Sejarah Bangsa yang Tidak Tercatat

Sarkub Share:
Share
 Muhammadiyah didirikan oleh KH Achmad Dahlan pada tahun 1912. Beliau adl tokoh tareqah yang menjalankan petuah dari mbah Sholeh Darat untuk berjuang di sisi kota. Pembagian wilayah dakwah untuk menanggulangi gencarnya perekrutan kaum muda khususnya kalangan ningrat oleh kolonialis Belanda di dunia pendidikan. Tujuan Belanda mencetak kader-kader yang melunturkan semangat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.Kemunculannya menjadi sorotan kolonialis Belanda dan sangat menghawatirkan langkah-langkah K.H. Achmad Dahlan dengan organisasinya. Sehingga beliau jadi target untuk dibunuh dengan mengirimkan beberapa pemuda pribumi. Namun karena banyaknya jamaah waktu itu, KH AHmad Dahlan sulit didekati. Maka Belanda membuat strategi baru untuk menyusup di organisasi Muhammadiyah.Dididiklah seorang pemuda dari sumatera (Aceh) bernama Muhammad Basya Dahlan, pemuda tersebut dikirim ke Kerajaan Saudi yang saat itu telah di kuasai kolonialis Inggris yang menyeponsori aliran aliran wahabi. Kemudian Muhammad Basya Dahlan yang dilatih khusus oleh Van Der Plassk, menyusup ke organisasi Muhammadiyah dengan membawa ajaran wahabi. Dana jutaan gulden dikeluarkan Belanda untuk menjadikan Muhammad Basya Dahlan menjadi orang penting di tubuh Muhammadiyah. Ia pun berhasil mengolah dan mengubah hampir semua ajaran KH Achmad Dahlan sehingga Muhammadiyah menjadi paham baru yang beraliran Islam Garis Keras.

Sang penyusup pun mencetak kader-kader yang mendukung gerakan Wahabi. Sampai akhirnya KH Achmad Dahlan dan sebagian kecil pengikutnya menyingkir dari kota Jogjakarta untuk menetap di pelosok lereng Gunung Merapi, tempat yang sangat sulit di jangkau oleh orang-orang yang mengejar beliau.Sampai K.H. Achmad Dahlan wafat, hanya sebagian kecil pengikutnya yang sampai saat ini masih meneruskan ajaran beliau. Mereka menyebut diri sebagai “Muhammadiyah Dalam”, adapun ajaran Muhammad Basya Dahlan adalah “Muhammadiyah Luar”.Aliran Muhammad Basya Dahlan inilah yang sampai saat ini berkembang ke seluruh penjuru dengan ajaran wahabinya yang memusuhi Ahlul Bait dan ajaran Mbah Sholeh Darat. Ajaran ini pula yang memusuhi umat Islam yang mengikuti KH Hasyim Asyari. Bahkan menuding kaum muslimin selain mereka telah musyrik atau kafir. Tujuan utamanya adalah memusnahkan Ahlul Bait dan Ahlus sunnah wal jamaah…Muhammadiyah Luar ini juga memusuhi kitab-kitab Kyai Sholeh Darat seperti maulid burdah, tahlil, dan lainnya. Termasuk yang menganut paham ini justru beberapa keturunan Mbah Soleh Darat sendiri, sehingga berpuluh tahun masjid peninggalan beliau terbengkalai.
Makam KH. A. Dahlan
Artikel ini dibuat Gus Luqman Hakim Saktiawan, cicit KH Soleh Darat yg diedit seperlunya. Diolah dari berbagai sumber oleh Ichwan Ndeso Manggon Kutho.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

33 Responses

  1. jefriship16/08/2012 at 05:36Reply

    wah bener gak ini mbah? kalo Muhammadiyah protes gimana.lalu si dahlan dari aceh itu siapa kok pakai nama dahlan juga?maaf silsilsh dia ada pa gak,atau masih ada hubungan dengan snouck belanda itu gak.oke mbah tak tunggu jawabmu sejelasnya.

  2. Bachdim Kurniawan17/08/2012 at 07:57Reply

    wah ngawuuuuuuuuuuurrrrr ini brita hoaaaaaaaaaaaaak dari mana ini, klo nulis pakai otaaaak crita dongeng seblm tiduur tdk perlu diexpos, bkn neeeeqqq ajaaaa… bisa dikepruki kamu sm org muhammadiyah se dunia publish brita spt org tdk waras sj, waton jeplaaaaaaaakkk

  3. Abdul20/08/2012 at 00:53Reply

    wala yaskhor qoumun min qoumin asa ay yakuna khoirun minhum,,

  4. Abdul20/08/2012 at 13:04Reply

    Semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad”, itulah ajaran utama dari K.H.Ahmad Dahlan.

    Oleh Agung Pribadi, Sejarawan

    Ajaran ini terus dipegang oleh anggota Muhammadiyah sampai sekarang. Ini juga reformasi yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan terhadap ajaran agama yang berlangsung saat itu di Jawa. Oleh karena itulah Ahmad Dahlan mengatakan ziarah kubur dan meminta kepada kuburan dilarang.

    Ahmad Dahlan juga melarang penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak tapi pihak keraton tetap saja melakukan. Ahmad Dahlan juga hendak membetulkan arah kiblat di Masjid Keraton tapi pihak keraton menolak.

    Ahmad Dahlan lalu berhenti dari pekerjaannya sebagai ‘ketib’ (khatib) keraton. Dahlan juga mereformasi sistem pendidikan pesantren yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya karena mengutamakan menghafal serta tidak merespons ilmu pengetahuan umum, Dahlan juga memurnikan agama Islam dari percampurannya dengan agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.

    Karena gerakan reformasinya Ahmad Dahlan juga sering diteror seperti diancam dibunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang. Tapi Ahmad Dahlan Maju terus pantang mundur, ia merasa beginilah resiko pejuang reformasi atau dalam bahasa Arabnya disebut Mushlih (dari akar katanya Ishlah) atau pembaharu ajaran agama yang dalam bahasa Arabnya disebut Mujaddid.

    Sebenarnya siapakah Ahmad Dahlan yang pemberani dan keras kepala dalam menegakkan kebenaran ini?
    Ahmad Dahlan dilahirkan di daerah Kauman kota Yogyakarta dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1869, sumber lain mengatakan tahun 1868. Memang kelahiran Ahmad Dahlan agak gelap tanggal pastinyapun tidak terlacak. Okelah kita tidak mempermasalahkan kelahirannya melainkan karyanya. Organisasi yang dia dirikan yaitu Muhammadiyah sekarang menjadi maju dan menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia dari segi anggotanya.

    Ahmad Dahlan adalah anak seorang kyai tradisional yaitu K.H. Abu Bakar bin Kyai Sulaiman, seorang khatib di Masjid Sultan di kota itu. Ibunya Siti Aminah adalah anak Haji Ibrahim, seorang penghulu. Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari tujuh bersaudara.

    Sebagaimana anak seorang kyai pada masa itu pemuda Darwis juga menimba ilmu ke banyak kyai. Ia belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Shaleh, ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa) kepada KH Muhsin, ilmu falak (astronomi) kepada KH Raden Dahlan, ilmu hadis kepada kyai Mahfud dan Syekh KH Ayyat, ilmu Al Qur-an kepada Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock, dan ilmu pengobatan dan racun binatang kepada Syekh Hasan.

    Ia juga pernah sekamar dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) ketika beguru kepada KH Sholeh Darat di Semarang. Berarti juga Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan RA Kartini satu guru satu ilmu yaitu KH Sholeh Darat. Berarti gerakan Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama dan Gerakan Feminis berasal dari satu guru.

    Sebagaimana gerakan Islam, Nasionalis, dan Komunis berasal dari satu guru yaitu HOS Tjokroaminoto. Ketika berumur 21 tahun (1890), KH Ahmad Dahlan pergi ke tanah suci Mekkah untuk naik haji dan menuntut ilmu di sana. Ia belajar selama setahun. Salah seorang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

    Dahlan satu guru satu ilmu lagi dengan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Ia juga satu guru dengan Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. Kedua orang ini adalah pendiri gerakan “Kaoem Moeda” di Sumatra Barat. Haji Agus Salim juga berguru pada Syekh Ahmad Khatib. Agus Salim nantinya menjadi wakil ketua Sarekat Islam dan Pembina Jong Islamieten Bond. Jadi seluruh gerakan Islam di Indonesia yang menjadi mainstream sumbernya satu yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi yang menjadi Imam Masjidil Haram di Mekkah.

    Dari Ahmad Khatib inilah Dahlan berkenalan dengan pemikiran trio pembaharu dan Reformis Islam dari Timur Tengah yaitu Sayid Jamaluddin Al Afghani, Syekh Muhammad Abduh, dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha.

    Akhirnya Dahlan membawa gerakan Reformasi ini ke Indonesia. Dahlan mulai mengintrodusir cita-cita reformasinya itu mulanya dengan mencoba mengubah arah kiblat di Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya yaitu Barat Laut (sebelumnya ke Barat). Dahlan juga memperbaiki kondisi higienis di daerah Kauman bersama kawan-kawannya.

    Perubahan-perubahan ini, walaupun bagi kita sekarang sangat kecil artinya, memperlihatkan kesadaran Dahlan tentang perlunya membuang kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan yang menurut pendapatnya memang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Jadi ia ingin membersihkan Islam dan umat Islam baik secara fisik (dengan membuat higienis kampungnya) maupun mental spiritual (dengan memberantas tradisi yang bercampur dengan ajaran Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, dan kebatinan).

    Ahmad Dahlan berhasil membangun mushala yang tepat mengarah ke kiblat. Tapi ia gagal dalam mengubah posisi kiblat di masjid Sultan di Yogyakarta. Ia kecewa dan ingin meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Tetapi salah seorang keluarganya menghalangi maksudnya itu dengan membangun sebuah langgar (mushala) yang lain, dengan jaminan bahwa ia dapat mengajarkan dan mempraktekkan ajaran agama dan keyakinannya berdasarkan interpretasinya di sana.

    Dalam tahun 1909, ia masuk Boedi Oetomo dengan maksud mengajarkan agama kepada para anggotanya. Pelajaran-pelajaran yang diberikan Dahlan kelihatannya memenuhi harapan dan keperluan anggota-anggota Boedi Oetomo tadi. Sebagai bukti, mereka menyarankan agar Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen untuk menghindarkan nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa ditutup bila kyai yang bersangkutan meninggal dunia.

    Dahlan menuruti saran itu. Ia mendirikan Muhammadiyah dan keluar dari Boedi Oetomo. Demikianlah kisah K.H. Ahmad Dahlan dan awal mula berdirinya organisasi yang nantinya menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga. Wallahu A’lam Bish Shawab.

  5. Mas Derajad20/08/2012 at 20:08Reply

    @abdul :
    Saudara Abdul, tulisan atau kutipan atau copas saudara tentang KH. Ahmad Dahlan yang panjang lebar diatas, bahkan terlalu panjang, tidak memiliki hubungan komprehensif dengan artikel Admin Sarkub diatas. Saudara hanya menginginkan bahwa pembaca yang lain menerima bahwa memang sejak lama KH. Ahmad Dahlan tidak sejalan dengan Ulama’Nusantara lain termasuk KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan sahabat beliau. Saudara hanya mengutip pendapat yang sama dengan pemahaman saudara sendiri. Termasuk film Sang Pencerah, saya merupakan salah seorang yang tidak sepakat dengan isi cerita, karena belum pernah tercatat dalam sejarah KH. Ahmad Dahlan dimusuhi ulama’ lain. Itu jelas pembohongan publik. Saudara juga kurang jelas mengutip siapa KH. Ahmad Dahlan, yang ternyata beliau masih keturunan Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Termasuk bagaimana kehidupan beliau, berapa kali beliau menikah, bagaimana sejarah Muhammadiyah termasuk beliau meminta untuk daerah lain organisasinya dibedakan namanya dan seterusnya. Jelas saudara hanya mau mengatakan bahwa Muhammadiyah berbeda dengan ulama’Nusantara yang lain.

    Pernahkah saudara membaca Ringkasan KITAB FIQIH MUHAMMADIYAH, penerbit Muhammadiyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan th 1343 H (sekitar th 1926) yang isinya antara lain :
    1. Niat solat pakai “USHOLLI FARDLA..” (hlm. 25)
    2. Setelah takbir baca “KABIRAN WAL HAMDULILLAHI KATSIRA..” (h. 25)
    3. Membaca al-Fatihah pakai “BISMILLAH” (h. 26)
    4. Setiap subuh baca QUNUT (h. 27)
    5. Membaca solawat pakai “SAYYIDINA”, termsk bacaan solawat dalam solat (h. 29)
    6. Setelah solat disunnahkan WIRIDAN: istighfar, allahumma antassalam, subhanalallah 33x, alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x (h. 40-42)
    7. Salat tarawih 20 rokaat, tiap 2 rokaat 1 salam (h. 49-50)
    8. Tentang solat & khutbah jumat juga sama dg amaliah NU (h. 57-60).

    Sangat perlu saudara ketahui semua itu dirubah drastis setelah beliau wafat. Karena itu coba baca sejarah secara terang benderang, Muhammadiyah selalu mengedepankan sikap tabayyun, jika ada sesuatu yang tidak sesuai. Apalagi penulis yang anda kutip tulisannya jauh masa hidupnya dengan KH. Ahmad Dahlan yang kita hormati bersama.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang faqir dan dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    • Rahm12/10/2012 at 14:09Reply

      @ Mas Drajad. KITAB FIQIH MUHAMMADIYAH, penerbit Muhammadiyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan th 1343 H (sekitar th 1926) ada nggak bukunya Bang? e-booknya? Mohon utk dishare. Biar bisa membungkam orang2 yang memusuhi kaum muslimin yg melafalkan niat sholat dll. Terima kasih

      • Mas Derajad17/10/2012 at 10:20Reply

        @Rahm :
        Mohon maaf saya tidak memiliki sendiri kitab tersebut. Informasi kitab tersebut diungkap ketika KH. Ahmad Dahlan masih hidup, oleh salah satu tokoh Jamiat Kheir, dimana beliau, KH. Ahmad Dahlan, menjadi anggota organisasi tersebut yang ke-770.

        Tapi jika saudara Rahm menginginkannya bisa juga sowan ke Mbah Yai Sya’roni (KH. Sya’roni Ahmadi)Kudus, Jawa Tengah. Beliau juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.

        Demikian informasi dari saya, kurang atau lebihnya mohon maaf.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang faqir dan dhaif
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

        • Rahm29/10/2012 at 12:20Reply

          @ Mas Drajad.
          Trima kasih Infonya mas. Sayangnya tidak ada buku yang bisa di share. Klu misalanya mAs Drajad punya akses untuk ke Mbah Yai, saya sangat berharap Mas bisa memperoleh bukunya. Klu saya sendiri scara prbadi mgk agak susah untuk menemui beliau mengingat tempat tinggal kami (Makassar) yang sangat jauh dari kediaman beliau. Terima kasih Wass. Rahm

          • WAWASANews17/07/2013 at 05:58

            Bila ada yang menginginkan buku fiqih muhammadiyah tersebut, bisa klik link di bawah ini:

            http://www.wawasanews.com/2013/07/rakaat-tarawih-dan-doa-qunut.html

  6. Abdul20/08/2012 at 21:12Reply

    Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan)

  7. Abdul20/08/2012 at 21:18Reply

    Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Maka dari itu kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-Iain telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah di Garut. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.

    Berbagai perkumpulan dan jama’ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, diantaranya ialah Ikhwanul-Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.

  8. Abdul20/08/2012 at 21:34Reply

    ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.[1] Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta

  9. Mas Derajad20/08/2012 at 22:01Reply

    @abdul :
    Itu sudah saya baca di Wikipedia, dan saya lihat uraian saudara sama percis.
    Lalu anda sudah pernah baca belum KITAB FIQIH MUHAMMADIYAH yang saya sebut diatas? Karena ada disertasi juga yang saya baca bahwa pemikiran beliau bukan pemikiran Salafi Wahabi, walaupun beliau bacaannya adalah buku-buku Wahabi.
    Jadi galilah lebih luas. Beliau adalah penganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang kuat bahkan guru beliau Syaikh Ahmad Khatib Bin Abdul Ghaffar As Sambasi adalah seorang Mufti Syafi’i di Makkah.
    Dan Ahlus Sunnah bukan kelompok yang melarang Ziarah Kubur seperti anda kutip. Karena ziarah kubur, bukan menyembah kubur, seperti pikiran picik segolongan orang khususnya Wahabi Anyaran.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang faqir dan dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  10. Ajisaka20/08/2012 at 22:26Reply

    WAh bakalan banyak yang akan kebakaran jenggot nechhh…

  11. kusmanta20/08/2012 at 22:27Reply

    jempol bwt mas derajat,terus mas, biar masyarakat tahu, mn sejarah yg benar. Sugeng Idul Fitri

  12. Tim Sarkub20/08/2012 at 22:36Reply

    @Abdul..silahkan sanggah dg fakta otentik & ilmiah, jgn cuma copas2an panjang.. bbrp komen copasan panjang, kami delete.

    Kami sampaikan fakta sejarah yg ada dg sumber yg jelas, dari Gus Luqman Hakim Saktiawan, cicit KH Soleh Darat. Dan tidak bermaksud cari2 perselisihan, tapi mengurai sejarah & mencari titik terang yg kerap menimbulkan perselisihan antar anak bangsa..

    • Prabu Minakjinggo01/09/2012 at 04:15Reply

      pasti sulit nyanggah comment dari kang derajad bos,… lha si abdul kan cuma copas bisanya, sedang kang derajad.. hmmm saya tahu persis kapasitasnya

    • Deni11/09/2012 at 09:56Reply

      mas bro..saya berharap ada laporan yang lebih lengkap lagi tentang hal ini, tidak cuma berita aja (jadinya terkesan hoaks) gus luqman disuwun gawe buku aja sekalian (maklum orang sekarang gak bisa percaya hanya dengan sekedar berita)..saya akan menjadi orang pertama yang beli..suwun..:)

  13. bintang raya22/08/2012 at 20:55Reply

    mohon izin nyruput sajiannya mbah. kami di mantingan-ngawi punya kegiatan lapanan kajian aswaja (asnuter). semoga bermanfaat bagi teman2 kader aswaja junior.

  14. yoga04/09/2012 at 16:17Reply

    Saya mau masuk, dari Islam. Pegangan ke Qur’an dan hadist saja mas, selama ada di kedua itu insyaAllah selamat, bukankah ketika kita SD kita pasti ditanya soal, apa pegangan kita selama hidup di dunia? pasti anda semua menjawab Qur’an dan Hadist. Apapun tiraimu, entah muhammadiyah, NU, wahabi, kalau selama tidak menyimpang Qur’an dan Hadist ya monggo saja. Saya pengikut muhammad. Segala kegiatan di dunia ini andaikata ini diperbolehkan, itu dierbolehkan maka mencuri pun bisa dikatakan baik. baik menurut manusia itu relatif, sedangkan Qur an dan hadist adalah firman dan perkataan kanjeng nabi, sudah pasti benar dan baik menurut Allah. Ingat mas, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah. jika perdebatan ini tetap tidak berada pada titik temu, kembalilah ke soal SD tadi, Qur’an dan hadist.

  15. den bagus fatah05/09/2012 at 23:41Reply

    mas yoga……….setuju bgt tuh….
    Al Qur’an dan Hadits….
    tapi…..misal tdk ada dlm keduanya gimana tuh??
    contohnya hukum memukul orang tua….
    kan g ada tuh ayat apa hadits yg menjelaskannya???

  16. efendy11/10/2012 at 20:23Reply

    hehehe… memang ulama ulama jaman dulu tidak berpegang pada Al-Quran dan Hatits..?? ulama ulama jaman dahulu apakah kepintarannya lebih pintar anda yang lahir di jaman moderen ini, coba cari deh hukum memakai narkoba di Al-Qur’an dan Hadist ada gak…??? kalau gak pake ijtihat, ijmak dan qias pasti nantinya anda bilang halal. jangan sok pinter bung menterjemahkan Alquan dan Hadits tanpa ada refrensi dari kitab kitab ulama-ulama jaman dahulu, karena ulama adalah kepanjangan dari Nabi.

  17. gus_baster14/10/2012 at 15:48Reply

    subhanallah, ternyata kita tidak bisa sembarangan dalam mengambil keputusan maupun berkomentar, karena masih banyak rahasia yang belum tergali diluar sana, teruslah belajar carilah kebenaran yang hakiki,,,Wallahu a’lam bissowab

  18. kusmanta15/10/2012 at 16:05Reply

    Sdr Bachdim Kurniawan . . . tanggapan anda?

  19. segoromiring16/10/2012 at 20:08Reply

    SETOEDJOE! saya idem mas DENI

  20. surya16/04/2013 at 19:46Reply

    salut untuk tim sarkub, “”

  21. NoerMoh12/07/2013 at 04:53Reply

    KITAB FIQIH MUHAMMADIYAH, penerbit Muhammadiyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan th 1343 H

    bisa didownload disini:

    http://pustaka-darulhikmah.blogspot.com/2013/05/kitab-fiqh-muhammadiyyah.html

  22. Prm Pandeyan23/05/2014 at 04:01Reply

    lg nglindur ya gus

  23. Dulmajid Majid03/08/2014 at 08:56Reply

    Di zaman Rosulullah SAW, dulu ada tiga golongan besar yang masing-masing mengaku golongan paling benar dan yang lain salah, mereka adalah Yahudi, Nasrani dan Islam. Sengketa klaim kebenaran tersebut diselesaikan sendiri oleh Allah SWT dengan diturunkannya sebuah ayat …. intinya kalau memang benar Tuhan mu dan Tuhan ku adalah Tuhan yang satu Allah SWT, ayo kita kita kumpul dan bicara tentang kebenaran saling menyalahkan ….. Belajar dari cara Allah SWT menyelesaikan klaim yang merasa paling benar ….. Jika NU, Muhammadiyyah, Wahabi, Syi'ah, LDII, Ahmadiyyah dll ,masing-masing merasa dirinya yang paling benar, ayolah berkumpul dan berbicara kebenaran selesaikan klaim kebenaran dengan Al-Quran dan As-sunah dengan penuh keihlasan dan keilmuan (gak usah malu atau gengsi karena selama ini banyak omong tentang kebenaran). Sebab kalau hal di atas tetap dibiarkan bisa jadi orang bodoh-bodoh yang lahir belakangan akan melakukan pembalasan saling menghina, mengkafir-kafirkan, memusyrik-musyrikkan, menyesat-nyesatkan satu sama lain dan ujungnya hilang ukhuwah islamiyyah. Na'uudzuubillaahi min dzaalik. Hayolah Tokoh-tokoh NU yang secara keulamaan lebih bijaksana, undanglah mereka, ajak bicara dalam ISLAM yang penuh kedamaian dan persaudaraan …..(gak usah nunggu mereka mengundang, mereka tidak akan pernah punya niat untuk mengundang untuk membicarakan kebenaran agama)

  24. Persyarikatan Muhammadiyah Gunungkidul02/01/2015 at 10:56Reply

    Sang penyusup pun mencetak kader-kader yang mendukung gerakan Wahabi. Sampai akhirnya KH Achmad Dahlan dan sebagian kecil pengikutnya menyingkir dari kota Jogjakarta untuk menetap di pelosok lereng Gunung Merapi, tempat yang sangat sulit di jangkau oleh orang-orang yang mengejar beliau.Sampai K.H. Achmad Dahlan wafat, hanya sebagian kecil pengikutnya yang sampai saat ini masih meneruskan ajaran beliau. Mereka menyebut diri sebagai “Muhammadiyah Dalam”, adapun ajaran Muhammad Basya Dahlan adalah “Muhammadiyah Luar”.Aliran Muhammad Basya Dahlan inilah yang sampai saat ini berkembang ke seluruh penjuru dengan ajaran wahabinya yang memusuhi Ahlul Bait dan ajaran Mbah Sholeh Darat. Ajaran ini pula yang memusuhi umat Islam yang mengikuti KH Hasyim Asyari. Bahkan menuding kaum muslimin selain mereka telah musyrik atau kafir. Tujuan utamanya adalah memusnahkan Ahlul Bait dan Ahlus sunnah wal jamaah…Muhammadiyah Luar ini juga memusuhi kitab-kitab Kyai Sholeh Darat seperti maulid burdah, tahlil, dan lainnya. Termasuk yang menganut paham ini justru beberapa keturunan Mbah Soleh Darat sendiri, sehingga berpuluh tahun masjid peninggalan beliau terbengkalai.? Sumbernya dari mana itu?

    Ckckc… Buka puasa yoks gus 🙂

  25. Azis Wae04/01/2015 at 00:44Reply

    Wahahaha….

  26. Srigala Merah04/01/2015 at 08:28Reply

    hahahaaha SarKub, para Sarjana Kuburan bergerilya untuk mengaburkan sejarah Muhammadiyah. Karena para pengikut NU sekarang sudah banyak yang pintar dan meninggalkan NU lalu bergabung dengan Muhammadiyah. Jadi NU gerah, dan malah Organisasi nya pun Satgnan. Jadi iri dengan Muhammadiyah yang terus berkembang pesat. Baik dalam negeri, mau pun diluar negeri sudah banyak cabang cabang Muhammadiyah yang berdiri.

    Sarjana Kuburan pasti mengambil berita dari link ini :

    http://satuislam.wordpress.com/2013/12/11/peran-agen-zionis-wahabi-dalam-distorsi-sejarah-muhammadiyah/

    dalam link itu dituliskan kalau yang mengatakan itu adalah Hussein Badjerei yang merupakan putera seorang Asisten Pribadi Syeikh Syurkati :

    Di sinilah juga Syeikh Ahmad syurkati bekerja sebagai penasihat Van der plas sekaligus sebagai guru dan sahabatnya. Hal ini justru diungkapkan disebuah buku yg ditulis oleh anak dari asisten pribadi serta murid Syeikh Ahmad syurkati sendiri yg bernama Hussein badjerei putera dari Abdullah aqil badjerei. Hussein badjerei ini adalah penulis resmi buku sejarah perkembangan Al Irsyad di Indonesia, jadi datanya pastilah valid karena dia dapat langsung dari ayahnya dan orang dalam Al Irsyad sendiri.

    padahal Al Irsyad itu adalah termasuk golongan Islam pembaruan sama seperti Muhammadiyah dan Persis.

    ini link nya :

    http://alirsyadjember.blogspot.com/2013/11/sejarah-organisasi-al-irsyad-al.html

    jadi untuk apa mempercayai tulisan Sarjana Kuburan ini??

    Hahhaaha belajar lagi yah sejarah Muhammadiyah dengan benar.

    Wassalam.

    Fadlan M Daulay
    NKTAM 1165578

  27. Mocacino Cino24/06/2015 at 09:03Reply

    Pantas saja namanya SRIGALA MERAH

Leave a Reply