Qiyamul Lail Maharnya Bidadari

Sarkub Share:
Share

sholat1Selalunya menarik bila membicarakan dunia bidadari. Mereka adalah makhluq yang Allah ciptakan sempurna tanpa cela. Semua orang mengimpikan bisa bersanding dengannya.


Hati kan melayang mengangkasa karena kegirangan mendengar keelokannya pipinya yang bening bisa digunakan untuk bercermin dan tulangnya yang putih kelihatan dari balik dagingnya, jika kulit dan dagingnya tidak tertutupi. 

Jika dia melihat dunia, maka antara langit dan bumi akan dipenuhi bau wanginya, sehingga mulut manusia akan senantiasa membaca tahlil, takbir dan tasbih.


Apa yang ada di barat dan timur akan berdandan untuknya, dan setiap mata akan melihatnya dan terpejam untuk melihat selainnya. Cahayanya akan meredupkan cahaya matahari seperti matahari yang meredupkan cahaya bintang, dan akan beriman kepada Allah seluruh manusia yang ada di atasnya.

Jilbab yang ada di atas kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya, hasrat untuk menikahinya lebih besar daripada segalanya. Semakin lama waktu bertambah, dia akan kelihatan semakin cantik dan indah. 

Semakin hari akan semakin bertambah cinta dan erat. Dia tidak pernah haidh, melahirkan dan nifas. Suci dari kotoran, air ludah, kencing, air besar dan kotoran lainnya.

Jika melihatnya akan menggembirakan dan jika diperintah untuk taat, dia pun mentaatinya. Jika suaminya meninggalkannya, maka dia akan menjaga diri dan keamanannya. 

Dia seorang perawan yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh manusia atau jin, sehingga setiap kali melihatnya akan menimbulkan rasa gembira. 

Setiap kali berbicara dengannya, seakan di telinga dipenuhi permata yang indah. Jika dia merayu dan merajuk, rayuan dan rajukannya terasa nikmat. Jika dia memeluk, tidak ada pelukan yang lebih hangat darinya. Dan jika dia memberi sesuatu atau menerima, tidak ada cara sebaik yang dilakukannya.

" QIYAMIL LIAL adalah MAHARNYA "

Azhar bin Mughits Rahimahullah berkata,
“Suatu malam aku bermimpi bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik, lalu aku katakan kepadanya, milik siapa kamu ?”
Dia menjawab, “Milik orang yang bangun malam pada musim dingin.”
Aku bertanya, “Maukah kamu nikah dengan aku ?”
Dia menjawab, “Pinanglah aku wahai tuanku, dan berilah maharku ?”
Aku bertanya kepadanya, “Apa maharmu ?”
Dia menjawab, “Tahajud yang panjang.”

Abu Sulaiman Ad-Darani adalah seorang tabi’in yang menjadikan qiyamullail sebagai MAHAR bidadari. Ia menuturkan kisahnya, “Ketika aku sedang sujud dalam qiyamul lail, kantuk menyerangku hingga aku tertidur. Tiba-tiba ada bidadari datang yang menggerakkan kakinya untuk membangunkanku sembari berkata menegur, “Duhai kekasihku…., apakah kedua matamu bisa terpejam padahal Sang Raja, Allah Ta’ala tidak pernah tidur untuk melihat orang-orang yang bertahajud di malam hari ? Alangkah jeleknya mata yang lebih mementingkan tidur dari pada lezatnya bermunajat kepada Dzat yang Maha Perkasa. Bangunlah. Sungguh kematian sudah dekat dan orang yang bercinta bersua dengan orang yang dicinta. Lantas, apa makna tidurmu ini ?”


Bidadari itu melanjutkan kata katanya, “Duhai kekasihku…., Duhai sayangku….,Duhai permata hatiku…..,Apakah kedua matamu tidur padahal aku selalu menantimu di tempat pingitanku selama sekian tahun lamanya (dalam riwayat lain 500 tahun) ?”
Mendengar teguran seperti itu, Abu Sulaiman Ad-Darani bangun dengan bermandikan keringat dingin karena malu.
Ah bidadari-bidadari, apakah engkau menanti kami seperti engkau menanti Abu Sulaiman Ad Darani….?
 

Dari Bilal bahwasanya Rosululloh pernah bersabda,
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamullail, karena ia adalah jejak orang-orang shalih sebelum kalian, bentuk taqarrub kepada Allah, penghapus dosa, penebus kesalahan dan penyangkal penyakit dari badan.” (HR. Tirmidzi, Nasa’I dan Hakim).




(Kaisar Akini Kunza)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply