Syaikh Quro Karawang

Sarkub Share:
Share

Berdakwah di Cirebon

Syaikh Quro datang ke Cirebon sebagai ulama penyebar agama Islam dan disambut baik oleh Syahbandar Pelabuhan Muara Jati Cirebon bernama Ki Gedeng Tapa. Pada mulanya, ajarannya disambut antusias oleh penduduk Cirebon sehingga banyak warga Cirebon menjadi santri Syaikh Quro. Namun Prabu Angga Larang, Raja Pajajaran, tidak suka kehadirannya, maka diutuslah seorang utusan untuk mengusir Syaikh Quro.

Untuk menghindari pertumpahan darah, akhirnya Syaikh Quro pun setuju meninggalkan Cirebon. Namun Syaikh Quro pun bersumpah bahwa kelak keturunan dari Raja Pajajaran akan jadi waliyullah dan menjadi penguasa serta penyebar agama Islam di tanah Cirebon. Peristiwa pengusiran ini sangat disayangkan oleh penduduk Cirebon karena belum tuntas seluruh ilmu agama Islam diserap oleh para santrinya. Ki Gedeng Tapa yang sempat jadi murid Syaikh Quro pun menitipkan putrinya yang bernama Nyi Subang Larang untuk ikut menjadi santri Syaikh Quro. Syaikh Quro beserta rombongan pun kembali ke Pondok Quro.

Sebagai langkah antisipasi, Prabu Angga Larang kemudian mengirimkan utusan untuk menutup pesantren ini. Utusan ini dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa. Namun baru saja tiba ditempat tujuan, hati Raden Pamahan Rasa terpesona oleh suara merdu pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan Nyi Subang Larang. Putra mahkota yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi itu dengan segera membatalkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Ia justru melamar Nyi Subang Larang yang cantik. Lamaran tersebut diterima oleh Nyi Santri dengan syarat maskawinnya haruslah Bintang Saketi, yaitu simbol “tasbih” yang ada di Mekah. Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Karancang pun kemudian dilakukan di Pesantren Quro atau yang saat ini menjadi Masjid Agung Karawang.

Waktu terus berlalu, Syaikh Quro pun semakin berusia lanjut, akhirnya Syaikh Quro berwasiat kepada santi-santrinya “ Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa”. Akhirnya Syaikh Quro pun meninggal dan penerus Pondok Quro diteruskan oleh Syaikh Bentong.

Makam Syaikh Quro sempat menghilang. Kesultanan Cirebon memerintahkan Raden Soemaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri bersama Syaikh Toha untuk mencarinya. Akhirnya pada tahun 1859 Masehi, makam Maha Guru leluhur Cirebon, Syaikh Quro, ditemukan.

Sunan Kanoman Cirebon, Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin, memperkuat temuan makam Syaikh Quro di Pulo Batang, Karawang, saat berkunjung ke makam tersebut. Hal ini diperkuat lagi dengan surat pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII, Nomor : P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 pada tanggal 5 Nopember 1992.

Lahu Al-Faatihah

Penulis : Tim Sarkub

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply