Sebaik-baik Perempuan Adalah Sayyidah Fatimah

Sarkub Share:
Share

Perempuan terbaik, wanita yang paling afdhal  menurut Qaul yang mu’tamad adalah Saayyidah Faathimah Azzahra ra.  Karena beliau adalah satu bagihan tubuh Raulullah SAW (Bidh’atun min bidh ‘ati Rosulillah ) Disusul kemudian Sayyidah Maryam, Sayyidah Khodijah, Sayyidah ‘Aisyah, Sayyidah Asiyah dan baru kemudian Istri – iistri Raasulullah SAW selain Khadijah dan ‘Aisyah .

Muqobilul Mu’tamad menyatakan yang paling utama adalah Sayyidah Maryam binti Imran, di susul Sayyidah Fathimah, Sayyidah Khodijah baru kemudian Sayyidah ‘aisyah.  Sebagaimana syair :

Fadhlun Nisaa bintu ‘Imroon Fa Fathimah  #  Fakhodijatun tsumma Man qod barro ahulloh

Sebaik wanita adalah Maryam bint Imran , lalu Fathimah . Maka selanjutnya adalah Khodijah, dan kemudian wanita yang Allah bebaskan dari  tuduhan dan Fitnah “

Makna keafdholan ini adalah sebagai wanita yang paling tinggi derajatnya di surga.

Adapun menurut Qaul Mu’tamad yang menyatakan bahwa Wanita paling afdhal adalah Sayyidah Fathimah Azzahra , maka beliau adalah Sayyidatu nisaai ahlil Jannah. Tuan dari para wanita penghuni surga. Namun dari sini muncul isykal .

Bagaimana Sayyidah Fathimah bisa menjadi  yang paling afdhal sedangkan surganya ada di dalam derajat Sayyidina Ali bin Abi Thalib? Bukankah beliau istrinya, dan sesungguhnya setiap wanita itu akan berdiam di dalam surga bersama suaminya .

Sedangkan Sayyidah Khodijah – yakni ibundanya – yang dikatakan lebih rendah ke afdhalannya itu di surga berdiam dalam derajat Surganya Nabi SAW, karena beliau adalah Istrinya, dan tanpa ada keraguan sama sekali bahwa derajat surga nabi jauh lebih tinggi daripada surganya Sayyidina Ali  .

Lalu , bagaimana mungkin Sayidah Fathimah di katakan lebih afdhal daripada Sayidah Khadijah kalau ternyata surganya sendiri ada jauh di bawah surga Sayidah Khadijah ?

Jawab dari pertanyaan ini adalah :

Seorang perempuan jika mengiikuti derajat suaminya maka sebenanya dia mendapat kemuliaan derajat tersebut bukan karena dhatiyyah dirinya sendiri. Tetapi kareana mengikuti kemuliaan suaminya. Seorang pelayan yang merupakan rakyat jelata terkadang dia duduk disamping Raja sedangkan di depannya ada Maha mentri yang merupakan orang yang paling terpandang sesudah Raja ternyata duduk dibawah kursi raja.

Maka tempat dimana pelayan itu duduk ternyata lebih tinggi dibanding tempat duduknya Maha mentri. Tetapi  apakah kemudian engkau akan  mengatakan bahwa Pelayan itu lebih mulia dibanding Maha mentri? Tentu tidak.

Pelayan itu duduknya lebih tinggi karena dia mengikuti duduknya Raja yang dia layani, bukan karena kemuliyaan dirinya sendiri.

Sungguh berbeda antara Tabi’ [ Yang mengikuti ] dengan Matbu’ [ yang di ikuti ]

Sungguh berbeda antara orang yang kemuliyaannya itu keluar dari dirinya sendiri dengan orang yang kemuliaannya kerena mengikuti orang lain. Dengan gambaran seperti inilah dapat difahami makna perbedaan antara derajat Sayyidah Fathimah dengan Sayyidah Khadijah.

 

Berbicara tentang kemuliayaan, bahwa Ummi Hani’, saudara perempuan Sayyidina Ali pernah dilamar oleh Baginda nabi Saw . Tetapi apa jawaban Ummi Hani’ ? . Dia menjawab :

“ Sesungguhnya aku ini wanita yang direpotkan dengan mengurusi anak – anakku yang masih kecil “

Ummi Hani’ sebelumnya telah menikah dan sepeninggal suaminya dia mesti mengurusi anak-anaknya yang banyak . Alasan yang ia kemukkan kepada Rasulullah SAW itu pun Rasul terima sehingga beliau urung  menjadikannya sebagai seorang istri.

Semestinya Ummi Hani’ menerima lamaran Rasulullah SAW dan jangan menolaknya, sehingga akan menjadikan dirinya dalam derajat para istri – istri Raulullah SAW di surga. Yakni di derajat surga tertinggi, surga Baginda Nabi SAW.

 

HIkayah Ba'dhus Shalihin

Tetapi, Subhanallah. . . Ada juga manusia yang menganggap murah saja sebuah kemuliaan, tidak menjarah kesempatan dalam meraihnya. Sebagaimana cerita ba’dhus Shalihin bahwa dahulu di jaman Bani israil ada seorang yang begitu Shalih tetapi dia bodoh lagi dungu .

Maka Allah memberi wahyu pada nabi zaman itu :

katakan kepada hamba_Ku yang Shalih itu, bahwa Aku memberinya kesempatan untuk meminta kepada-Ku tiga buah permintaan . Dan ketiga – tiganya akan Aku kabulkan “

Jikalau dia seorang  yang berakal, maka dia akan meminta kepada Allah hal – hal yang penting saja. Tetapi begitu mendengarnya, dia berkata :

“Aku akan musyawarahkan dahulu dengan istriku, apa sebaiknya yang akan aku minta..”

Dia segera menemui istrinya dan menceritakannya. Dan istrinya berkata : 

“ Doa pertama yang engkau minta kepada Allah adalah agar Allah menjadikan aku sebagai wanita paling cantik dari seluruh Bani Israil..”

Orang Shalih itupun berdoa dan jadilah istrinya sebagai wanita tercantik kaumnya . Tentu ini adalah permintaan yang pertama .

Tetapi akibatnya, kecantikan istrinya itu malahan menjadi sebab para laki-laki menggoda dan berbuat serong dengannya. Melihat kenyataan seperti itu, Orang Shalih itu pun marah. Dia kemudian dalam kemarahannya berdoa agar istrinya dirubah Allah menjadi Kera !.

Jadilah kini istrinya seekor kera. Dan ini permintaan kedua.

Akibatnya, keluarga istrinya menjadi marah dan mengancam akan membunuh dia, jika tidak dikembalikan menjadi manusia seperti sedia kala. Karena takut akan di siksa dan di bunuh itulah kemudian Orang Shalih yang bodoh itu meminta kepada Allah agar istrinya di kembalikan seperti sedia kala . Dan ini adalah permintaan ke tiga.

Maka hilanglah, tiga doa yang dikabulkan itu tanpa memberinya kebaikan apa-apa .

 

 SUMBER : Ditulis oleh DR Muhajir Madad Salim, Mkub dari Au kama Qola Al habib Salim Rahimahulloh

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply