Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Sarkub Share:
Share

Kaum Salafi & Wahabi memiliki motto “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”. Mereka juga mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Kenapa? Karena, tentunya, al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama yang diwariskan oleh Rasulullah Saw., sehingga siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman, maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni dan berarti ia selamat dari kesesatan. Bukankah Rasulullah Saw. menyuruh yang sedemikian itu kepada umatnya?

Sampai di sini mungkin banyak orang bertanya, mengapa Ibnu Taimiyah & Muhammad bin Abdul Wahab yang menyerukan hal se-bagus dan se-ideal itu dianggap sesat oleh para ulama di zamannya? Mengapa pula paham Salafi & Wahabi yang merujuk semua ajarannya kepada al-Qur’an dan Sunnah dianggap menyimpang bahkan divonis sesat??! Rasanya, hanya orang gila yang berani menyatakan begitu.

Tetapi, mari kita perhatikan permasalahan ini satu demi satu, agar terlihat “sumber masalah” yang ada pada sikap yang terlihat sangat ideal tersebut.

1. Prinsip “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, apa yang benar secara teoritis belum tentu benar secara praktis, menimbang kapasitas dan kapabilitas (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur’an & Sunnah sangat berbeda-beda. Maka bisa dipastikan, kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur’an atau Sunnah yang dihasilkan oleh seorang ‘alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad, akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku “terjemah” al-Qur’an atau Sunnah. Itulah kenapa di zaman ini banyak sekali bermunculan aliran sesat. Jawabnya tentu karena masing-masing mereka berusaha kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah,  dan mereka berupaya mengkajinya dengan kemampuan dan kapasitasnya sendiri. Bisa dibayangkan dan telah terbukti hasilnya, kesesatan yang dihasilkan oleh Yusman Roy (mantan petinju yang merintis sholat dengan bacaan yang diterjemah), Ahmad Mushadeq (mantan pengurus PBSI yang pernah mengaku nabi), Lia Eden (mantan perangkai bunga kering yang mengaku mendapat wahyu dari Jibril), Agus Imam Sholihin (orang awam yang mengaku tuhan), dan banyak lagi yang lainnya. Dan kesesatan mereka itu lahir dari sebab “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”, mereka merasa benar dengan caranya sendiri. Pada kaum Salafi & Wahabi, kesalahpahaman terhadap al-Qur’an dan Sunnah itu pun banyak terjadi, bahkan di kalangan mereka sendiri pun terjadi perbedaan pemahaman terhadap dalil. Dan yang terbesar adalah kesalahpahaman mereka terhadap dalil-dalil tentang bid’ah.

2. Al-Qur’an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat mumpuni untuk melakukan hal itu, sebut saja: Ulama mazhab yang empat, para mufassiriin (ulama tafsir),  muhadditsiin (ulama hadis), fuqahaa’ (ulama fiqih), ulama aqidah ahus-sunnah wal-Jama’ah, dan mutashawwifiin (ulama tasawuf/akhlaq). Hasilnya, telah ditulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur’an dan Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup dikemudian hari.

Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para ulama yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai “ahludz-dzikr”, yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini. Adalah sebuah keteledoran besar jika upaya orang belakangan dalam memahami Islam dengan cara “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” dilakukan tanpa merujuk pemahaman para ulama tersebut. Itulah yang dibudayakan oleh sebagian kaum Salafi & Wahabi.

Dan yang menjadi pangkal penyimpangan paham Salafi & Wahabi sesungguhnya, adalah karena mereka memutus mata rantai amanah keilmuan mayoritas ulama dengan membatasi keabsahan sumber rujukan agama hanya sampai pada ulama salaf (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah), hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah (hidup di abad ke-8 H.) dan para pengikutnya.

Bayangkan, berapa banyak ulama yang dicampakkan dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampah yang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah. Lebih parahnya lagi, dengan rantai yang terputus jauh, Ibnu Taimiyah dan kaum Salafi & Wahabi pengikutnya seolah memproklamirkan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni, padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung pendapat-pendapat ulama salaf. Bukankah yang lebih mengerti tentang pendapat ulama salaf adalah murid-murid mereka? Dan bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid-murid mereka lagi, dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan maupun tulisan?

Bijaksanakah Ibnu Taimiyah dan pengikutnya ketika pemahaman agama dari ulama salaf yang sudah terpelihara dari abad ke abad itu tiba di hadapan mereka di abad mana mereka hidup, lalu mereka campakkan sebagai tanda tidak percaya, dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut? Sungguh, ini bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga keteledoran besar, bila tidak ingin disebut kebodohan.

Jadi kaum Salafi & Wahabi bukan Cuma menggaungkan motto “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” secara langsung, tetapi juga “kembali kepada pendapat para ulama salaf” secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri. Mereka bagaikan orang yang ingin menghitung buah di atas pohon yang rindang tanpa memanjat, dan bagaikan orang yang mengamati matahari atau bulan dari bayangannya di permukaan air. 

3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang al-Qur’an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah “hasil jadi”. Para ulama itu bukan saja telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian atau penelitan yang rumit, tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap al-Qur’an dan Sunnah yang sangat mungkin terjadi jika mereka lakukan pengkajian tanpa bekal yang mumpuni seperti yang dimiliki para ulama tersebut.

Boleh dibilang, kemampuan yang dimiliki para ulama itu tak mungkin lagi bisa dicapai oleh orang setelahnya, terlebih di zaman ini, menimbang masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah Saw. & para Shahabat yang tidak mungkin terulang, belum lagi keunggulan hafalan, penguasaan berbagai bidang ilmu, lingkungan yang shaleh, wara’ (kehati-hatian), keikhlasan, keberkahan, dan lain sebagainya. Pendek kata, para ulama seakan-akan telah menghidangkan “makanan siap saji” yang siap disantap oleh umat tanpa repot-repot meracik atau memasaknya terlebih dahulu, sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang.

Saat kaum Salafi & Wahabi mengajak umat untuk tidak menikmati hidangan para ulama, dan mengalihkan mereka untuk langsung merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan dalih pemurnian agama dari pencemaran “pendapat” manusia (ulama) yang tidak memiliki otoritas untuk menetapkan syari’at, berarti sama saja dengan menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya, lalu menyuruhnya menanam padi.

Seandainya tidak demikian, mereka mengelabui umat dengan cara menyembunyikan figur ulama mayoritas yang mereka anggap telah “mencemarkan agama”, lalu menampilkan dan mempromosikan segelintir sosok ulama Salafi & Wahabi beserta karya-karya mereka serta mengarahkan umat agar hanya mengambil pemahaman al-Qur’an dan Sunnah dari mereka saja dengan slogan “pemurnian agama”.

Sesungguhnya, “pencemaran” yang dilakukan para ulama yang shaleh dan ikhlas itu adalah upaya yang luar biasa untuk melindungi umat dari kesesatan, sedangkan “pemurnian” yang dilakukan oleh kaum Salafi & Wahabi adalah penodaan terhadap ijtihad para ulama dan pencemaran terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Dan pencemaran terbesar yang dilakukan oleh kaum Salafi & Wahabi terhadap al-Qur’an dan Sunnah adalah saat mereka mengharamkan begitu banyak perkara yang tidak diharamkan oleh al-Qur’an dan Sunnah; saat mereka menyebutkan secara terperinci amalan-amalan yang mereka vonis sebagai bid’ah sesat atas nama Allah dan Rasulullah Saw., padahal Allah tidak pernah menyebutkannya di dalam al-Qur’an dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyatakannya di dalam Sunnah (hadis)nya.      

Dari uraian di atas, nyatalah bahwa orang yang “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” itu belum tentu dapat dianggap benar, dan bahwa para ulama yang telah menulis ribuan jilid kitab tidak mengutarakan pendapat menurut hawa nafsu mereka. Amat ironis bila karya-karya para ulama yang jelas-jelas lebih mengerti tentang al-Qur’an dan Sunnah itu dituduh oleh kaum Salafi & Wahabi sebagai kumpulan pendapat manusia yang tidak berdasar pada dalil, sementara kaum Salafi & Wahabi sendiri yang jelas-jelas hanya memahami dalil secara harfiyah (tekstual) dengan sombongnya menyatakan diri sebagai orang yang paling sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.

Sumber: Daarul Mukhtar

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

34 Responses

  1. Avatar

    Abu Faraqna24/05/2012 at 07:44Reply

    Perkataan Waraqah bin Naufal kepada Rasululloh :
    “Tidak ada seorang pun yang datang dengan mengemban ajaranmu kecuali akan dimusuhi”
    (HR. Bukhari : 7 & Muslim : 160)

    Itulah sunnatulloh yang berlaku pada umat ini, siapapun dia yang menyampaikan syariat Alloh akan dimusuhi,akan dicela,akan ditentang habis-habisan, dan ini akan berlangsung sampai kiamat ditegakkan. Dari Nabi-Nabi dahulu sampai Rasulullohpun juga ditentang oleh kaumnya. Sampai-sampai Rasulullohpun pernah dikatai sebagai orang gila oleh kaumnya.

    “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.” (QS. Al Baqarah : 130)

    Tapi bagaimanapun syariat Alloh harus tetap disampaikan walaupun orang-orang kafir tidak suka.

    “Dan di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman : 20)

    “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?” (QS. Az Zumar : 32)

    • Avatar

      Mas Derajad24/05/2012 at 13:35Reply

      @ abu faraqna : Komentar saudara sering berputar-putar tidak jelas. Disini diungkapkan tentang keutamaan mengikuti mazhab ulama’-ulama’ yang mutawattir yang sudah ada, sedang saudara “bergumam” sendiri tidak jelas arahnya. Ucapan anda benar tapi tidak berhubungan dengan artikel. Bahkan membawa kata-kata kafir dan ucapan buruk lainnya.

      Mohon maaf, mungkin saudara seorang paranoid dengan pemahaman saudara sendiri ya ? Sangat kacau. Ayat Qur’an dan hadits yang anda bawa jelas menuju ke saudara sendiri. ناعوذب الله ثم ناعوذب الله

      Semoga Allah membimbing saudara ke jalan yang lurus mengikut bimbingan Rasulullah Muhammad SAW. yang diikuti para ulama’ yang mutawattir sanadnya.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah

      Hamba Allah yang dhaif dan faqir

      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      • Avatar

        hamba01/05/2013 at 11:54Reply

        bukankah Alquran itu ditujukan kepada seluruh ummat manusia?

        dan bukankah hadist juga demikian?

        • Avatar

          Tanya14/11/2013 at 17:07Reply

          Itu artinya kita disuruh instropeksi.. caranya tanya sama ahlinya.. bukan sama bukunya..

  2. Avatar

    Prabu Minakjinggo24/05/2012 at 09:35Reply

    @abu faraqna, kedangkalan pemahaman anda pada alquran dan Hadits Nabi semakin jelas dengan comment2 anda yang tidak mengetahui asbabun nuzul, hmm… baru belajar agama tapi sudah berhati keras dan merasa paling benar sendiri.

    • Avatar

      hamba01/05/2013 at 11:55Reply

      mau tanya asbanun nuzul yasinan dan tahlilal apalagi pada peringatan orang mati

      • Avatar

        Dhymas21/05/2013 at 13:30Reply

        Semua ada dalilnya, kalau anda masih bertanya berarti anda memang tidak mengerti dan ilmu anda belum sampai. Makanya baca yang banyak jangan cuma baca terjemahan al-Qur’an saja.

  3. Avatar

    rifky24/05/2012 at 10:22Reply

    lah lah. wahabi maneh, shohibul bidngah sayyiah. ditempat saya ada orang semacam ini, baca qurannya ndak jejek tata bahasa arabnya ndak nyambung. mereka berkata: KEMBALILAH KEPADA QURAN DAN HADIS. artinya kembalilah kepada tarjamah quran dan hadis. lalu berkata JANGAN BERMADHAB. artinya AYO IKUT SAYA SAJA DENGAN IBNU TAIMIYAH DAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB TEMAN PETER COCK.

  4. Avatar

    Ajisaka24/05/2012 at 11:32Reply

    luar biasa abu faraqna berhalusinasi meng umpamakan perjuangannya seperti Nabi dan menganggap yang lain sebagai penentang Nabi, formula cuci otak luar biasa hasil ramuan Yahudi dan Saudi, “jargon yang menyesatkan untuk orang2 yang bodoh, jargon yang meluruskan bagi orang2 yang berilmu”, seribu kepala orang bodoh seribu tafsir menyesatkan gak bayangkan apa yang terjadi mereka sendiri akan ribut sesama orang bodoh saling menyalahkan dan merasa paling benar sebagai nabi2 baru…..kasihan sekali mereka tidak merasa sebagai kelinci percobaan proyek yahudi-saudi.

  5. Avatar

    Abu Faragna24/05/2012 at 18:56Reply

    Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.” (QS. Al An’aam : 135)

    “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.”
    (QS. Al An’aam : 110)

    “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”
    (QS. Al An’aam : 112)

  6. Avatar

    Abu Faragna24/05/2012 at 19:06Reply

    “Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali Imran : 118)

    “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzaariyaat : 55)

    • Avatar

      Joe Ariel satriani28/05/2012 at 02:41Reply

      @Abu Faraqna: Barang siapa yang sedikit ilmunya maka banyak omongnya.

  7. Avatar

    Mas Derajad24/05/2012 at 19:59Reply

    @abu faragna : Semoga dengan saudara sering mengunjungi situs ini, pemikiran saudara jadi benar, tidak kaku dan tidak menganggap orang lain ahli bid’ah serta pelaku khurafat.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah

    Hamba Allah yang dhaif dan faqir

    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  8. Avatar

    ihsan03/06/2012 at 20:41Reply

    saya ngeri membaca kesesatan orang2 wahabi di situs ini, trimakasih sekali telah memberi saya pengetahuan betapa sesatnya kaum wahabi, dan saya juga baru tahu betapa hebatnya NU dari situs ini. Sebagai orang awam saya masih bingung, pemikiran yg hebat NU kenapa justru banyak pesantren NU yg ranah pemikiranya ke ilmu2 ghoib seperti anti peluru, kebal pedang, bisa dialog dgn ruh alim ulama, dll.. Sedangkan orang2 sesat berfaham wahabi seperti yg di muhammdiyah justru bisa membangu amal usaha untuk kepentingan umat seperti panti anak yatim yg ada disetiap kabupaten dan kota, universitas yg maju di beberapa kota dgn ilmu pengetahuan berbagai bidang yg dipelajari, rumah sakit islam yg modern di setiap kota hampir ada, sekolahan TK sampai SMA juga tersebar luas, pondok pesantren juga ada.. Sedangkan amal usaha dari NU yg berfaham lurus dgn ilmuan dan ulama yg berilmu tinggi, kitab yg banyak tapi amal usaha untuk umat dibidang kemanusiaan seperti kesehatan dan pendidikan sama sekali tidak ada gaungnya… Saya bingung kenapa kesesatan bisa membangun dan bermanfaat pada umat, sedangkan yg lurus justru tidak terdengar gaung amal usahanya.. Trimakasih atas jawabanya.

    • Avatar

      abu hamzah01/10/2012 at 10:17Reply

      Sdr. Ihsan yang semoga dirahmati Allah. Mengapa di antara kita masih saja ada yang menuduh orang yang nggak sepaham sebagai sesat. Saya banyak mengunjungi situs-situs dari berbagai latar belakang pemahaman. Yang suka menuduh sesat ya situs ini. Mudah-mudahan saudara yang mengaku orang awam yang sedang bingung ini dapat menarik pelajaran.

      • Avatar Author

        Tim Sarkub01/10/2012 at 18:29Reply

        sudah bukan rahasia umum lagi kalau wahabi salafi itu hobi membid’ahkan, mensesatkan, dan mengkafirkan saudara muslim yang tidak sepemahaman dengannya kok. jadi yg tukang nyesat2in orang ya wahabi salapi.

  9. Avatar

    abu hamzah01/10/2012 at 10:07Reply

    Tidak ada seorang pun yang datang dengan mengemban ajaranmu kecuali akan dimusuhi”
    (HR. Bukhari : 7 & Muslim : 160)

    Kalau dahulu yang menentang dan memusuhi ajaran Al Qur’an adalah kaum kafir dan munafiq, sekarang ini orang yang mengaku islam bahkan mengaku ahlussunah, seperti yang komen-komen ini.

    • Avatar Author

      Tim Sarkub01/10/2012 at 18:31Reply

      pake terjemahan aja udah bangga disebut telah kembali ke alqur’an dan sunnah. emang alqur’annya siapa, sunnahnya siapa? kalo sunnahnya muhammad bin abdul wahhab sih mungkin iya 😀 .
      Wahabi kok ngaku2 ahlussunnah? ya lucu donk. wahabi itu ya wahabi, yang kini mengelabui orang dengan nama salafi, padahal ya aslinya wahabi.
      simak http://www.sarkub.com/2012/salafi-sama-dengan-wahabi/

      • Avatar

        abu hamzah02/10/2012 at 11:53Reply

        Anda bohong. Buktikan kala memang anda berkata benar. Kalau yang anda maksud pernyataan “Semua yang diada-adakan adalah bid’ah, semua yang bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat dineraka” itu sebagai pernyataan Bin Wahab, itu jelas ngawur. Itu adalah penrnyataan Bin Abdullah, Rasulullah Muhammad SAW. Kalau anda tidak mengakui hadits shoheh yang mulai ini, patut dipertanyakan sebenarnya siapakah nabi anda.

      • Avatar

        abu hamzah02/10/2012 at 12:02Reply

        Sama to dengan ente. Orang yang nggak berilmu biasanya sombong.

  10. Avatar

    Ajisaka02/10/2012 at 16:05Reply

    setau saya Alquran dan Hadist adalah sebuah kitab yg luar biasa, sangat berbeda dg kitab suci agama lain, untuk memahaminya “Tidak sekedar baca terjemahnya langsung ditafsir kalimatnya seperti agama2 lainnya”, butuh sebuah metodologi dan ilmu alat yg bisa dipertanggung jawabkan , ini bukan utk mempersulit umat dlm memahaminya tetapi sebuah kewajiban untuk umat islam agar mau belajar dlm mencari kebenaran, unt menjadi umat Islam sangat gampang tetapi agama Islam bukan AGAMA GAMPANGAN

  11. Avatar

    Abah Fikri04/10/2012 at 09:04Reply

    Sangat setuju dengan Mas Ajisaka….
    Dalam menafsirkan isi Al-Qur’an, harus dikuasai dulu alat2-nya. nahwu, shorof, mantek, balaghoh dst. Kalau cuman asal baca terjemahan dan dipakai-nya sembarangan sebagai landasan pembenaran sesuatu tanpa mengetahui sebab musabab-nya maka akan sangat berbahaya dan menyesatkan. Doktrin semacam ini yang sekarang ini banyak bertebaran di masyarakat, sehingga kewajiban kita sebagai ahlus sunnah waljama’ah untuk senantiasa mengingatkan dan meluruskan umat dari kekeliruan yang nyata yang bisa menagkibatkan perpecahan umat. Akan sangat indah bila satu sama lain saling menghargai dan menghormati.
    Kebenaran hakiki hanyalah milik Alloh SWT semata.

    • Avatar

      Tanya14/11/2013 at 17:18Reply

      Ustads ku pernah bilang ginia mas..
      Kalau membaca الَّذِينَ dibaca hanya pake terjemahan jadinya ya kayak gini .. Alad zina (alat zina)…

      Kan Bisa BAHAYA.. !!

      Tak pikir2.. bener juga tuh .. 😀 😀

  12. Avatar

    Marhadi19/05/2013 at 08:39Reply

    assalaamu’alaikum . . . .

    wahai saudara2ku,

    berkomentarlah dengan kata2 yang bijak, jauhi kata2 kotor dan provokasi,

    kalau ada yang salah sampaikanlah dengan cara yang hikmah
    ( wa jaadilhum billatii hiya ahsan . . .)

    “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan peringatan yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)

    Ingatlah oleh kalian nasihat para salafushsholih akan dampaknya sebuah perdebatan.

    “Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”
    [Thobaqat Syafiiyyah 1/7, Siyar, 10/28]

    • Avatar

      Abu Rajib12/07/2013 at 09:23Reply

      Alhamdulillah akhirnya ada juga yang mengingatkan betapa pentingnya etika dalam berdebat,,, Ana sendiri masih bingung

  13. Avatar

    qbnsfs17/07/2013 at 15:13Reply

    Mungkin Klo berdebatnya dengan orang2 yang tidak mengkafirkan orang lain, masih bisa kita terima.Tapi klo berdebatnya dengan Wahabi yg jelas2 mengkafirkna orang lain,saya rasa kagak perlu pake basa basi. karena para pengikut wahaby terang2an mengkafirkan selain dari jamaahnya. Kita doakan dan dukung TIM SARKUB tuk berantas Wahaby dari Bumi Indonesia.

    Siapa sih yang kagak sakit hati, semua amalan Ibadah kita yg telah dipupuk oleh para Ulama2 terdahulu di bilang BID’AH DHALALAH oleh WAHABY…..

  14. Avatar

    manshur21/07/2013 at 15:22Reply

    assalamu’alaikumm wr. wb

    udzkuruu dzikron katsiron

    saudara – saudara mari kita perbaanyak dzikir dari pada gak dzikir, apalagi kikir dan suka mencibir

    sekian terima kasih wassalam.

    plok-plok plok plok

    hai yang baca dan yang di pojok sana ikut tepuk tangan dong. awas !!!!,

  15. Avatar

    raihan wafa21/04/2014 at 09:19Reply

    Mantab team sarkub,! Brantas tu salafi wahabi

  16. Avatar

    raihan wafa21/04/2014 at 09:24Reply

    Aneh dan lucu motto salafiun wahabian'”_ Orang yng awam ilmu agamanya seperti saya pun tau klo kita harus kembali ke alquran dan sunah,

  17. Avatar

    Musa15/09/2014 at 00:07Reply

    Kita harus tetap waspada tingkat tinggi (siaga1)…jgn sampai terulang kekejaman para wahabiun yg telah membantai ribuan nyawa kaum muslimin yg notabene para ahli ilmu dan ibadah malah dicap Kafir oleh mereka hanya karena bukan termasuk jamaahNya…1000% JaYalah Team SARKUB..ganyang mereka,sebelum mereka menggorok leher kita,anak istri serta saudara kita dan menjarah harta benda kita…””!!!(karena darah kita halal dimata mereka).
    Lebih baik kita bunuh satu ekor serigala demi menyelamatkan jutaan nyawa manusia di bumi pertiwi Indonesia raya..
    Kita lawan mereka,sampai mereka lenyap dr bumi Indonesia.
    NKRI harga mati..”MERDEKA !!!!”

  18. Avatar

    Bario Armareza21/01/2015 at 06:32Reply

    bario

  19. Avatar

    T Hasbi Idham10/01/2016 at 00:58Reply

    Slogan kembali kepada Al-Qur'an & Sunnah itu sangat bagus bila diikuti dengan akhlaqulkarimahnya Rosulullah SAW…….Kenyataannya slogan tersebutlah yang dipakai oleh Sayidina Husein RA dalam meluruskan sistem pemerintahan islam Yazid bin Muawiyah….namun apa lacur, Sayidina Husein RA, keluarga dan sahabat serta angkatan perangnya habis dibunuh oleh kelompok yazid dan ibn ziyad di kerbala………sejarah ini akan berulang-ulang terus sampai hari kiamat….ini pelajaran bagus dari Sayidina Husein agar kita kembali ke ajaran Rosulullah SAW.

  20. Avatar

    gus aril18/02/2016 at 06:38Reply

    lagi pada belajar ngomoong yaa…?

    ok.., kita tetep waspada terhadap kelompok syiah yg ingin menyusup ke masjid / mushola NU, awasi terus orang2 lulusan dari iran komeini syiah.

    agama Islam turun di Mekkah dan Madinah negri saudi arabia ,sedangkang agama Sesat syiah berasal dari negri yg selalu memfitnah saudi arabia yaitu iran atau kumpulan dari para aliran sesat syiah yg pada jaman Nabi Muhammad blm ada.

    Jadi kita tetep awasi orang2 dari syiah iran , cirinya suka mencela ulama,cari sensasi, takut nggak dapet amplop klo nggak mencela orang lain. warga NU tetep waspada dari aliran syiah sesat menyusup disekitar anda, cirinya sok suci ingin terus dipuji , biasanya suka cerita tentang negri iran ., cerita ttg karbala,qum,cerita dusta ttg kisah Hasan dan Husaein yang diputar balik fakta sejarah, kisah ttg terbunuhnya sahabat Ali yang juga diputar balik fakta. maka hendaklah tetep kembali kpd alqur’an dan sunnah Nabi saw serta cara beribadahnya para sahabat Nabi.

    Mari kita buka kembali kitab hadits Bukhori, Muslim,Ahmad,abu Daud,an Nasaai,Baihaqi,

    kita buka lagi kita para imam madzab yaitu as Syafi’i,Malik,Ahmad,Hanafi semogoa Allah merahmati beliau. jangan dengarkan ceramah orang yg suka mencela orang lain atau ulama yg lebih alim dari yg suka mencela,mereka itu biasanya dari kelompok sekte syiah yg masuk di lingkungan anda. intinya jaga diri kita dan keluarga kita dari kesesatan aliran syiah dari negri terkutuk iran.Allahu ‘alam…

Leave a Reply