5:27 pm - Thursday April 17, 2014

Terapi Hati: Penyakit Hasud, Iri, Dengki

Dengki (hasud): senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang.

Salah satu penyakit hati yang sering merasuki jiwa manusia dengan tidak mengenal golongan, pangkat, jabatan, keturunan dan usia baik laki-laki maupun  perempuan adalah Dengki (Hasud).

Hasud ( dengki ) adalah sikap batin tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari orang tersebut. Imam Ghazali mengatakan bahwa hasud itu adalah cabang dari syukh ( الشخ) yaitu sikap batin yang bakhil berbuat baik.

Kata hasud berasal dari bahasa Arab, yaitu “hasadun” yang berarti dengki, benci. Dengki merupakan suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan rasa marah, tidak suka karena iri. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata “hasud” diartikan membangkitkan hati seseorang supaya marah (melawan, memberontak, dan sebagainya).

Dengan demikian yang dimaksud dengan hasud pada hakikatnya sama dengan hasad, yakni suatu perbuatan tercela sebagai akibat adanya rasa iri hati dalam hati seseorang. Rasululloh s.a.w. bersabda :

ﺩَﺏﱠﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْﺩَﺍۤﺀُﭐْﻷُﻣَﻢِﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْﺑَﻐْﻀَﺎﺀُﻭَﺣَﺴَﺪٌﻫِﻲَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺪﱢﻳْﻦِﻻَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺸﱠﻌْﺮِ

ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤَﺪُﻭَﭐﻟﺘﱢﺮْﻣِﺬِﻱﱡ )

Artinya : “Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat terdahulu (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

Lebih jauh para ulama mengemukakan pengertian hasud atau hasad sebagai berikut :

  1. Menurut Al Jurjani Al Hanafi dalam kitabnya “Al Ta’rifaat”, hasad ialah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki (mahsud) supaya berpindah kepadanya (orang yang mendengki).
  2.  Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin”, hasad ialah membenci nikmat Allah S.W.T. yang ada pada diri orang lain, serta menyukai hilangnya nikmat tersebut.
  3. Menurut Sayyid Qutub dalam tafsir “Al Manar”, hasad ialah kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nimat yang diberikan Allah S.W.T. kepada seseorang dari hamba-Nya hilang dari padanya. Baik cara yang dipergunakan oleh orang yang dengki itu dengan tindakan supaya nikmat itu lenyap dari padanya atas dasar iri hati, ataau cukup dengan keinginan saja. Yang jelas motif dari tindakan itu adalah kejahatan.

Hal inilah, seperti yang dijelaskan Al Qur’an sebagai berikut :

ﺃَﻡْﻳَﺤْﺴُﺪُﻭْﻥَﭐﻟﻨﱠﺎﺱَﻋَﻠَﻰﻣَﺎۤﺍٰﺗٰﻬُﻢُﭐﷲُﻣِﻦْﻓَﻀْﻠِﻪِ

Artinya : “ Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya …. (Q.S. An Nisa : 54)

Jadi hasud/hasad menurut istilah: membenci nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada orang lain, dengan keinginan agar nikmat yang didapat orang tersebut segera hilang atau terhapus.

Rasulullah saw menggambarkan betapa tercelanya kedengkian itu dengan sabdanya:

ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ  ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺑُﻮْﺩَﺍﻭُﺩَﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ

”Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR.Abu Daud dari Abu Hurairah).

Ketika seseorang mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki maka saat itu ia telah berlaku hasad, karena sesungguhnya kedengkian adalah membenci nikmat dan menginginkan lenyapnya nikmat itu dari orang yang mendapatkannya.

Pantaslah jika Rasulullah saw pernah menyebut seseorang sebagai penghuni surga akan lewat di depan sahabat-sahabatnya, yang ketika kejadian itu berulang tiga kali dalam tiga hari Rasulullah menyebutnya sebagai seorang dari penghuni surga, dan ketika ditelusuri oleh Abdullah bin Amer bin al-Ash dengan bermalam di rumah orang tersebut selama tiga malam, ia tidak pernah melihat amalan orang tersebut yang berlebihan, bahkan orang itu juga tidak bangun malam, kecuali jika berbalik dari tempat tidurnya ia menyebut Allah, ia tidak bangun kecuali untuk shalat subuh, dan tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan.

Bahkan hampir saja Abdullah meremehkan amalannya. Ketika Abdullah mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah telah bersabda begini dan begitu, kemudian ia bertanya : ”Apakah gerangan yang membuatmu mencapai tingkatan tersebut?”

Orang tersebut menjawab: ”Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci dan dengki kepada salah seorang pun dari kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.

Di sinilah Abdullah menemukan jawaban itu, ia berkata :”Itulah rupanya yang membuatmu mencapai tingkatan itu, dan itulah yang tidak mampu kami lakukan”.

Demikianlah nikmatnya jika kita dapat menghidarkan diri dari berlaku hasad pada orang lain yakni surga, yang sesungguhnya terlihat sangatlah sepele persoalannya meskipun sesungguhnya berat dalam pengamalannya.

Cukuplah menjadi renungan kita bersama bahwasanya penyebab pembunuhan pertama kali di muka bumi ini terjadi yaitu anak Adam membunuh saudaranya adalah disebabkan oleh kedengkiannya pada saudaranya atas nikmat yang dimilikinya lalu kita bertanya masihkah kita harus mendengki?

Rasulullah bersabda:

ولا تحاسدوا ولاتقاطعوا ولاتباغضوا ولاتدابروا وكونوا عبادالله إخوانا كما أمركم الله ( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ ومسلم )

Artinya : “Janganlah kamu sekalian saling mendengki, membenci, dan saling belakang-membelakangi; tetapi jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu”. ( H.R Bukhari dan Muslim )

Setiap muslim/muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud karena hasud termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Simaklah QS. An Nisa’ [4]: 32

clip_image007

Artinya : ““Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Dalam kitab Tanbihul Ghafilin yang dinyatakan Imam Abu Laits Samarqandi, dijelaskan bahwa orang hasud itu telah menentang Allah SWT dalam beberapa hal, :

  1.  Membenci nikmat atau anugerah Allah SWT yang diberikan kepada orang lain.
  2. Tidak rela menerima pembagian karunia Allah SWT atas dirinya.
  3. Pelit terhadap pemberian Allah SWT, kalau bisa semua anugerah Allah dan kebajikan jatuh pada dirinya sendiri, tak perlu orang lain. Kalaupun orang lain memperolehnya diharapkan di bawah derajat dirinya.
  4. Mengikuti pengaruh Ibnlis/syetan yang sebetulnya sangat merugikan dan menghinakan dirinya sendiri

 Bahaya-bahaya sifat hasud antara lain:

  • Merusak iman orang yang hasud.

الحسد ﻳُﻔْﺴِﺪُ الايمان كما يفسد الصبر العسل ( رواه ﭐﻟﺪﱠﻳْﻠَﻤِﻲﱡ )

Artinya : “Hasud itu dapat merusak iman sebagaimana jadam merusak madu (H.R Ad Dailami)

  • Menghanguskan segala macam kebaikan yang pernah dilakukan.

ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ

( رواه ابو داود )

Artinya : “Jauhilah darimu dari hasud karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan-kebaikan seperti api memakan kayu bakar. ( H.R Abu Dawud )

  • Tersiksa batinnya untuk selama-lamanya, sebab di dunia ini tidak sepi dari orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah baik berupa ilmu, pangkat, atau harta benda sementara dia selalu diliputi rasa dengki terus menerus.

Ada 2 macam hasud yang dibolehkn, Rasulullah bersabda

لاحسد إلا فى اثنين: رجل أتاه الله مالا فسلطه على هلكته فى الحق ورجل أتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها

( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ )

Artinya : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam 2 hal : 1. Seorang yang diberi oleh Allah SWT harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak ( kebenaran ) dan 2. Seorang yang diberi Allah SWT ilmu hikmah, maka ia pergunakan dan ia ajarkan. ( H.R Bukhari )

  •  Mengarah pada perbuatan maksiat, dengan berlaku hasud otomatis seseorang pasti melakukan hal-hal lain seperti ghibah (mengumpat/menggosip orang), berdusta, mencela, bahkan mengadu domba.
  •  Jauh dari rahmat Allah SWT dan sesama manusia
  •  Menghancurkan persatuan dan kesatuan
  •  Menyakiti orang lain atau dapat mencelakakan orang lain
  • Terkena hinaan dan kegelisahan apalagi ia menyadari bahwa orang lain telah memahami hasutannya, maka ia akan dipandang rendah dan pasti dijauhi.
  •  Kerisauan dan kegelisahan akibat kebencian tak terputus-putus
  •  Akan selalu menderita di atas kesenangan orang lain. Ia tidak pernah merasa bahagia selama ada orang lain yang melebihinya
  • Dapat memutuskan hubungan silaturrahim dan persaudaraan
  • Berpotensi akan menjadi provokator yang dapat menimbulkan bencana atau kerugian, baik untuk dirinya ataupun orang lain
  • Menjerumuskan pelakunya masuk neraka.

Cara menghindari sifat hasud :

  1. Selalu meningkatkan iman kepada Allah SWT
  2. Berupaya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT
  3. Mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya
  4. Meningkatkan sifat Qana’ah (menerima dengan ridlo setiap anugerah Allah SWT)
  5. Menyadari kedudukan harta dan jabatan dalam kehidupan manusia di dunia.

 Kebiasaan-kebiasaan yang harus dilatih agar terhindar dari sifat hasud

  1. Membiasakan diri menghormati pendapat orang lain agar terhindar dari konflik
  2. Membiasakan diri melakukan perbuatan baik, karena Allah bersama orang yang berbuat baik (Q.S. 16 :128)
  3. Membiasakan diri senang dan bersyukur serta memberikan selamat atas keberhasilan/kebahagiaan orang lain
  4. Membiasakan diri memelihara hubungan baik/silaturrahim
  5. Membiasakan diri mempelajari, memahami dan memperaktikkan ayat-ayat Allah
  6. Kemitmen untuk selalu meningkatkan ke-Islaman terutama salat lima waktu
  7. Membiasakan diri mensyukuri nikmat/pemberian Allah sekecil apapun

(Sumber: Modul Pelajaran)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: Akhlak, Kesehatan, RUWATAN

3 Responses to “Terapi Hati: Penyakit Hasud, Iri, Dengki”

  1. 10/04/2012 at 20:20 #

    Rosululloh SAW mengingatkan :
    “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling memutuskan hubungan, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling memperdaya dan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara”. (Buhkhari dan Muslim)

    Untuk mengetahui munculnya sifat dengki diri kita kepada orang lain atau sebaliknya maka kita harus mengetahui ciri-cirinya.

    Adapun ciri-ciri sifat dengki adalah sebagai berikut :
    1.Senang membicarakan kejelekan orang lain
    Bagi seorang pendengki, setiap harinya selalu diselimuti dengan bayang-bayang kebencian, dengan berbagai cara dia berusaha mencari tahu dan mengorek-ngorek aib dan kekurangan siapa yang dia dengki. Siang dan malam waktunya habis untuk memikirkan kekurangan orang lain, sedangkan dia tidak pernah melihat aib dan kekurangan dirinya, sehingga sangat sulit bagi dirinya untuk mengakui kelebihan yang dimiliki orang lain.

    2.Cenderung tidak senang berdekatan
    Seorang yang dengki, hatinya cenderung tidak siap berdampingan dengan yang ia dengki, gelisah, risau, dan bahkan benci ketika duduk berdekatan dengannya. Mau naik angkot/bis umum misalnya, ketika akan naik di dalam ada orang yang kita dengki, yakin gak jadi naiknya, ternyata tersiksa menjadi seorang pendengki, harusnya menikmati untuk silaturahmi malah menjadi gelisah hati.

    3.Cenderung tidak senang mendengar suara yang di dengki
    Sangat jarang bagi dirinya untuk berusaha nyaman ketika mendengar suara orang yang ia dengki, ketika orang yang kita dengki membaca Al-Quran, Adzan, mimpin rapat atau apa saja yang mengeluarkan suaranya dan dia berada dekat situ, maka orang lain sibuk mendapatkan pahala dari bacaan dan adzan, dia malah menuai dosa dari prilakunya.

    4.Tidak senang mengucapkan salam ketika bertemu
    Rosululloh SAW, mengingatkan kita untuk selalu menyebarkan salam kepada saudara kita yang lain “ufsus salaam” artinya sebarkan salam. Bagi seorang pendengki, tidak ada kata dan sapa yang terucap dari mulutnya ketika bertemu dengan yang ia dengki. Kalaupun berpapasan, maka dia berusaha memalingkan pandangannya dan mengalihkan perhatiannya pada yang lain, bahkan ketika orang yang ia dengki mengucapkan salam, tidak ada keinginan baginya untuk menjawabnya, na’udzu billah summa na’udzu billah.

    5.Berbahagia ketika yang didengki dapat musibah
    Kisah dua orang tersesat di hutan. Pada saat sedang kebingungan datanglah orang yang mengaku sebagai pengawal dari raja, serta merta dia langsung membawa dua orang tersebut ke kerajaannya yang ada di tengah hutan. Sesampainya di hutan dihadapkan keduanya kepada sang raja, ternyata raja tersebut adalah kanibal (pemakan daging manusia), raja sangat senang sekali dan akan menjadikannya santapan untuk santapannya. Mendengar dirinya akan di makan oleh raja, kedua orang tersebut meminta raja untuk membebaskannya dengan alasan punya anak istri. Raja pun luluh, tetapi dia memberikan syarat untuk pembebasannya, yaitu harus mencarikan makan atau buah-buahan yang belum pernah dimakan oleh raja di tempat itu. Keduanya lalu berangkat, yang satu ke kiri dan yang satu ke kanan, tak lama yang dari kiri da tang membawa nanas, raja kecewa, kemudian menyuruh pengawalnya untuk menggosokkan nanas pada punggungnya, tak lama berselang yang dari kanan da tang membawa durian. Jadi bagi orang yang dengki, jangankan lagi bahagia, lagi sengsara pun begitu melihat yang didengkinya dapat musibah dia sangat bahagia, na’udzu billah

    Sedangkan penyebab kedengkian diantaranya :

    1.Kesombongan
    Kelebihan apapun yang kita miliki, harta yang banyak, anak yang pintar, pangkat yang tinggi, kedudukan/jabatan terhormat, wajah yang tampan/cantik tetapi kurang ilmu dalam menyikapinya maka akan menyebabkan munculnya kesombongan.
    Sombong itu mendustakan kebenaran dan merendahkan orang lain. Ketika kita merasa lebih dari orang lain dan iman serta ilmu yang kurang dalam menyikapinya, maka munculah sifat sombong dalam diri mengalahkan kelembutan dan kerendahan hatinya, mungkin hal ini terjadi karena pujian orang atau bahkan karena penghinaan. Ingatlah, syaithon laknatulloh adalah musuh kita yang senantiasa membisikan kepada sudut hati kita yang paling dalam, sehingga suatu ketika kita merasa rendah hati padahal sedang menunjukan kesombongan diri.
    Seorang bapak baru pulang haji misalnya, ketika kedatangan tamu kerumahnya dengan senangnya dia menerima tamu tersebut, dengan senang hati pula dia berusaha menunjukan kesombongan kepada pembantu rumahnya sambil berkata: “tolong ambilkan karpet yang warna biru yang bapak beli di Mekah waktu haji tahun lalu, bukan yang dibeli dari Mekah kemarin……” ada apa maksud dibalik perkataannya itu, inilah sebagai bukti bahwa syaithon merasuki ke dalam hati pak haji ini disadari atau tidak dia sudah berusaha menutupi keramahannya dengan kesombongan dalam dadanya. Allohu Akbar.

    Dari kesombongan inilah akan timbul kecemburuan sosial dan cara pandang orang yang berbeda dan akhirnya munculah sifat Dengki pada orang yang tidak siap menyikapinya.

    2.Merasa Tersakiti
    Contoh :Orang tua yang akan menikahkan anaknya dengan anak tetangganya atau yang lain, pada waktu yang telah ditentukan dan undangan sudah disebar, salah satu pihak memutuskan/ membatalkan rencana tersebut, dia kecewa, malu sama undangan, benci dan bahkan dendam kepada calon mantunya, maka akan timbullah kedengkian dalam dirinya. Padahal ketika dia mengetahui bahwa Allohlah pemilik segalanya, yang menyebabkan dia berjodoh atau tidak dan Alloh Maha tahu apa yang akan terjadi apabila berjodoh dengannya, boleh jadi ketika menikah rumah tangganya akan berantakan, maka ketika kita ridho menerimanya insya Alloh, Alloh SWT akan memberi pengganti yang lebih baik dan tidak harus menimbulkan kedengkian kepada siapapun.

    3.Persaingan
    Penyebab munculnya kedengkianpun bisa timbul karena persaingan, baik berupa persaingan usaha, kerja, kedudukan dll. Biasanya persaingan ini satu level/ setingkat, tukang warung dengan tukang warung, tukang ojeg dengan tukang ojeg, karyawan dengan karyawan, menejer dengan menejer dan seterusnya.
    4.Keinginan memimpin
    Adanya keinginan memimpin dalam satu organisasi, kelompok, perusahaan dan sebagainya, menyebabkan munculnya keinginan saling menonjolkan kemampuan, yang apabila pada akhirnya dia terkalahkan oleh lawannya dan dia tidak siap menerimanya maka munculah kedengkian/hasud dari dirinya dan kelompoknya

    Bagaimana cara mengatasi kedengkian?
    Agar kedengkian tidak merasuki tubuh kita dan kita tidak menjadi objek kedengkian bagi orang lain, maka ada beberapa kiat untuk mengatasinya :

    1.Menganggap saudara
    Jadikan siapapun yang menjadi pesaing kita, lawan kampanye kita, teman, atau siapapun sebagai saudara, yang nantinya akan timbul saling mencintai, mengoreksi dan memajukan untuk keberhasilan bersama, karena sesungguhnya diantara mukmin dan mukmin yang lain adalah saudara dan tidak seharusnya diantara saudara saling mendengki dan menyakiti

    2.Jangan melihat kekurangannya, tetapi lihatlah kebaikannya
    Berusahalah untuk tidak melihat kekurangan saudara kita, sejelek apapun sikap dan prilakunya tentu masih ada kebaikan yang dia lakukan, berusaha bijak menyikapi kekurangan yang dimilikinya dan menerima serta menghargai setiap kelebihan yang dimilikinya, insya Alloh akan lebih nikmat menjalani kehidupan ini dan akan terhindar dari kedengkian sekecil apapun, insya Alloh.

    3.Tempatkan diri kita menjadi bagian kesuksesan orang lain
    Menjadi jalan kesuksesan bagi saudara kita itu mungkin, tetapi kalau menjadi jalan kesuksesan bagi musuh kita itu luar biasa. Maka agar tidak menimbulkan kedengkian kepada siapapun berusahalah dengan tulus untuk membantu siapapun juga dalam mencapai kesuksesan, insya Alloh tidak akan ada kerugian bagi kita mengeluarkan harta, tenaga, fikiran untuk menyukseskan orang lain, kecuali Alloh SWT, akan memberikan balasan terbaik bagi kehidupan dunia dan akhiratnya.

    4.Do’akan
    Berdo’alah untuk kemajuan saudara kita dan berusaha untuk tidak pernah mendo’akan keburukan, karena sesungguhnya setiap do’a yang kita ucapkan sama dengan mendo’akan diri kita, maka apabila kita mendo’akan kebaikan,
    maka mudah-mudahan Alloh SWT memberi kebaikan kepada kita, amiin yaa robbal ‘alamiin

    5.Ikut bahagia
    Berusahalah untuk ikut berbahagia ketika saudara kita mendapat nikmat, dan turut berduka ketika saudara kita dapat musibah, karena sesungguhnya dalam kehidupan kita saling membutuhkan satu dengan yang lain, kalaupun kita tidak mampu memberi harta dan kekayaan paling tidak kita menjadi penghibur hati dan penenang bathin dalam keadaan apapun jua.

    Bagi orang-orang yang sholatnya terjaga dengan baik maka dia akan berusaha untuk mengendalikan hatinya dari berbagai hal yang menyebabkannya mendengki/menghasud kepada saudaranya. Cukuplah Alloh sebagai penolongnya sebagaimana ia lakukan dalam setiap gerakan sholat, sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan kejelekan orang lain bahkan sangat sibuk untuk memperbaiki dirinya sendiri, agar mutu sholatnya terjaga dan terpelihara dalam setiap ucapan dan perbuatannya.

    Mudah-mudahan Alloh SWT, memelihara diri kita untuk tidak mengotori dan meracuni hati dan fikiran kita dari kedengkian dan permusuhan kepada siapapun sehingga hidup kita akan merasa tenang dan nyaman, tidak ada waktu bagi kita untuk memikirkan hal-hal yang seperti itu, masih banyak hal yang bisa kita lakukan dengan berdzikir, mengaji dan banyak lagi yang lebih bermanfa’at. Wallohu ‘alam bissawab

    Bahaya Dengki
    Ditulis oleh : Ust. H. Dadang Holiyulloh
    http://www.markazislambogor.com/berita-158-bahaya-dengki.html

  2. putri
    17/03/2014 at 23:09 #

    Assalamu’alaikum,, saya izin untuk berbagi artikel ini,,, terima kasih banyak,,, semoga senantiasa bermanfaat…

  3. 17/03/2014 at 16:12 #

    Assalamu'alaikum,, saya izin untuk berbagi artikel ini,,, terima kasih banyak,,, semoga senantiasa bermanfaat…

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


× 7 = 14