12:31 pm - Thursday April 17, 2014

Dialog Dengan Wahabi Yang Mengkafirkan Ibunda Nabi SAW

Pada suatu pagi, saya duduk duduk I’tikaf lurus depan ka’bah. Tepatnya sebelah lokasi sumur zamzam dulu. Tiba tiba ada anak muda Indonesia yang menghampiri saya dan duduk disebelah saya.

Saya bertanya padanya katanya baru selesai tawaf. Akhirnya kami pun berkenalan dan saling tahu satu sama lain. Rupanya dia menuntut ilmu alias sekolah di Ma’had Masjidil Haram di lantai dua Baabul Malik Fahd. Ketika saya tanya, dia menjawab saat ini ambil jurusan Hafidz Al Qur’an disitu. Singkat kata singkat cerita,  tibalah diskusi saya dengannya sebagai berikut:

Saya bertanya: ”Menurut antum, ziarah kubur itu bagaimana sih?”

Dia menjawab: ”Sunnah akhi… memang dulu nabi pernah melarangnya, namun kemudian beliau justru memerintahkan kita untuk berziarah.”

Saya bertanya: ”Bisa antum sebutkan redaksi hadits nya yang saat nabi melarangnya?” Misalnya:”Janganlah kalian berziarah kubur…!! dll?

Dia: ”Wah, afwan,,, ana gak tahu akhi… Yang ana tahu ya hadits larangan yang bersambung kemudian dengan perintah ziarah kubur itu”.

 Saya bertanya: ”Apakah ada batasan dalam kandungan perintah nabi dalam ziarah kubur tersebut?”

Dia menjawab: ”Ya iyalah… bahkan ada pendapat yang mengatakan, kalimat perintah nabi untuk berziarah kubur itu tidak berlaku untuk perempuan. Artinya untuk perempuan tidak di sunnahkan berziarah, bahkan Allah SWT dan Rasulullah mengutuknya.”

 Saya: ”Masya Allah… segitu nya ya?, Maaf apakah antum sependapat dengan pendapat itu?”

Dia menjawab: ”Iya !! ini lho akhi bunyi haditsnya:

لعن رسول الله زوارات القبور

Pernah dengar dan baca hadits ini khan akhi?”

Saya: Oh itu.. Iya… Alhamdulillah saya juga mengetahui hadits itu. Hadits itu adalah haditsnya Hasaan bin Tsabit. Yang dikeluarkan oleh Ibnu Majjah dari jalur Faryabi. Dan juga Imam Baihaqi dalam sunan kubronya, dari jalur Sufyan Atsaury. Dan dalam kitab Zawaaid dikatakan bahwa sanadnya Hasaan bin Tsabit itu Shohih dan para rawinya itu terpercaya semua. Hadits ini juga dikeluarkan oleh imam Tirmidzi dan kata beliau “Hasan Shohih”. Juga ada yang senada dengan hadits tersebut yang diriwayatkan oleh imam Annasa’i dan Abi Dawud. Wallahu a’lam.

Dia:”Yaa begitulah akhi…

Saya: ”Apakah anda tidak pernah baca atau mendengar, sebuah hadits yang menceritakan bahwa Aisyah berziarah ke kuburan baqi’ madinah, bahkan oleh Nabi  SAW di beri tahu tata caranya berziarah?”

Dia: ”Mmmm… Yang mana ya?”

Saya: ”Oh.. lewat deh… Kalau misalnya saya berziarah ke kuburannya orang kafir, boleh nggak?”

Dia menjawab: ”Ya jelas nggak boleh akhi…. Ini juga, termasuk pengecualian dari hadits perintah berziarah kubur tadi… Jadi maksud nabi, hanya mencakup kuburannya orang orang muslim akhi… Lagian ngapain antum berziarah ke kuburannya orang non muslim… hahaha… ada ada aja akhi ini…

Saya: ”Ya endaklah… saya khan cuma tanya, misalnya… Lalu, kalau boleh tahu, maaf, apakah anda termasuk orang yang berpendapat ibunda nabi Muhammad orang kafir?”

Dia menjawab: ”Iya akhi… antum kok tahu?” memang seperti itu adanya akhi…

 Saya: ”Hmmm… Lantas kenapa Allah kok mengijinkan Nabi SAW menziarahi kuburan ibundanya tersebut? Bukankah tadi antum mengatakan, kita tidak boleh berziarah ke kuburannya orang non muslim (Kafir)?”

Dia: ”Masak seperti itu akhi?” Setahu saya, Nabi SAW tidak di ijinkan oleh Allah untuk memohon ampunan atas ibunya itu, bagaimana menurut antum ini akhi?”

“Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengizinkannya. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibuku, maka Dia mengizinkannya. Maka berziarahlah kalian karena ziarah tersebut dapat mengingatkan kalian kepada kematian” (HR. Muslim : 3/65). – red.

 Saya: ”Ya benar memang begitu bunyi hadits alenia pertamanya… Nabi memang tidak di ijinkan oleh Allah SAW untuk memohonkan ampunanNya atas ibunya.. Namun bunyi alenia kedua hadits tersebut menjelaskan bahwa Nabi SAW cukup di ijinkan menziarahinya saja.

Dia: ”Lantas apa artinya semua itu? Nabi tidak boleh memohonkan ampunanNya atasnya?”

Saya: ”Ya jelaslah… Allah tidak mengijinkannya… Itu maskudnya tidak perlu !! dan tidak usah !!

artinya, ibundanya Nabi SAW tidak perlu di mohonkan ampunan, karena beliau tidak punya dosa dan telah menjadi penghuni surga yang abadi. Lantas bagaimana dengan pertanyaan saya tadi?” Mohon di jawab akhi !!

Dia: ”Ada haditsnya nggak?”

Saya: ”Ada akhi… begini bunyinya kalau nggak salah:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور, فزوروها فقد اذن لمحمد فى زيارة قبر امه.

“Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad teah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah!” Hadits riwayat imam Muslim dan imam Tirmidzi.

Bagimana tanggapan akhi?”

Dia: ”Wah… maaf, kayaknya saya tidak bisa meneruskan dialog kita ini akhi… saya harus pamit dulu… Assalamu’alaikum…

Saya: ”Wa ‘alaikumus salaam warohmatullahi wabarokatuh…

*twing ^^

Oleh: Kaheel Baba Naheel. Bakkah, 2 Mei 2009

Dari dialog tersebut maka terlihat sekali kalau wahabi sangat tergesa-gesa mengatakan bahwa ibu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah kafir. Wal ‘iyadzubillah… Inilah kesalahan wahabi. Mereka tidak pernah melihat dalil-dalil lain yang lebih kuat dan lebih qoth’i. Sudahlah cara mereka sangat tekstual dalam memahami nash ditambah pula tak mau melihat dan menggabungkan dalil-dalil lain yang ada. Maka hancurlah istimbath mereka dalam segala bidang, baik fiqih, tauhid maupun tasawuf.

Mengenai hadits di atas, mari kita dengar apa kata Imam Suyuthi:

“ Adapun hadits tersebut maka tidak mesti diambil daripadanya hukum kafir berdasarkan dalil bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga ketika di awal-awal Islam dilarang untuk menyolatkan dan mengistighfarkan orang mukmin yang ada hutangnya tapi belum dilunaskan karena istighfar Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan dijawab Allah dengan segera, maka siapa yang diistighfarkan Rasul dibelakang doanya akan sampailah kepada derajat yang mulia di surga, sementara orang yang berhutang itu tertahan pada maqomnya sampai dilunaskan hutangnya sebagaimana yang ada dalam hadits (jiwa setiap mukmin terkatung dengan hutangnya sampai hutangnya itu dilunaskan). Maka seperti itu pulalah ibu Nabi alaiha salam bersamaan dengan posisinya sebagi seorang wanita yang tak pernah menyembah berhala, maka beliaupun tertahan dari surga di dalam barzakh ; karena ada sesuatu yang lain diluar kufur.”[At-Ta’zhim wal Minnah Suyuthi hal 29].

Kemudian mari kita simak apa kata Al-Allamah Al Arif Billah Syaikh Zaki Ibrahim:

Sesungguhnya ahlul bait Nabi tak akan masuk ke dalam neraka dan ibunya adalah daripada ahlul bait Nabi sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dan lainnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Aku memohon kepada Allah supaya tidak ada satupun ahlul baitku yang masuk ke dalam neraka, maka Allah mengabulkan permhonanku.” Dan begitupula yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari dari Ibnu Abbas tentang penafsiran ayat: wa la saufa yu’tika Rabbuka fa tardha; dan daripada keridhoan Muhammad adalah tidak ada satu daripada ahlul baitnya yang masuk ke dalam neraka. Maka memintakan ampun kepada ibunya dalam kondisi yang seperti ini juga merupakan suatu hal yang sia-sia dan percuma, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam disucikan Allah dari hal yang percuma dan sia-sia.[‘Ismatun Nabi Zaki Ibrahim hal.96]

Wallahu a’lam bishshowab


Konon ini adalah foto makam ibunda Nabi kita Muhammad bin Abdillah sholollohu alaihi wasallama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: Dialog, KAJIAN ASWAJA

60 Responses to “Dialog Dengan Wahabi Yang Mengkafirkan Ibunda Nabi SAW”

  1. 26/04/2012 at 18:02 #

    lho sumbernya jangan lupa, itu punyaknya ustadz Kaheel :)

    • 26/04/2012 at 21:40 #

      bisa mbaca gak sih, kan udah ditulis “Oleh Kaheel Baba Naheel” :p

      • 28/04/2012 at 05:28 #

        akakakak

        aku cuma liat bagian atas dan bawah saja :D

        kan biasanya di situ :d

  2. 26/04/2012 at 19:20 #

    ngajak dialog tu ya sama yg berilmu kyk abu umar abdilah (ar-risalah), abu umar basyier (elfata), kholid syamhudi, fariq ghasin an-nuz,dll. Berani gak tim sarkub?

    • 26/04/2012 at 20:04 #

      bos… dari dulu Tim Sarkub sdh umumkan siap duel debat sama ulama sekte wahabi, baik produk lokal maupun import.. dg syarat TERBUKA UNTUK UMUM… dan sampai sekarang mereka gk berani jawab.

      • Alif Hayah
        20/05/2013 at 09:36 #

        :-) ….. MantabF boss. Fajar tuh memang persis wataknya dengan saudara-saudara seideologi, tukang adu domba. Dia mungkin cetakan terbaru Wahabi

  3. Abu Faraqna
    26/04/2012 at 20:03 #

    Hati-hati menyampaikan hadist palsu/menambah-nambahi yang tidak jelas sumbernya. Ingat ancaman Rasululloh : “Barang siapa berdusta atas namaku silahkan menempati tempat tinggalnya dineraka”

    • 26/04/2012 at 21:22 #

      HATI-HATI JUGA MENUDUH ITU HADITS PALSU,, Ingat ancaman Rasululloh : “Barang siapa berdusta atas namaku silahkan menempati tempat tinggalnya dineraka”

  4. 27/04/2012 at 06:18 #

    mereka yang gak berani menjawab atau mungkin anda yang gak berani datang atau perlu saya sampaikan kepada salah satu dari mereka (seperti Ust. Abu Umar Abdillah, pemred Majalah Ar-Risalah)???

    • Prabu Minakjinggo
      03/05/2012 at 10:11 #

      kuplek amat sih antum, kan udah di bilang terbuka di depan umum, ehhhh… malah d suruh dtg ke markas salafi/wahabi

      • Alif Hayah
        20/05/2013 at 09:40 #

        :- ) … ngeyelan, nih orang, ga’ paham bahasa Indonesia. sudah dibilang, tokoh lokal maupun “interlokal”, tokoh import maupun export siap dilayani. Mulutmu dower, Jar!

  5. Abu Faraqna
    01/05/2012 at 04:34 #

    Dari Anas, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya, “Ya Rasulullah… Di manakah tempat ayahku? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di neraka” Maka tatkala orang itu berpaling hendak pergi,beliau memanggilnya, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu tempatnya di neraka” (Hadits Shahih Riwayat Muslim juz 1)

    Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ziarah ke kubur ibunya, lalu ia menangis yang menyebabkan orang-orang di sekelilingnya (para Shahabat) turut menangis. Lalu beliau bersabda, “Aku meminta izin kepada Tuhanku supaya aku dibolehkan untuk memohonkan ampun baginya, tapi tidak diizinkan bagiku. Lalu aku meminta izin supaya aku dibolehkan menziarahi kuburnya, maka diizinkan bagiku. Oleh karena itu ziarahilah kubur-kubur itu, karena menziarahi kubur itu dapat mengingatkan mati” (Hadits Shahih Riwayat Muslim : 3/65, Abu Dawud : 3234, Nasa’i : 2/72, Ibnu Majah : 1572, Baihaqi : 4/76, Ahmad dan Thahawi : 3/189)

    Dari Buraidah, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu “alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan/safar, lalu beliau turun bersama kami, sedangkan kami pada waktu itu mendekati seribu orang. Kemudian beliau shalat dua raka’at (mengimami kami), setelah selesai beliau menghadapkan wajahnya kepada kami sedangkan kedua matanya mengalir air mata. Lalu bangkitlah Umar bin Khaththab menghampirinya dan berkata, “Ya Rasulullah, mengapakah engkau (menangis)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku telah meminta kepada Tuhanku Azza wa Jalla untuk memohonkan ampun bagi ibuku, akan tetapi Ia tidak memberi izin kepadaku, maka dari itulah mengalir air mataku karena kasihan kepadanya yang ia termasuk (penghuni) neraka” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Hakim : 1/376, Ibnu Hibban : 791, Baihaqi : 4/76 dan Tirmidzi)

    Tiga hadits diatas menjadi dalil/hujjah yang kuat dan shahih serta tegas dan terang bahwa ibu-bapak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk neraka. Hadits ini juga mengandung hukum bahwa kita boleh menziarahi kubur orang-orang kafir asalkan tidak mendo’akannya. Karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ziarahilah kubur-kubur, karena menziarahi kubur itu dapat mengingatkan mati” ini bersifat umum, baik kubur muslim maupun kubur kafir, karena semuanya itu dapat mengingatkan kita kepada mati dan akhirat.

    Kemudian, mengapakah hai kaum yang keras kepala masih bertahan atas pendirianmu yang salah itu?

    Ketahuilah… “Apabila sesuatu hadits itu telah SAH, maka itulah madzhabku”
    Itulah madzhab dari A-immah Arba’ah (Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal) imamnya para Ahli Sunnah.

    • Magribill
      04/06/2013 at 09:21 #

      kayaknya ada yg salah dalam terjemahin hadistnya [صلى الله عليه وآله وسلم] “bapakmu & bapakku dalam neraka”, maksudnya bapakku adalah bapak keturunan (bukan bapak kandung) kayak abu tholib, ato abu lahab, karena, selama nabi masih kecil mereka lah yg lama mengasuhnya,

  6. Abu Faraqna
    01/05/2012 at 05:27 #

    “Bila engkau tidak tahu, maka itu musibah. Dan bila engkau tahu, maka musibahnya lebih besar” (I’lam Muwaqqi’in : 2/487 oleh Ibnul Qayyim)

    “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim : 91)

    “Demi Alloh yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, Kalau sekiranya Musa berada di tengah-tengah kamu, kemudian kamu mengikutinya dan kamu meninggalkanku, pasti kamu akan tersesat” (HR. Ahmad : 3/470-471 dan 4/265-266)

  7. Abu Faraqna
    01/05/2012 at 05:29 #

    “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah : 42)

  8. Mbah Jo
    01/05/2012 at 07:19 #

    Orang tua Nabi saja mereka kafirkan/anggap dineraka,bgmana dgn org tuanya..?
    Dengan anggapan ini menunjukkan ke-kurang ajaran-nya.
    Sungguh sampai hati melakukan itu. Pantaskah kalian mengaku sebagai ahlus sunah wal jama’ah..?
    Beginikah akhlaq & adab wahaby terhadap Nabinya..?
    Sunnah siapa & yg manakah yg kalian turut & ikuti..? Muhammad bin Abdullah Rosululloh SAW atau siapakah…?!

    • Abu Faragna
      04/05/2012 at 23:11 #

      Untuk Mbah Jo yang bodonya sundul langit. Hadist itu yang nyampaikan Rasululloh sendiri dan yang nyatakan orang tua Rasululloh di neraka juga Rasululloh sendiri. Trus kenapa antum yang tidak terima???

      • Mbah Jo
        07/05/2012 at 12:09 #

        Alkhamdulillah…aku dibilang bodo..
        Trima kasih mbah abu..mudah2an si bodo ini ndak brani nglunjak menyakiti hati kanjeng Nabi..hadits itu biar kanjeng nabi sndiri yg memahaminya. Sbgai umatnya (insya Alloh),cukup mengambil hikmahnya,bahwa jgnkan orang biasa,keluarga nabi pun tidak dijamin Alloh atas kenabian seorang keluarganya,demikian pemahaman si bodo ini. Mohon maap telah mbuat anda marah (dosa lagi aku..)

  9. 01/05/2012 at 09:50 #

    Saudaraku Mbah Jo, saya mohon dalam berdialog tdk mengedepankan emosi, hujatan, dan hawa nafsu belaka tanpa melihat sumbernya terlebih dulu. Mari kita yg memang ingin menjadi ahlus sunnah yg sesungguhnya dan bukan sekedar klaim saja utk kembali menyelesaikan segala permasalahan dengan merujuk dan mengembalikan pada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman. Kita lihat, kita cermati, kita pelajari, dan kita telaah, bagaimana sih, kedua sumber pedoman utama kita tersebut memandangnya.

    • Mbah Jo
      07/05/2012 at 12:23 #

      Betul sodaraku Mas Fajar..
      Bila menurut anda saya menghujat,itu hak anda..tapi sesungguhnya saya ndak pernah menghujat,bila saja mereka,maaf,pengikut pemahaman wahabi,tidak merasa paling benar & sembarangan menjustifikasi yg diluar pemahamannya sebagai golongan sesat. Saya miris mendengar statemen kafir,sesat yg ditujukan kpd sseorang yg masih menjalankan syariat. Musuh2 umat Islam diluaran sangat banyak dan semakin giat menyerang muslimin untuk dimurtadkan,tidak lucu bila sesodara saling bergesekan.Maaf,itu refleksi atas sikap takfir thd ssama muslimin..

      • Abu Faraqna
        10/05/2012 at 07:42 #

        Musuh diluar Islam telah diketahui dengan jelas dari benderanya yaitu yahudi & nashara. Tapi musuh dari dalam lebih berbahaya lagi,karena mereka mengaku islam / berbaju islam tetapi merusak islam dari dalam. Mencampur adukkan antara yang haq dan bathil, mendakwahkan & mengajak umat kepada bid’ah/syariat yang tidak Rasululloh ajarkan,contohnya situs ini.

        “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah : 42)

  10. Abu Faraqna
    02/05/2012 at 17:03 #

    Untuk Mbah Jo dan koco-konconya…. Ayat Al Qur’an dan hadist Rasululloh yang shahih saja antum tolak, terus antum mau ikuti syariat siapa??? Ketahuilah barangsiapa yang kufur satu ayat saja dalam Al Qur’an & hadits shahih akan membatalkan ke-Islamannya.

    • 03/05/2012 at 23:45 #

      weleh2!gk pnya malu,bsa tahu hadist n al-qur’an tp kok di kasih hadist gundulan/tanpa harokat mobat-mabit gk bsa bcra.
      @prabu:buktikan kang prabu nahwu/sorof’y gk becus,alif bengkong ae gk reti.hahaha…..!!!!pedot sanad brani ngafirkan orang2.

  11. Prabu Minakjinggo
    03/05/2012 at 09:55 #

    Gak kebalik nih, kan gol wahabi/salafi yang sering nolak Ayat Alquran dan Hadits Nabi SAW ?

  12. Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad
    08/05/2012 at 11:37 #

    @Abu Faraqna, Sebaiknya kita berhati-hati dalam mengambil suatu hadits yang kemudian menghukumi (terutama orang tua Rasulullah) dengan “Kafir”. Berhati-hatilah dalam mengambil dalil. Saya membenarkan hadits yang saudara nukil dari Shahih Muslim. Tapi mari kita secara jernih melihat kedudukan kedua orang tua Rasulullah S.A.W. yaitu :
    1. Pernahkah saudara membaca didalam Al Qur’an ayat yang berbunyi :
    إِنَّمَا يريدُ اللَّه لِيُذْهِب عَنْكُم الرِّجْس أَهْلَ الْبَيْت وَيطَهِّرَكُم تَطْهِيراً
    “Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan najis dari ahlul baitmu dan mensucikan mu dengan sesuci-sucinya.”
    2. Pernahkah saudara membaca dalam Hadits Riwayat Imam Muslim juga yang berbunyi :
    إن الله اصطفاني من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد إسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم

    Sesungguhnya Allah mensucikan daripada anak2 Ibrahim: Ismail, mensucikan daripada anak2 Ismail: Kinanah, mensucikan daripada Kinanah Quraisy, dan mensucikan daripada Quraisy: Bani Hasyim, dan Allah mensucikan aku daripada Bani Hasyim.(Hadits Riwayat Imam Muslim)

    Jika saudara Abu Faraqna membaca kedua dalil diatas, maka sebenarnya sudah cukup untuk dijadikan hujjah sucinya ahlul bait Rasulullah S.A.W., termasuk Bapak dan Ibunya. Kita juga harus berfikir jernih Rasulullah S.A.W. yang kita sanjung dan ikuti semua ajarannya adalah hamba Allah yang suci. Bagaimana sesuatu yang suci keluar dari sesuatu yang batal, kotor, kafir dan lain sebagainya.

    Berkaitan dengan hadits yang saudara kemukakan dari Riwayat Imam Muslim yang mengatakan bahwa “Bapakmu dan Bapakku di Neraka”, mari kita baca penjelasan dari Al Hafidz Imam Abu Zakaria Yahya ibn Syaraf Nawawi Ad Dimasyqi As Syafi’i (yang dikenal sebagai seorang Pakar Hadits yang musalsal sanadnya sampai Rasulullah, dikenal dengan Imam Nawawi) mengenai hadits yang anda kemukakan itu sebagai berikut :

    فِيهِ : أَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَى الْكُفْر فَهُوَ فِي النَّار ، وَلَا تَنْفَعهُ قَرَابَة الْمُقَرَّبِينَ ، وَفِيهِ أَنَّ مَنْ مَاتَ فِي الْفَتْرَة عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ الْعَرَب مِنْ عِبَادَة الْأَوْثَان فَهُوَ مِنْ أَهْل النَّار ، وَلَيْسَ هَذَا مُؤَاخَذَة قَبْل بُلُوغ الدَّعْوَة ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ كَانَتْ قَدْ بَلَغَتْهُمْ دَعْوَة إِبْرَاهِيم وَغَيْره مِنْ الْأَنْبِيَاء صَلَوَات اللَّه تَعَالَى وَسَلَامه عَلَيْهِمْ . وَقَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ أَبِي وَأَبَاك فِي النَّار ) هُوَ مِنْ حُسْن الْعِشْرَة لِلتَّسْلِيَةِ بِالِاشْتِرَاكِ فِي الْمُصِيبَة

    Di dalam hadits ini: bahwasanya siapa yang mati dalam kekafiran maka dia di neraka dan tidak memberikan manfaat kepadanya hubungan kekerabatan, dan di dalam hadits juga bahwa siapa yang mati dalam masa fatrah (masa tidak adanya seorang Rasul) akan tetapi dia menyembah berhala maka dia daripada ahli neraka dan inipun tidak berlaku sebelum sampainya dakwah (Islam). Maka sesungguhnya mereka itu (kaum bapak si penanya), telah sampai dakwah Ibrahim kepada mereka dan dakwah nabi-nabi yang lain. Dan sabdanya Saw: (Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka) ia daripada bentuk luwesnya pergaulan (Rasulullah) untuk menghibur (si penanya) dengan mengatakan sama-sama tertimpa musibah (maksudnya neraka).

    Beliau yang seorang pakar hadits bahkan beliau memiliki sanad yang jelas atas setiap hadits yang beliau sampaikan saja mengatakan demikian, maka terlalu berani anda yang “mohon maaf” saya tidak tahu belajar darimana berani mengatakan Bapak dan Ibu Nabi kafir.

    Marilah kita belajar lebih dalam lagi kepada ulama’ yang benar-benar memahami bahkan kalau bisa mempunyai jalur sanda yang jelas. Ambil contoh KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) beliau adalah salah satu pemilik sanad Kitab Shahih Bukhari yang jelas sanadnya musalsal.

    Demikian kami sampaikan semoga menjadi kebaikan kita semua, tanpa membid’ahkan atau mengkafirkan sesama muslim.

    Dan hanya Allah satu-satunya Dzat Yang Maha Benar.

    Terimakasih

    Hamba Allah Yang Dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    • Abu Faraqna
      10/05/2012 at 07:13 #

      “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujuraat : 1)

      Kita tidak mengetahui tentang keberadaan orang tua Rasululloh tanpa sabda beliau,apa yang keluar dari lisan beliau adalah wahyu yang diterima dari Allah.

      “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS.An Najm : 4)

      • 10/05/2012 at 11:31 #

        @abu faraqna, jangan2 antum yang tidak mengetahui keberadaan orang tua anda…

        • huda
          06/08/2012 at 17:30 #

          Memangnya Kakang Prabu tahu, orang di akhirat, apakah nanti di Syurga atau Neraka ?
          atau yaqin akan ke Syurga ?

      • Juru selamat
        10/05/2012 at 12:09 #

        O…ternyata yang kau ikuti anaknya orang kafir…pintar kali kau ikut orang kafir..mending ikut sajalah sama yang suda benar2 selamat,beres,ngapain kau repot-repot..?(sory coy,jangan marah kau..kan kau sendiri yg bilang itu kafir..)

      • Ibn Bayt
        10/05/2012 at 14:33 #

        @abu faraqna. kalimat yang anda keluarkan diatas semua itu bukan bagian dari pada ISLAM, itu hanya merupakan sebagian kecil dari pemahaman anda mengenai ISLAM. Maka alangkah baiknya apabila anda saya dan semuanya bisa saling menghargai, biarlah nanti kita mempertanggung jawabkannya nanti.

      • nokia_male
        10/05/2012 at 14:53 #

        Menjawab Fitnah: Abdullah Dan Siti Aminah Berada Dineraka
        Ditulis pada 14 Januari 2011

        Status Abdullah di akhirat kelak, termasuk ahli surga atau neraka? Tercatat dua kubu besar ulama yang berselisih tentang statusnya di akhirat:

        Pendapat Pertama

        Kubu pertama percaya bahwa bapak dan ibu nabi ini akan menjadi penghuni neraka. Salah satu dalil yang dipakai dalam menghukumi kedua orang tua nabi ini adalah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar, At-Thabroni, dan Al-Bayhaqi, dengan lafadz dari Ma’mar:

        “Seorang arab bertanya kepada nabi, “di mana bapakku?”. Jawab nabi, “di neraka?”. “Lalu di mana bapakkmu?” tanya orang arab itu lagi. ”Ketika kamu melewati kubur seorang kafir, maka sesungguhnya dia langsung berada di neraka” sanad hadits ini shahih menurut syarat syaikhani; Bukhori-Muslim [Sunan Ibnu Majah: Bab Janaiz, hal.105].

        Al-Baihaqi dan At-Thabroni menambahkan, setelah menanyakan hal tersebut, orang Arab tadi langsung masuk Islam. Untuk sedikit perenungan, lafadz-lafadz hadits yang menyebutkan ayah dan ibu nabi berada di neraka bertentangan dengan spirit ayat yang artinya:

        Al-Isra: 15 “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

        Jadi bisa disimpulkan, sebelum turunnya perintah dan larangan tidak ada keburukan yang akan dikenakan adzab (sangsi), kecuali setelah Allah mengutus rasul-rasul yang membawa Syari’at-Nya. Bahkan jumhur ulama bersepakat ayat ini me-nasakh [menghapus] semua hadits yang berhubungan dengan permasalahan tadi ataupun sejenisnya, seperti hadits tentang status balita-balita dari kaum Musyrikin.

        Pendapat Kedua

        Kubu kedua meyakini bahwa orang tua nabi termasuk ahli surga. Muhammad Fauzi hamzah dalam “Abdullah abun-nabi”-nya mengutarakan sebab dikategorikannya orang tua nabi termasuk ahli surga:

        1] Karena mereka tergolong ahlu fathroh yang hidup diantara dua masa kerasulan.

        Dakwah nabi yang pertama tidak sampai pada mereka, dan dakwah nabi yang kedua sama sekali belum diketahui, sebab ajal terlebih dahulu menjemput nyawa mereka. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Al-Aswad bin Sari’ RA menyebutkan:

        4 macam golongan manusia yang protes pada hari kiamat:

        1] Seorang tuna rungu yang tidak mendengar sama sekali,

        2] Orang bodoh,

        3] Seorang tua yang pikun

        4] Seorang yang wafat pada masa fathroh…..orang yang mati pada masa fathroh berkata:

        Tuhanku tidak ada seorangpun dari rasulmu yang sampai kepadaku. Tuhan pun memutuskan keyakinan mereka lalu mengirimnya ke neraka. Maka barang siapa memasuki neraka [diantara mereka berempat, red], akan merasa dingin dan sejuk. Sedang yang tidak ingin memasukinya, tuhan akan menariknya [dari jalur neraka, red].

        2] Mereka masuk surga karena tidak berlaku syirik.

        Sebagian menyebutkan karena mereka mengikuti agama nenek moyangnya nabi Ibrahim, “Alhanifiyyah”

        Tidak hanya kedua sebab tadi yang mengisyaratkan orang tua nabi layak menjadi penghuni surga, karena syafaat pun berlaku buat mereka.

        Rasulullah bersabda, “Mengapa banyak kaum mengatakan bahwa syafaatku tidak akan diperoleh keluargaku, sesungguhnya mereka akan mendapatkan syafaatku [Subulul Huda [1] : 298].

        Wallahu A’lam bis-Showab.

        http://nabimuhammad.info/2010/10/abdullah-bin-abdul-muthalib/

        Imam Al Hafizh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy berkata dalam kitabnya Rujuk Masaalikul Hunafa fii Abaway Musthofa hal. 68 dan Addarajul Muniifah fii Abaway Musthofa hal. 5 :

        “Bahwa hadits riwayat Muslim abii wa abaaka finnaar (ayahku dan ayahmu di neraka), dan tidak diizinkannya nabi saw untuk beristighfar bagi ibunya telah MANSUKH dengan firman Allah swt : Al-Isra 15 “Dan kami tak akan menyiksa suatu kaum sebelum kami membangkitkan Rasul”.

        Bagida Nabi saw bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ra di peperangan Uhud ketika Nabi saw melihat seorang kafir membakar seorang Muslim, maka Rasul saw berkata pada Sa’ad :

        “Panah dia, jaminan keselamatanmu adalah ayah dan ibuku!” Maka Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata dengan gembira : “Rasul saw mengumpulkan aku dengan nama ayah ibunya!”

        (Shahih Bukhari hadits no.3442 Bab Manaqib Zubair bin Awam. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3446 Bab Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqash. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3750 Bab Maghaziy. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3751 Bab Maghaziy)

        Manalah mungkin ……
        Baginda Rasul memberikan jaminan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ra , kalau ayah bunda Baginda Rosululloh saw ada di Neraka …..

        Karena Pada masa itu belum ada Rasul bagi bangsa Arab …….
        Sedangkan Nabi Isa ‘Alaihi Sholatu Wassalam diutus bagi kaumnya saja .

        Seandainya ayah dan ibu nabi sudah dipastikan di neraka ,berarti ada satu doa dalam Al-Qur’an yg tidak diizinkan dibaca oleh NAbi Muhammad saw, yaitu :

        Ibrahim 41

        رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

        Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

        Apa tidak terasa aneh jika ada doa dalam al-Quran yg baginda Nabi saw tidak diizinkan sepanjang hidupnya membaca doa tersebut???

        Wallahu a’lam .

        sumber :Next Misionaris via http://answering-ff.org/board/ayah-ibu-nabi-di-neraka-t4055-15.html

        Ulasan Lanjutan:

        Pembuktian Bahwa Abdul Muthalib adalah beragama Avrahamic karena bertuhankan Allah yang Maha Esa. Jika Abdul Muthalib beragama Ibrahim maka Abdullah pun demikian karena tidak pernah terdengar dalam berbagai kisah-kisah sejarah maupun hadist serta ALQuran yang mengungkapkan bahwa Abdul Muthalib Sang Perawat Bait Tuhan menyembah batu berhala seperti yang dilakukan oleh kabilah-kabilah lainnya.

        As Sirah An Nabawiyah Fi Dhu’l Al Mashadir Al Ashliyah

        Meskipun pada waktu hegemoni paganisme di masyarakat Arab sedemikian kuat, tetapi masih ada beberapa orang yang dikenal sebagai Al Hanafiyun atau Al Hunafa’. Mereka tetap berada dalam agama yang hanif, menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya serta menunggu datangnya kenabian.

        Diantara mereka adalah Qiss bin Sa’idah Al lyaadi, Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Abu Qais bin Abi Anas, Khalid bin Sinan, An Nabighah Adz Dzubyani, Zuhair bin Abi Salma, Ka’ab bin Luai bin Ghalib, Umair bin Haidab Al Juhani, ‘Adi bin Zaid Al ‘Ibadi, penyair Zuhair bin Abi Salma, Abdullah Al Qudhaa’i, Ubaid bin Al Abrash Al Asadi, Utsman bin Al Huwairits, Amru bin Abasah Al Sulami, Aktsam bin Shaifi bin Rabaah dan Abdul Muthalib kakek Rasulullah

      • Mas Derajad
        10/05/2012 at 19:36 #

        @Abu Faraqna semakin kelihatan jawaban anda sangat gusar dan tidak jelas. Saya sarankan anda menarik kata-kata saudara, memohon ampun kepada Allah, perbanyak baca shalawat dan mengaji Qur’an dan hadits kepada ulama’ yang baik dan jelas sanadnya.

        Jangan anda berani mengambil istimbath dari Qur’an dan hadits, apalagi ilmu anda belum cukup untuk itu. Al Hafidz Al Imam Abu Zakaria Yahya ibn Syaraf Nawawi adalah seorang Imam besar utamanya dalam mazhab syafi’i. Beliau ahli lughah Arabiyah, Ahlus sanad, ahli fiqh, dan masih banyak lagi keahlian beliau.

        Memahami Qur,an dan hadits tidak cukup bisa nahwu dan sharaf saja. Ada asbabun nuzul, asbabul wurud, ijma’, qiyas dan banyak lagi yang harus kita pelajari.

        Dus, kalau tidak mengerti semua itu, lebih baik ikuti ulama’ yang mengikuti ahlu salaf yang sesungguhnya, maaf bukan salafi wahabi.

        Semoga Allah SWT selalu membimbing kita melalui ulama’ nya yang menetapi kebenaran. Dan diampuni semua dosa kita.

        Hamba Allah Yang Dhaif

        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  13. 13/05/2012 at 23:15 #

    Wah,… wah… dimana pakde abu ini.. di tunggu komen selanjutnya???

  14. ahmadtaufiq
    13/05/2012 at 23:29 #

    hati2 dengan dua api yang membakar islam:
    1. api dari luar yaitu yahudi dan nashoro
    2. api dari dalam (lebih berbahaya)
    a. syiah-> bentukan yahudi (abdullah bin saba)
    b. wahhabi-> bentukan nashoro (muhammad bin abd wahab)

  15. Abu Faraqna
    14/05/2012 at 07:09 #

    Rasululloh berasal dari keturunan yang suci karena beliau terlahir dari pernikahan yang syah,karena pernikahan sesama orang kafir adalah syah. Tidak ada 1 pun riwayat yang menyatakan pernikahan ulang Rasululloh atau para sahabat yang baru masuk Islam.

    Perkataan kita tentang kedua orang tua beliau dineraka tidak merusak nasab beliau yang suci,tapi ini hanyalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Rasululloh sendiri. Barang siapa yang menuduh ibu kandung Rasululloh (berzina),hukumannya dibunuh baik muslim ataupun kafir,sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah al-Hambali dalam “Al-Mughni”.

    Telah dijelaskan dalam shahih Bukhari & Muslim bahwasanya Rasululloh ketika menjenguk pamannya Abu Thalib ketika mau meninggal dunia & disisi Beliau ada Abu Jahal & Ibnu Abi Umayah, keduanya berkata “Apakah engkau tidak suka dengan agamanya Abdul Muthalib?” Senantiasa Rasululloh mengulang-ulang seruan beliau kepada tauhid,hingga Abu Thalib berkata pada akhirnya “Saya diatas agamanya Abdul Muthalib” dan enggan untuk mengucapkan “La ilaha illalloh”. Maka turunlah firman Alloh yang artinya “Sesungguhnya kamu tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai,akan tetapi Alloh yang memberi hidayah bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al Qashash : 56)
    Hadits ini menunjukkan bahwa Abdul Muthalib mati diatas kesyirikan tanpa diragukan lagi.

    Semuanya ini menjelaskan akan kesempurnaan kekuasaan Alloh dalam penciptaan dan perintah-Nya,serta menjelaskan akan rahasia taqdir Allah Ajja wa Jalla.

    “Dan ketetapan Alloh itu adalah sesuatu ketetapan yang pasti berlaku” (QS.Al Ahzab : 38)
    “Yang demikian itu telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) (QS.Al Israa’ : 58)

  16. 14/05/2012 at 09:00 #

    @abu faraqna, mudah2an kesyirikan dan kekafiran yang antum tuduhkan tidak kembali pada diri antum sendiri

  17. Mas Derajad
    14/05/2012 at 14:39 #

    @Abu Faraqna saudara berucap dan memahami hadits dan Qur’an benar-benar menurut mau anda sendiri, tidak didasarkan pada atsar ulama’ yang mutawattir. Saudara berbicara seakan melebihi Imam Abu Zakaria Yahya Ibn Syaraf Nawawi seorang alim ahlus sanad hadits yang saya sebut diatas. Sebenarnya berapa hadits dan sanad yang saudara kuasai ? Belajar dari mana ? Musalsal tidak sanadnya ? Sungguh kesombongan yang nyata.

    Dalam Shahih Bukhari hadits tentang Abu Thalib paman Rasulallah (seperti yang anda kutip) terdapat dalam hadits nomor 4675 dan 4772. Sedang dalam Sahih Muslim pada hadits nomor 24. Anda membaca atau copas ya ??

    Hadits-hadits tersebut membahas Bab Kematian Paman Nabi Abu Thalib dan Petunjuk Allah kepada orang yang dipilih. Terkait penjelasan Imam Nawawi yang saya jelaskan diatas, yaitu karena Paman Nabi ini hidup setelah masa Fathrah. Jelas ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk orang tua Rasulullah yang ada di masa fathrah.

    Anda lupa (atau hanya copas), sungguh memperihatinkan jika demikian.

    Lihat Shahih Bukhari Nomor 3883, 6208, 6572, 3885, 6554 dan Shahih Muslim Nomor 209 dan 210. Disana dijelaskan bahwa Rasulullah memberikan syafaat atas pamannya itu. Itu baru hadits yang berhubungan satu sama lain. (Dengan Shahih Imam Bukhari diatas).

    Sedangkan penjelasan saudara tentang orang tua nabi yang kafir (menurut anda) sedangkan nikahnya syah, itu pendapat anda sendiri. Karena yang dimaksud dalam Kitab Al Mughni, tidak dimaksudkan mengkafirkan orang tua Rasulullah. Lihat juga asbabul wurud hadits tersebut, jangan asal ambil untuk pemahaman anda sendiri. Dengan demikian, dalil anda jauh panggang dari api.

    Sekali lagi, Saudara Abu faraqna, anda harus segera kembali ke jalur yang benar. Mohonlah ampun kepada Allah dan perbanyak shalawat, semoga pemikiran saudara yang salah itu diampuni oleh Allah dan bisa mendapat syafaat dari Rasulullah.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah

    Hamba Allah yang dhaif

    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  18. 22/05/2012 at 13:32 #

    Gini aja buat yg mengatakan Ayah Ibunda Kafir gak usah byk koment deh, dijelasin kagak faham-faham, maka bagaimana kita adakan dialog terbuka umum ??

    Team Sarkub siap kapan saja, nah antum yg mengatakan Ayah Ibunda Kafir gmn ?? bisa gak ?? jgn ngeles mulu…Team Sarkub dah siap mengagendakan tuh…

  19. Abu Faraqna
    23/05/2012 at 20:11 #

    @Mas Derajad… Pemahaman antum payah sekali. Saya membenarkan tentang kesucian kelahiran Rasululloh sebagaimana antum sampaikan. Dan saya menjelaskan tentang nasab beliau yang suci karena hasil dari perkawinan orang tuanya yang sah.
    Hadist yang saya sampaikan mengenai paman Nabi Abu Thalib dalam Shahih Bukhari & Shahih Muslim sebagai petunjuk tentang agama orang tua Rasululloh, yaitu mereka beragama sebagaimana agamanya Abdul Muthalib kakek Rasululloh. Karena akhirnya Abu Thalib berkata “Saya diatas agamanya Abdul Muthalib” dan enggan untuk mengucapkan “La ilaha illalloh”. Dengan perkataan pamannya ini apakah Rasululloh membenarkan agama Abdul Muthalib??? Tidak… Rasululloh tidak membenarkannya. Sehingga Rasululloh memberikan syafaat beliau kepada pamannya Abu Thalib yang tetap dineraka dengan menerima azab yang paling ringan.
    Tentang keberadaan orang tua Rasululloh dalam masa fathrah merupakan pendapan para ulama saja,tidak ada dasarnya sama sekali dari al-hadits. Oleh karena itu kita harus berpegang dengan sabda beliau yang sah.

  20. Abi Fikri
    07/06/2012 at 00:01 #

    semakin kentara bahwa pemahaman wahabi/salafi perlu diluruskan, karena landasan yang dipakai kurang kuat dan hanya berdasar pemahaman akal sendiri.
    semoga Alloh SWT berkenan mengampuni kita semua…

    disarankan kepada saudara abu faraqna untuk mengaji lagi dengan membuka wawasan yang lebih luas lagi, tidak berguru hanya pada ustadz anda sendiri dari kalangan wahabi/salafi.

    semoga Alloh SWT senantiasa membukakan mata hati kita untuk menerima kebenaran yang hakiki.

  21. Mas Derajad
    07/06/2012 at 12:30 #

    @abu faraqna :
    Ucapan saudara Abu Faraqna : “Tentang keberadaan orang tua Rasululloh dalam masa fathrah merupakan pendapan para ulama saja,tidak ada dasarnya sama sekali dari al-hadits.”

    Baca Qur’an Surat Al Isra’ Ayat 15.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah

    Hamba Allah yang dhaif dan faqir

    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  22. 13/06/2012 at 12:31 #

    Ass WrWb – saya merasakan suatu yang ganjil pada diri
    saya setelah melihat pusara ibunda panutan
    kita ROSULULLOH nabi besar nan agung – beta
    pa tidak makamnya tidaklah lebih dari seong-
    gok tumpukan batu tanpa nisan atau pertanda
    kalau disitu pusara seorang wanita yang mela
    hirkan pemimpin ummat manusia penghuni pla -
    net bumi ini -benar2 ironis dan tragis -Wass
    Wr Wb …….(doktertoeloes malang).

  23. maha fatih
    22/06/2012 at 23:33 #

    dari pada ribut2 yuuk..kita doain biar guru2nya si abu faraqna, diantaranya si utsaimin n si wahab masuk neraka n di gebukin ama malaikat…..alfatihah…..aminnn

    • Mas Derajad
      23/06/2012 at 09:09 #

      @maha fatih :
      Saudaraku saya merasakan kemarahan saudara, tapi kita sesama muslim (sama-sama berucap Syahadat)jangan sampai mendo’akan keburukan atau memutus silaturrahmi.

      Sesungguhnya peringatan itu sangat bermanfaat bagi sesama umat Islam. Walaupun mereka mencap kita lebih rendah.

      Kita doakan saja mereka dibelokkan hatinya menuju kebenaran, dan juga kita bisa menetapi kebenaran bersama ulama-ulama Aswaja yang mengikut Rasulullah Muhammad S.A.W.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah

      Hamba Allah yang dhaif dan faqir

      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      • Mbah Jo
        24/06/2012 at 06:11 #

        Betul Mas..
        Kita jangan ikut terbawa dalam metodologi mereka. Lbih baik klu kita do’akan saja agar Alloh SWT memberi hidayah kpada hambaNya yg khilaf,& menjaga kita dari faham2 aneh diluar aswaja,& tetap bertaut dgn ulama2 yg jelas sanadnya.
        Ngomong2 ada yg tahu ndak,kenapa ya blog tetangga (ummatipress) disuspend lagi..?

  24. item
    06/08/2012 at 06:32 #

    assalamualaikum teman-teman……saya kagum akan semangat kawan kawan sarkub untuk saling menasihati….mari kita maju terus tp jangan lupa tuk menoleh belakang,kiri,kanan kita,,,,,sukses untuk sarkub!!!!!!wa’alaikumussalam.

  25. kusmanta
    07/08/2012 at 00:24 #

    mas derajat n sdr nokia-male, penjelasan panjenengan sangat ilmiah,selamat berjuang menegakakan panji ahlussunah wal jamaah,bwt team sarkub. oke n maju terus

  26. Imam Rosyadi
    09/08/2012 at 11:05 #

    saudaku semua kaum muslimin yang beriman, sudahlah kita tidak perlu mencari kebenaran melalui perdebatan yang bukan pada tempatnya, mereka yang menggap diri paling benar sesungguhnya dialah yang paling banyak salahnya,mereka yang banyak mengkafirkan sesama muslim,sesungguhnya Allahlah YANG AKAN MENGKAFIRKAN GOLONGAN ITU. Mereka bisa menipu kaum muslim, tapi tidak pernah bisa menipu Allah.Apa yang selama ini kita jalankan jangan terpengaruh, karena sekarang ini yang kita jadikan panutan adalah ulama agar kita selamat. jangan mengikuti mereka yang sudah dicuci otak untuk menghancurkan islam dari dalam,dengan berbagai kepalsuannya. mari kita bersatu dalam kebenaran islam yang selama ini telah kita jalani.

    • ita
      07/05/2013 at 23:46 #

      setujuu…

  27. abdullah
    10/09/2012 at 08:30 #

    moga da dialog terbuka seperti yg ditawarkan tim sarkub, TOLONG kabarkan ya bila ada dialog terbuka n umum antara salafi n tim sarkub, thx

  28. ari bandung
    17/10/2012 at 02:27 #

    sy acung jempol utk ki sarkub, kita doakan supaya pemahaman ekstrem mengkafirkan sesama muslim yg biasanya dilakukan saudara2 dgn pemahaman utama dari abdul wahab tdk menyebar luas di Indonesia. sy sendiri kaget dgn gaya mengkafirkannya thd ibunda dan ayahanda Rosululloh sendiri. pemahaman benar-benar tekstual dan tdk membumi menjadikan agama islam sempit makna dan heartless> padahal Islam adalah agama yg penuh dgn kelemah lembutan dan rohmatan lil alamin, bukannya mentahrir dan menghujat sesama muslimin atau mu’minin orang tua rosulullah saw

  29. 26/10/2012 at 19:48 #

    Abu Faraqna, terus berjuang tegakkan Islam yg sesungguhnya..bukan yg mencampur adukkan dengan tradisi yg tetap berkembang dan bahkan dipertahankan oleh sebagaian besar masyarakat muslim pada umumnya dan khususnya kaum muslim yg masih tidak mau mendengarkan kebenaran Islam yg sesungguhnya,semua pada terbelalak kok spt ini ada ga ya ajaran atau tuntunan rasul?masalah Ayah dan Ibunda Rasul kenapa kita harus berdebat yg sdh jelas semuanya gak tahu, kalau sd ketentuan demikian dari Allah dan Rasul, kenapa kita merasa sakit hati dan ngenas? lebih baik masing2 mencari kebenaran dan saling mengingatkan, Surga luas sekali umat muslim semua yg ada di bumu diberi kesempatan untuk masuk ke sana dan ditunggu masuk surga, jadi bila ada kebenaran knp kita hrs marah..dan ragu2? Wasslm…wr wb

    • 27/10/2012 at 05:15 #

      - islam yang sesungguhnya itu bukan islam wahabi.
      - mencampur adukkan dengan tradisi? itu salahnya anda sendiri kenapa menganggap tradisi itu sebagai syari’at. padahal tradisi itu berbeda dengan syari’at akan tetapi bisa disatupadukan selama tradisi itu tidak melanggar syari’at yang ditetapkan, jadi tidak menghapus total nilai2 tradisi.

  30. faqih
    09/04/2013 at 21:18 #

    @abu faraqna : klepek2 kena surat Al Isra : 15,,
    Semoga njenengan dpt hidayah.. (do’a tulus ini).
    sy berharap fitnah wahaby segera berakhir… Tp memang sunnatullah… nunggu arab saudi jatuh… Bentar lg kayaknya,, dah pada mau rebutan kekuasaan itu pangerannya.. kita tunggu tgl mainnya..

  31. ali shahab
    08/05/2013 at 08:46 #

    mana lagi nih komennya mas abu farqna…??
    saya tunggu nih, biar saya semakin yakin dengan ajaran ahlusunnah wal jama’ah soalnya dipatahin terus argumen2nya… :D
    buat tim sarkub terima kasih atas artikel2nya yang membuat saya semakin yakin dengan ajaran ahlusunnah wal jama’ah….
    ALLAHUMMASHOLLI’ALAA MUHAMMAD… :D

  32. mas mamak
    08/05/2013 at 11:54 #

    Assalamu’alaikum…

    Salam kenal, izin ikut nyimak…. syukron…

  33. salim al-Jufri
    08/05/2013 at 22:14 #

    yang menyalahi aswaja tentang kafirnya ibunda Rasul cuman syiah!! sarkub berserikat dgn syiah menghantam apa yg mereka sebut wahabi

    • Tim Sarkub
      09/05/2013 at 03:00 #

      kalo gak mampu berhujjah dikit-dikit syi’ah.

      wahabi dan syi’ah memang bagaikan kotoran dibelah dua, yang satu kering satunya basah.

  34. 31/05/2013 at 16:48 #

    salam kenal dari ane TIM SARKUB….ane tampi ye MENYAN nye nih…hehehehe

    Tim Sarkub…
    klo ada debat terbuka undang2 ane donk….

    ayo dong para Wahabiyun…katanye ente paling jago? tuh ditantangin ma ASWAJA tim Sarkub, mau nggak ente debat terbuka, jangan di forum aje berkoarnye…..mau produk lokal keq import keq… TIM SARKUB layanin tuh…heheheh

  35. 31/05/2013 at 18:06 #

    Assalaamu’alaikum.
    Permisi, saya orang haus ingin ndherek ngaos.
    Saya punya usul, bagaimana jika dibuatkan forum khusus yang hanya boleh diakses oleh saudara-saudara yang sepemahaman dengan akidah ASWAJA. Maksud saya, biar kita bisa fokus mengkaji ilmu tanpa “disibukkan” oleh suara-suara sumbang dari saudara-saudara kita kaum SAWAH.
    Wassalaam.

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


7 + = 9