2:11 pm - Sunday September 23, 4012

Fanatik Buta, Wahabi Merampas Tongkat Khatib Jum’at

Wahabi Stres Mencoba Hentikan Azan Pertama dan merampas Tongkat Khatib Jum'at.

rampas tongkat khotib jum'at

Suka Makmue – Tiga jamaah shalat Jumat yang terdiri seorang ayah bersama dua anaknya mengamuk di Masjid Baitul Qudus, Desa Keudee Seumot, Ulee Jalan, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh, pada saat pelaksanaan shalat Jumat (17/5/2013). Ayah dan anak ini sempat menggagalkan kumandang azan pertama dan kemudian merampas tongkat khatib saat berkhutbah.

Menurut informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, sang ayah berinisial H IB beserta dua anaknya, yaitu Ar dan Ir. Ketiganya merupakan jamaah shalat Jumat di Masjid Baitul Qudus, kemarin.

Ketenangan di dalam masjid mendadak ricuh ketika muazin (bilal) bernama Tgk Ali Hasyimi mengumandangkan azan pertama. Tiba-tiba seorang jamaah berinisial H IB bangun dan merebut mikrofon yang digunakan Tgk Ali Hasyimi. Aksi menghentikan azan itu dibantu oleh dua Ar dan Ir yang tak lain adalah putra dari H IB. Pakaian yang dikenakan Tgk Ali Hasyimi putus kancingnya akibat serangan mendadak itu. Untungnya, sejumlah jamaah lain cepat melerai sehingga tak sempat terjadi baku hantam.

Tgk Ali Hasyimi berusaha melanjutkan kumandang azan yang terputus. Namun, lagi-lagi satu keluarga ini mengamuk dan marah-marah serta menarik korban sambil mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar oleh jamaah lainnya. Akhirnya, kumandang azan terpaksa dihentikan.

Rampas tongkat khatib

Setelah suasana terkendali, panitia mengumumkan tatalaksana ibadah shalat Jumat hari itu dengan mempersilakan khatib Tgk Saleh Ali G untuk menyampaikan khutbah.

Ternyata, ketika khatib memulai khutbah, lagi-lagi H IB bersama kedua anaknya mengamuk. Mereka merampas tongkat yang ada di tangan khatib. H IB beralasan, penggunaan tongkat oleh khatib tak pernah dilakukan di masjid itu. Akhirnya pengikut wahabi yang fanatik dan stres tersebut berurusan dengan kepolisian setempat.

Itulah kebodohan wahabi, adzan pertama jum'at dihentikan karena dianggap bid'ah, padahal sumber adzan pertama jum'at itu dari Sahabat Utsman bin Affan. sabda Rasulullah SAW:

فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين تمسكوا بها وعضّوا عليها با النواجذ.

…..maka wajib atas kalian untuk selalu mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidin, peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian.(Abu Dawud : 4607)

Dalam hadits diatas kita diperintahkan untuk mengikuti sunnah para Khulafaurrasyidin, dan Utsman adalah salah satu dari mereka, maka adzan yang Ia sunnahkan adalah adzan syar’i yang diikuti. Karena dengan mengikuti sunnahnya berarti mengikuti sunnah Rasulullah SAW karena kita diperintahkan untuk mengikutinya.

Sedangkan memegang tongkat ketika khotbah jum'at itu juga sunnah, dalil selengkapnya bisa anda simak disini: http://www.sarkub.com/2013/khotbah-jumat-memegang-tongkat/ . Hikmah dianjurkannya memegang tongkat adalah untuk mengikat hati (agar lebih konsentrasi) dan agar tidak mempermainkan tangannya. Demikian dalam kitab Subulus Salam, juz II, hal 59).

 

Sumber berita: Serambi Indonesia

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: KAJIAN ASWAJA, Warta

30 Responses to “Fanatik Buta, Wahabi Merampas Tongkat Khatib Jum’at”

  1. amantubillah
    24/05/2013 at 07:16 #

    Astaghfirullah…..bingung saya antara mau geleng-geleng atau mau ketawa…yang jelas saya merasa kasihan……semoga Allah membuka pintu hidayah kebenaran bagi mereka…aamien

  2. 24/05/2013 at 16:30 #

    kewajiban kita semua meluruskan orang-orang seperti itu, kasihan…

  3. Ahsan
    24/05/2013 at 18:13 #

    Astaghfirullah….nalarnya ke manakah itu orang???

  4. 25/05/2013 at 00:03 #

    pokoknya kalo ada orang yg melakukan tindakan seperti melarang khutbah jum’at pasti WAHABI
    enak betyul kalian bikin tuduhan
    dasar ASWAJA GADUNGAN

    • Abu dan Ibnu
      25/05/2013 at 13:57 #

      Ada yang marah, mbah.. hihihihi… semoga dapat hidayah yaa.

    • A'an
      25/05/2013 at 20:47 #

      he3..ente kok merasa tertuduh, ente wahabi ya?….kan wahabi sukanya emang arogan begitu, jgn marah ya…..hi2….

    • Cok
      25/05/2013 at 23:25 #

      Ya siapa lagi yang suka menyalahkan, membidahkan cara ibadah umat Islam di luar kelompoknya dan merasa yang paling Islami dan paling bener ibadahnya selain wahabi.. hati kecil anda jg pasti mengakui..kecuali kalau anda tidak punya.

  5. Magribill
    25/05/2013 at 07:54 #

    MasyaAllah dah berani2 wahabiyun maksain konsep bid’ahnya, berarti hrs di berantas ampe ke akarnya golongan ini, tp menurut selentingan apa bener hny “imam Mahdi” yg bisa ngebasminya ?

  6. Abu Nawfal
    25/05/2013 at 14:37 #

    Ketiga orang itu jelas salah karena mengganggu khidmatnya shalat Jum’at. Berdakwah harus dengan lembut. Kalau memang tidak sependapat dengan tatacara shalat Jum’at di masjid itu, ya cari aja masjid lain yang sesuai dengan pemahamannya.

    Solusi lain: beritahukan uneg2 atau pendapat kepada takmir masjid setelah shalat Jum’at usai. dan jangan dengan emosi.

  7. ibn adhie
    25/05/2013 at 16:26 #

    Semoga ana dan kaum muslimin tidak seperti itu…
    Untuk hadist yg diberikan kenapa tidak mengenai adzan…???
    Jazakallah…

    • Brigadir
      28/05/2013 at 13:11 #

      adzan ada juga bro, cuma yg yg ingin disampaikan masalah tongkat, kan wahabi merebut tongkat,

  8. Rosyid
    26/05/2013 at 05:43 #

    Sekarang di Solo Jawa Tengah ada jama’ah yg.suka menghujat diluar kelompoknya adalah “ahli bid’ah” tu apa termasuk wahabi to? Waktu akan shlat sebelum takbirotul ikrom baca usholli bid’ah,semua nit yg diikrorkandg.nawaitu bid’ah,bahkan saya dengar sendiri lewat radio sang ustad bilang”ulama-ulama ,kyai-kyai yg mengajar usholli itu gk ngerti isi kandungan Al Qur’an,maka ulama kyai tsb.segera tobat…”.Dia juga selalu mentertawakan orang ngaji kitab kuning,setiap ustadnya berkata dn bernada mengejek orang belajar kitab kuning jemaahnya tertawa bareng2dg nada ngejek….
    Benarkah jama’ah tsb.golngan WAHABI? Mohon pencerahannya..!!!

    • ahsan
      26/05/2013 at 12:36 #

      Itu alirane wong koplak….mikir tidak pakai kepala tapi pakai dengkul….

    • 26/05/2013 at 22:05 #

      MTA kan ? masa seorang A SUkino menerjemahkan Alquran menurut dia sendiri ? dasar koplak

  9. 26/05/2013 at 07:26 #

    Na’udzubillah… engga di dunia maya, atau di dunia nyata emang wahabi ini semakin hari semakin parah aja tingkahnya…
    Semoga cepat tertangkap dan semoga cepet tobat tuh wahabiyyun..

  10. I am from jakarta
    26/05/2013 at 13:23 #

    Beberapa tahun setelah tamat dr pesantren salaf (beraliran NU) saya mndapat beasiswa untuk belajar di pesantren (setingkat diploma) yg dibiayai langsung dr timur tengah.
    Kebanyakan teman sekampus saya adalah ikhwan2 Islam yg fanatik (yg menurut saya ditandai dengan memelihara jenggot, meski hanya beberapa helai).
    Disitulah baru saya tahu bahwa aliran spt itu banyak banget baik yg berdasarkan kelompok keagamaan/ syariat, atau kelompok organisasi (lebih mendekati) gerakan politik. Ada wahabi, ingkarussunah, MTA, kader2 PKS, ikhwanul muslimin, hizbuttahrir, dll pokoknya banyak banget.
    Yg menarik bagi saya, dibalik kehebatan mereka dalam kekhusuk’an dan ketawadhu’an dalam mnjalankan ibadah, ternyata pengetahuan mereka akan ilmu syariat seperti hadis, fiqh, tata bahasa arab dll. sangat dangkal. Hal ini tercermin saat ada pelajaran fiqh memakai kitab Kifayatul Ahyar yang di pesantren salaf saya dahulu adalah kitab dasar. Mereka semua terkaget2. Bahkan salah satu teman saya yang sudah menjadi ustadz terkenal di kalangan umatnya dan punya pesantren dengan ratusan murid sempat nyeletuk, wah kok ternyata dalam Islam itu ada ilmu yg membahas fiqh sedetail ini !
    Beberapa waktu kemudian baru saya paham saat mengikuti kegiatan pengajian kelompok mereka. Dalam setiap pengajian hanya di tekankan masalah jihad, jihad dan jihad. Sampul kitab yang dipegang pun bukan bergambar kaligrafi seperti kitab kuning pesantren saya dahulu tapi Helikopter tempur!
    Kesimpulannya, kelompok seperti itu banyak, bukan hanya wahabi. Antar kelompok juga saling tidak akur, bahkan saling menyalahkan. Pengetahuan mereka dalam ilmu syariat sangat terbatas pada jihad, jihad dan jihad sana kecuali ustadz2nya lulusan langsung dari universitas2 di timur tengah.

    • Brigadir
      28/05/2013 at 12:52 #

      @ I am from jakarta
      Betul sekali ustadz, ilmu fiqhi mereka tidak sampai ke dasar2nya makanya kelakuan mereka kasar, coba tanya ditanya syarat rukun sholat pasti bingung, bahkan bisa jadi yg membatalkan wudhu tidak paham, nginjak tai ayam, eh wudhu lagi katanya batal, wkwkwkwkw.

  11. Brigadir
    28/05/2013 at 12:56 #

    Syaidinina Ali r.a saja ditikan waktu sholat ya?

  12. 28/05/2013 at 23:30 #

    Semakin aneh-aneh saja kelakuan manusia… xixixi…

  13. ibn adhie
    07/06/2013 at 13:40 #

    Assalamualaikum ya ikhwatal islam…
    MOHON JANGAN DENGARKAN ARTIKEL SARKUB INI…
    ANA TAU PERNAH MAIN KE REDAKSI TIM SARKUB, TERNYATA MEREKA SYI’AH SEMUA…
    YANG MENCOBA MENGADU DOMBA ANTARA ALIRAN ANA NU DENGAN ALIRAN MUHAMMADIYAH…
    ALIRAN NU BERLEPAS DIRI DARI MENJELEK-JELEKAN ALIRAN MUHAMMADIYAH…

    TETAPI ALIRAN NU SANGAT MEMBENCI SYI’AH…
    AJARAN NU TIDAK MUNGKIN MENJELEKAN ALIRAN LAIN KECUALI SYI’AH…

    KH. HABIB SALAM BIN BAKRI ASEGAF PERNAH BILANG KE ANA, BAHWA DIA PERNAH MEMBACA ARTIKEL SARKUB LALU BELIAU MENYURUH ANA SELIDIKI SUMBER REDAKSINYA TERNYATA MEMANG BENAR KATA BELIAU KH. HABIB SALAM BIN BAKRI ASSEGAF SEMUA TIM REDAKSI SARKUB MENGANUT FAHAM SYI’AH….

    COBA TIM SARKUM SURUH BERSUMPAH ATAS NAMA ALLAH DAN RASULNYA PASTI MEREKA TIDAK MAU…
    TIM SARKUB BERGABUNG DENGAN SYI’AH YANG BERADA DIMADURA…

    BUKTIKAN SAJA LANGSUNG DATANG KE REDAKSI SARKUB….
    PARA HABIB TIDAK MENGENAL REDAKSI SARKUB….
    PARA HABIB MALAH MEMBENCI TIM SARKUB KARNA TELAH MENGHINA NU DENGAN CARA MENJELEKAN NU UNTUK PERMUNAJAT ATAU SUKA BERDOA DIDEPAN MAKAM YANG DIKERAMATKAN…

    • andika
      08/06/2013 at 15:18 #

      amaliah NU yang sangat Khas adalah tahlilan, Maulid, Haul, tawasul dan ziarah makam wali……lah ketauan klo ente musang berbulu BABI…..hehehe

  14. senyum
    07/06/2013 at 15:07 #

    waduuuh kok jadi begini? Sarkub ini jelas2 NU + habibers boss, buktinya kalo petingginya di senggol 4-5 orang langsung defend di garda terdepan …….masalah mau baca apa gak sih terserah orangnya aja, tp yang baca pasti tujuannya beda2 laaa

  15. ali shahab
    08/06/2013 at 11:11 #

    dialog gusdur dengan seorang santri

    Santri : “Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!”

    Gus Dur : “Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang.”

    Santri : “Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?”

    Gus Dur : “Ya tidak tahu lah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya.”

    Santri : “Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?”

    Gus Dur : “Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi.”

    Santri : “Anti-aging gitu, Gus?”

    Gus Dur : “Iya. Pokoknya kekal.”

    Santri : “Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya.”

    Gus Dur : “Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam.”

    Santri : “Maksudnya senior apa, Gus?”

    Gusdur : “Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa.”

    Santri : “Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?”

    Gus Dur : “Iblis itu dulu nya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam.”

    Santri : “Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara- garanya, aku jadi miskin kayak gini.”

    Gus Dur : “Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi.”

    Santri : “Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?”

    Gus Dur : “Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).

    Santri : “Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?”

    Gus Dur : “Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi.”

    Santri : “Aneh.”

    Gus Dur : “Kok aneh? Apanya yang aneh?”

    Santri : “Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan.”

    Gus Dur : “Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat.”

    Santri : “Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?”

    Gus Dur : “Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak.”

    Santri : “Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?”

    Gus Dur : “Dua-duanya.”

    Santri : “Kok dua-duanya?”

    Gus Dur : “Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan.”

    Santri : “Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus.”

    Gus Dur : “Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat.”

    Santri : “Ooh…”

    Gus Dur : “Jadi intinya begitu lah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong.”

    Santri : “Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?”

    Gus Dur : “Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu.”

    Santri : “Masa sih, Gus?”

    Gus Dur : “Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok.”

    Santri : “Terus, kesalahan terbesar dia apa?”

    Gus Dur : “Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran.”

    Santri : “Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh.”

    Gus Dur : “Siapa? Ente?

    Santri : “Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid’ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh.”

    Gus Dur : “Wah, persis Iblis tuh.”

    Santri : “Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya.”

    Gus Dur : “Siap mati, tapi tidak siap hidup.”

    Santri : “Bedanya apa, Gus?”

    Gus Dur : “Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama.”

    Santri : “Lho, kok begitu?”

    Gus Dur : “Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga.”

    Santri : “Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?”

    Gus Dur : “Pinter kamu, Kang!”

    Santri : “Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur.”

    • djenar
      09/06/2013 at 09:37 #

      ijin share Gus..

  16. 11/08/2013 at 07:00 #

    kepada saudara2, hati – hati dengan tukang fitnah/ghibah.
    sarkub memang ok.

  17. Nur Ahmad
    03/10/2013 at 13:09 #

    Pokoe SARKUB Mantuuuuuuabbbbbb………

  18. muhajir
    29/10/2013 at 21:28 #

    masyaallah memang karakter mereka keras kepala seolah” ilmu mereka itu sdh lebih mumpuni dari para wali dahulu & kyai” NU.ibarat burung mereka itu burung gagak serba polos hitamnya pemakan bangkai & sampah.

  19. 02/02/2014 at 08:21 #

    Wah..jangan-jangan sesudah berhasil merampas tongkat khatib, nanti terus merampas Kotak amal ???

  20. 02/02/2014 at 10:31 #

    Di sekitar kita sudah menjamur, Kung.

  21. 09/06/2014 at 09:13 #

    HA HA HA WAHABI AMBOOYY ??? BINGUNG SUDAH.

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


2 × 9 =