1:53 pm - Friday June 13, 2014

NU dan NKRI Dalam Bahaya

 Pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang direbut melalui, berbagai perjuangan; pemberontakan, peperangan grilya, peperangan terbuka dan diplomasi yang dilakukan oleh para pendiri negara kita terdahulu (pahlawan bangsa), tidak dimaksudkan untuk membuat Khilafah Islamiyah. Mereka sadar betul baik dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyah, Persis, Nasionalis dan kelompok lainnya yang ikut berjuang, merebut kemerdekaan, mereka berjuang hanya untuk satu tujuan, yaitu Kemerdekaan Indonesia.

Sejarah panjang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, telah banyak mengorbankan ratusan ribu jiwa, mereka berjuang tanpa pamrih, tanpa embel-embel ingin jadi presiden atau mentri, bahkan tidak terpikirkan untuk jadi bupati sekalipun. Perjuangan mereka semata ditujukan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan yang kejam dan tidak berprikemanusiaan.

Ketulusan perjuangan para pahlawan bangsa dalam merebut kemerdekaan, teruang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan peri keadilan.

Dan perjuangan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan Rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Esa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka Rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahtraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Ini adalah bentuk komitmen yang telah dibuat dan dicetuskan oleh para pendiri bangsa ini. Komitmen ini tidak boleh dikhianati oleh siapapun, kapanpu dan dimanapun. termasuk oleh kelompok orang yang mengatas namakan agama, yang ingin membuat Negara Islam Indonesia (NII), dengan jargon Saatnya Khilafah Islamiyah memimpin dunia.

Pantaskan orang yang tidak pernah berjuang, mengangkat senjata, memerdekakan Indonesia, kemudian ingin mengubah NKRI menjadi Khilafah Islamiyah ???

Munculnya gerakan Islam radikal yang dipengaruhi oleh idiologi Wahabi begitu keras menggelinding terutama pasca reformasi. Ideologi transnasional, telah menyeret Ideologi Pancasila sehingga Idiologi Pancasila terancam kehilangan tajinya, akibatnya NKRI pun hendak diganti Khilafah Islamiyah.

Akankah kita membiarkan NKRI dan Idiologi Pancasila diporak porandakan oleh segelintir orang yang Ambisius,  haus kekuasaan, melakukan politisasi agama, menghalalkan segala cara, mengatasnamakan Islam padahal merusak citra Islam, meledakan bom tanpa berprikemanusiaa dengan mengatas namakan Jihad fi sabililah ???

Keperihatinan ini telah mengusik lubuk hati yang paling dalam kalangan Nahdiyyin. Dalam wasiatnya menjelang berpulangnya ke rahmatullah KH Yusuf Hasim, putera Hadratus Syaikh Hasyim Hasyim Asy’ari pendiri NU mengatakan: ” Kita harus dapat memotong laju gerakan ideologi kekerasan dari Timur Tengah dan liberalisme Barat. Karena ked.duanya sama‑sama akan merusak NU dan NKRI”. Sebab, lanjut KH. Yusuf Hasyim, masuknya ideologi transnasional ke Indonesia dapat merusak tatanan NU dan Indonesia. Pemerintah harus menggunakan Pancasila sebagai ideologi yang membatasi masuknya ideologi transnasional. Sedangkan NU harus terus memperkuat pemahaman Aswaja‑nya ke seluruh struktur dan kultur di bawah NU.

Mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Idiologi Pancasila, tidak mungkin hanya diserahkan kepada pemerintah saja. Oleh sebab itu, dibutuhkan partisipasi aktiv kita semua.

Sudah saatnya kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, bangkit, bahu membahu, membentengi kedaulatan bangsa, dengan cara mengeliminir pengaruh ideologi kekerasan dari Timur Tengah dan liberalisme Barat.

NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia perlu segera mengambil bagian untuk mempertahankan dan membentengi NKRI dan Idiologi Pancasila.

Ketua Umum PBNU, Drs. A. Hasyim Muzadi mengisaratkan, bahwa posisi NKRI dan NU sekarang berada dalam “kepungan” ideologi transnasional: radikalisme Timur‑Tengah; liberalisme Barat. Menurut beliau radikalisme Timur Tengah dan liberalisme Barat sama‑sama berpotensi merusak NU dan NKRI.”

Senada dengan Kiai Hasyim, Ketua PBNU, KH. Masdar Farid Mas’udi menegaskan bahwa NahdIatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, kini sedang dalam posisi bahaya. Apa sebab, karena ada pihak‑pihak yang memprovokasi dan mengadu‑domba para tokoh NU dengan tujuan menciptakan konflik horisontal antar‑warga NU. Basis‑basis NU: masjid, pesantren, majelis ta’lim hingga. pengajian rutin dikampung -kampung diprovokasi agar berganti “baju”, dari paham ahiussunnah wal jama’ah (Aswaja) ke paham Wahabi atau lainnya.

Kami ingatkan agar warga NU waspada terhadap kelompok tertentu yang hendak mengadu‑domba sesama kiai panutan nahdliyin, yang begitu beresiko menimbulkan konflik horisontal yang sangat keras di lapisan bawah,” papar Masdar kepada Risalah NU”.

Warning ini mengindikasikan betapa bahayanya pengaruh ideologi transnasional: radikalisme Timur‑Tengah; dan liberalisme Barat, terhadap persatuan dan kesatuan bangsa.  Mereka sangat menguasai medan dan peta kekuatan politik Indonesia, sehingga sasaran utama yang mereka bidik adalah NU, sebab NU merupakan Organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan asumsi apabila NU bisa dilumpuhkan, maka secara otomatis, mereka leluasa untuk mengganti Idiologi Negara Pancasila dengan Idiologi Wahabi.

Menanggapi bahaya Ideologi transnasion Dr. M. Said. Aqil. Siroj, mengatakan; ideologi transnasional dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ideologi transnasion, akan menggeret agama masuk dalam pusaran ketegangan benturan sosial, sehingga pada gilirannya, ia akan mereduksi substansi Islam sebagai agama cinta damai dan transendetal serta melepaskan dogmatisme agama. Sedangkan gerakan radikal akan menghilangkan peran agama sebagai rahmat. “Karena itulah, kedua ideologi ini tidak bermanfaat dan bahkan membahayakan NKRI,” tegas Kiai Said doktor lulusan Umul al‑Qura Makkah, Arab Saudi, Fakultas Ushuluddin dengan predikat Summa Comlaude ini.

Mengingat besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh ideologi transnasional, Ketua Pengurus Pusat Lembaga Da’wah NahdIatul Ulama (PP LDNU) PBNU, KH. Nuril Huda meminta warga nahdliyin mewaspadai munculnya kelompok‑kelompok yang membawa faham keagamaan baru yang marak belakangan ini. Karena, tak sedikit di antara mereka ini yang mengaku menganut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja), namun prakteknya sama sekali tak terkait dengan Aswaja NU, malah mengajak ke paham lain. Kelompok-kelompok tersebut mempunyai ciri gampang menuduh bid’ah (mengada ada), sesat, bahkan kufir terhadap warga nahdliyin. “Ada yang ngaku Jama’ah Salafiyah, namun prakteknya keluar dari apa yang diajarkan oleh ulama‑ulama salaf. Ulama-ulama salaf itu kan sangat menghargai perbedaan madzhab dalam bidang ubudiyah. Tapi golongan ini tidak mengakui (perbedaan madzhab) itu, sehingga mudah sekali mem‑bid’ah‑kan bahkan mengkafirkan orang lain,” jelas Kiai Nuril.

Karena itu, lanjut Kiai Nuril; segenap komponen NU harus melakukan peneguhan kembali terhadap pemahaman dan implementasi faham Aswaja di masyarakat. Upaya tersebut untuk membentengi warga NU dari rong-rongan kelompok-kelompok yang mengusik kelestarian pemikiran dan budaya yang dikembangkan NU lewat ajaran Aswaja.

Kiai Nuril mengungkapkan, kelompok‑kelompok yang mengaku berpaham Aswaja yang kini bergentayangan di mana‑mana itu tak. hanya berupaya mengganti tradisi keagamaan nahdliyin. Lebih dari itu, mereka kini juga merebut masjid-masjid NU dengan mengambil alih kepengurusan takmirnya dengan dalih karena NU syarat dengan ajaran bid’ah.

Direktur P3M Jakarta ini juga mengatakan, dengan modal pendanaan yang besar, mereka mempunyai misi besar memberangus tradisi‑tradisi keagamaan NU yang mereka tuduh menyimpang dari ajaran nabi Muhammad SAW. Tujuan akhimya, mereka ingin membersihkan NU dari keseluruhan tradisi‑tradisi peribadatan dan keagamaannya,”

Karena itu, ia meminta kepada semua warga dan tokoh NU untu bersatu padu dengan menjaga persaudaraan dan kekompakan antar sesama. Hanya dengan itu, geraka .kelompok‑kelompok yang ingi menghancurkan NU dan NKRI dapat dibendun. Beliau “Mendesak kepada segenap warga nahdiyin dan segenap pimpinan di semua lapisan untuk mempererat tali silaturrahmi yang tulus, dan bebas dari kalkulasi politik sesaat,”

la juga meminta kepada warga dan tokoh NU untuk membentengi masjid-masjid yang selama ini digunakan sebagai pusat beribadah dari “serangan” kelompok-kelompok yang ingi menghancurkan NU dan NKRI secara sistemik. “Saya minta kepada warga NU dan tokoh NU membentengi mesjid-mesjid Nahdiyin. dengan menjadikannya sebagai pusat pemberdayaan umat dan bangsa, ” katanya.

Kiai Hasyim Mudzadi lebih lanjut mengatakan: WargaNU, sudah selayaknya menolak ideology transnasional baik yang radikal dari Timur Tengah maupun yang liberal dari Barat. Justru itulah pihaknya sepakat dengan Pak Ud agar NU menolak paham . ideologi transnasional. “Kami berkeliling ke Barat dan Timur Tengah untuk mengampanyekan NU sebagai ideologi alternatif. Kami dari NU, adalah pemimpin Islam pertama di dunia yang datang ke “ground zero” di New York AS (lokasi pengeboman WTC pada 9‑112001) untuk menolak “kekerasan” dari Islam ideologis.

Demikian juga kami datang ke Irak, Iran, dan Palestina untuk menolak kekerasan” dari liberalisme ala Barat,” tegas Presiden World Conference on Relegions and Peace (WCRP) ini. Menurut Kiai Hasyim, pihaknya datang ke Timur Tengah dan melihat, temyata Irak, Iran, dan Palestina menjadi korban ideologi liberalisme Barat, mereka diibaratkan sebagai binatang aduan seperti jangkrik. Mereka diadu domba intelejen asing, agar penjajah dapat kemenangan secara gratis. NU datang ke sana dengan misi membuat perdamaian dan mendorong agar mereka bersatu. Kami mengampanyekan kepada mereka Islam ala NU kepada dunia bahwa NU melihat Islam adalah agama, bukan ideologi, karena itu. apa yang terjadi di Timur Tengah selama ini bukan Islam sebagai agama, tapi sebagai ideologi Islam.

Agar warga NU terlindung dan dapat membentengi diri dari serangan dan rongrongan paham di luar Aswaja, lanjut Kiai Hasyim, maka perlu terus menerus mengkaji fikroh Nahdliyah agar menjadi matang, yang selanjutnya menjadi pedoman warga nahdliyin.

Tantangan NU sekarang ini begitu nyata, di antaranya adalah faktor regenerasi. NU kini telah melewati tiga generasi, dan ada indikasi mengalami penurunan perhatian pada masalah yang idealis. Kenyataan inilah yang mengakibatkan ketidak pedulian dan ketidak tahuan generasi uda terhadap NU. Faktor berikutnya adalah semangat kebebasan atau liberalisasi pemikiran. Menurutnya, faktor tersebut berperan besar dalam‑ melahirkan kelompok-kelompok. tertentu yang sekaligus menjadi tantangan bagi NU. Di antaranya, kelompok radikal keagarnaan  (tasyaddud fiddien),  baik pemikiran  (tatorruf fiqri)  maupun  tindakan. (tatorruf haroki).

Ini sebagian besar dipicu oleh masuknya pemikiran internasionalisme Islam (persatuan umat Islam yang berada di bawah satu kepemimpinan tunggal) yang umumnya berasal dari Timur Tengah. Tujuannya untuk menerapkan syariat Islam di Indonesia sesuai dengan negara yang ia datangi,” papar Kiai Hasyim.

Kelompok tersebut, kata Kiai Hasyim, memiliki ciri tidak menghormati perbedaan kondisi kenegaraan dan sosial politik serta keragaman budaya setempat. Mereka hanya mengambil alih atau menerapkan ulang suatu metodologi atau paham tanpa menghargai kebudayaan setempat.

Masdar menambahkan, ciri‑ciri mereka ini, kerap menuduh NU sebagai organisasi sesat dan menyimpang. Mereka menilai NU, penuh dengan tahayyul, bid’ah dan khurafat. Hanya kelompoknya sendiri yang dianggap paling benar dalam beragama.

Kelompok ini begitu sistemik bergerak, baik di perkotaan maupun pedesaan. “Mereka ini sangat terorganisir gerakannya dan semakin gencar menggerogoti basis‑basis NU melalui penyerobotan masjid-masjid nahdliyin secara sistematis. Bukan hanya di perkotaan, tapi juga di desa‑desa,”

Wujud dari pada internasionalisme Islam itu ada beberapa hal, Pertama, yang bernuansa Wahabiyah (penganut paham Wahabi). Ini meliputi flkriyah (pemikiran) dan harokiyah (gerakan). Kedua, gerakan politik yang tidak seimbang dengan agama tetapi menggunakan tema agama, ketiga adalah lemahnya gerakan tawassuth (moderasi). Mereka menganggap tawassuth dan I’tidal (konsistensi) adalah tawakkuf (jumud) sehingga memunculkan radikalisme, reaktif, bukan konsepetual. Di sisi lain, liberalisasi pemikiran dalam agama menggunakan ukuran-ukuran Barat, sehingga posisi-posisi fikih diganti masolihul mursalah (kaidah mengenai kemaslahatan) yang tanpa manhaj (metode), maka lahirlah  hermeneutika  (penafsiran) dengan ukuran‑ukuran ammah (masyarakat) yang tidak seimbang antara pemikiran dengan maslahah (kesejahteraan) hidup,”

Semua hal itu secara sistematis merupakan geraka yang mendunia. Namun, para penganutnya di Indonesia dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu mereka yang memang merupakan bagian dari gerakan glabal, tetapi ada juga yang sekedar ikut‑ikutan karena khawatir kalau dianggap tidak maju. Sebaliknya yang terjadi adalah terIalu maju. Aliran tersebut tidak kecil pengaruhnya, karena langsun mengancam pemikiran, termasu budaya. Mereka secara. perlahan tapi pasti akan menggantikan hampir seluruh norma agama. “Ambil contoh, sekarang ini orang sudah tidak lagi berpikir bersinggungan dengan lain jenis dalam keadaan berdesak‑desaka batal atau tidak, dan tak lagi berpikir bersalaman itu mukhtalaf (masih diperdebatkan) atau tida karena sudah lebih dari itu. Dan ini sebenarnya bukan saja disebabkan liberalisa pemikiran, tetapi juga liberalisasi budaya tegasnya. Saat ini upaya mengontrol terhadap pikira sudah tidak bisa dilakukan dengan alasan bahwa pikiran adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol dan diatur perundangan sehingga pakemnya menjadi hilang. “Akhirnya Ahmadiyah yang ekstrim (zindik), yang setengah Mbah Suro (kebatinan) ini tumbuh subur di tengah tarik menarik antara tatorruf yamani (ekstrim kanan) yang tasyaddu (keras) dengan tatorruf yasari (ektri kiri) yang tasyahul (menyepelekan hukum),” jelas Kiai Hasyim. (RISALAH Edisi II Th I/Jumadil Tsaniyah 1428 H)

Salah satu upaya untuk menangkal dan menghambat laju berkembangnya gerakan tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Karawang, mencoba menerbitkan buku ini, yang berisikan “mewaspadai bahaya ideologi transnasional: radikalisme Timur‑Tengah; dan liberalisme Barat, sebagai masukan kepada generasi muda NU khususnya dan masyarakat pada umumnya yang masih polos dan kurang memahami sejarah bangsa. Buku ini juga memuat, pentingnya mengenal, memahami dan mencintai NU sebagai sebuah kajian fikroh Nahdliyah seperti yang diamanatkan KH. Hasyim Mudzadi Pengurus Besar Nadlatul Ulama. Sebab hanya dengan Fikroh Nahdiyin yang mengedepankan Sikap tawasuth dan I‘fidal, Sikap tatsamuh, Sikap tawazun, dan Amar ma’ruf nahi mungkar, nasib NKRI dan Idiologi Pancasila dapat diselamatkan.

(Buku: NU dan NKRI Dalam Bahaya, Oleh: Drs. H. Muhammad Sholihin)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: Keaswajaan, Khilafah

3 Responses to “NU dan NKRI Dalam Bahaya”

  1. jefriship
    06/05/2012 at 20:50 #

    bukunya diringkas dan dicetak sesuai buku saku.dan secara berkala disebarkan dengan cuma cuma.di masjid,musola,kantor2 dll.InsyaALLoh…lama lama akan manfaatnya akan terasa.

  2. 06/08/2013 at 04:42 #

    maaf, sepertinya dlm artikel itu ada fakta yg perlu diluruskan, salah satunya:
    “…yang ingin membuat Negara Islam Indonesia (NII), dengan jargon Saatnya Khilafah Islamiyah memimpin dunia.” (paragraf 7)

    setahu saya yg jargonnya ‘Saatnya Khilafah Memimpin Dunia’ itu bukan NII, tapi HTI. dan HTI tdk sama dgn NII, HTI jg tdk punya akar sejarah dgn NII.

    kemudian ada yg aneh dlm tulisan ini, kalo anda memang waspada dgn ideologi transnasional (radikal tim-teng) knp said aqil sirodj justru lulusan universitas arab? (…tegas Kiai Said doktor lulusan Umul al‑Qura Makkah, Arab Saudi, Fakultas Ushuluddin dengan predikat Summa Comlaude ini)

Trackbacks/Pingbacks

  1. NU dan NKRI Dalam Bahaya « Al Magrub Blog Copasteu - 24/10/2012

    [...] NU dan NKRI Dalam Bahaya, Oleh: Drs. H. Muhammad Sholihin) Sumber: http://www.sarkub.com/2012/nu-dan-nkri-dalam-bahaya/ Sebarkan :TwitterFacebookLinkedInSurat elektronikCetakLike this:SukaBe the first to like this. [...]

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


× 2 = 2