun dan sejuk. NGAPUSI !!! mending istighfar dan intropeksi diri. Oalah kang sarkub, nauzubillahimindzalik

    buat saudaraq cak yud apa ggak kebalik tuh, yang saudara tuduhkan kepada kami, yang emosi jelas saudara kok ya kan ngaku aja.. he he..
    siapa yang menuduh ?
    siapa yang memfitnah ?
    siapa yang tukang provokasi ?
    siapa yang ngapusi ?
    bukannya saudara dan temen2

    ggak usah saudara perintah jg kami insya allah sudah istighfar dan interopeksi,
    tp bagaimana dengan saudara dan teman yang tiap hari mungkin hanya berfikir dan bermusyawarah tentang bagaimana cara agar amalan2 kami dianggap salah, nauzu wa ahli wa dzurriyyati wa furuu’i wa ashabi billahi mindzalik.
    oalah cak yud2 dah gosok gigi belum he he he …

  21. 21/08/2013 at 20:00 #

    senengane nge ‘wahabi2′ kan orang lain, yen diarani ‘kafir’ genti ra gelem…. mbok ra sah ngarani. diarani terus mbales ngarani. Sooooooooo CHILDISH………….

  22. muawiyah
    01/09/2013 at 16:41 #

    mereka kalau ditanya apa itu wahabi?pasti tidak tahu,dan saya jamin 1000% bahwa pemilik blog ini tidak pernah baca buku nya syech Muhammad bin Abdul Wahhab….mereka taqlid buta pada para dukun2 dan hanya percaya apa kata dukun mereka

  23. ngakak
    18/09/2013 at 17:19 #

    masa mau komen aja mesti ngisi jimat om… wkwkkwkw
    wduh gimana nih,,, syirikah saya?

  24. 22/03/2014 at 23:37 #

    Baca berulang kali, mungkin saya yang terlalu bodoh memahami tujuan si penulis menulis artikel ini.

  25. 09/05/2014 at 13:26 #

    Kalau saya mah, lebih baik meninggalkan hal-hal yang dapat menimbulkan pertengkaran, dengan jalan menjalankan amal-amal yang pasti saja, yang landasannya disepakati shahihnya oleh para ulama ahli hadits, seperti pertanyaan seorang Arab badui kepada Rasulullah saw tentang kewajiban apa saja yang harus dilakukan oleh Arab badui tersebut, lalu Rasulullah menjelaskan tentang sholat wajib lima waktu puasa dan hajji, zakat, tanpa menekankan amalan-amalan sunnat yang mengikutinya, kemudian arab badui tersebut mengatakan dia tidak akan melebihi itusemua dia memenuhi apa yang diwajibkan kepadanya saja, maka Nabi saw mengatakan;" Kalau dia benar dia masuk syurga;" Dalam hal ini kalau kita tidak melakukan amalan yang dalilnya menjadi perdebatan toh gak haramkan?, menurut pilihan saya, beramal sedikit tapi pasti dalilnya itu lebih selamat, Namun kalau mau dengan amalan tambahan juga tetap dilandasi dengan dalil yang pasti dari pada seumur hidup bertengkar terus, karena pertengkaran yang terjadi dewasa ini adalah memang dimulai oleh semua fihak, bukan oleh satu fihak saja. apakah kita tidak dapat mengambil pelajaran ini.

  26. Herman Hartanto
    17/09/2014 at 10:55 #

    Jangan dikit2 nuduh wahabi lah…kaya org syiah aja…

Trackbacks/Pingbacks

  1. Seto Setiawan Blog | Misi Wahabi Dibalik Tayangan “Hadits-Hadits Palsu” di RCTI - 21/07/2013

    [...] Thariqat Sarkubiyah [...]

  2. Misi Wahabi Dibalik Tayangan “Hadits-Hadits Palsu” di RCTI | Dakwah Center Islam Salafiyah Jakarta - 21/07/2013

    [...] di: http://www.sarkub.com/2013/misi-wahabi-dibalik-tayangan-hadits-hadits-palsu-di-rcti/#ixzz2ZdwwHcza Salam Aswaja by Tim Menyan United Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on [...]

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


× 3 = 27