Penyamaran Sang Kyai

Sarkub Share:
Share

Hari Minggu yang mestinya untuk kegiatan santai-santai menikmati liburan akhir pekan, justru menjadi hari yang boleh dibilang kegiatan maraton. Pagi sampai menjelang Dhohor menghadiri Sillahturrahmi Wali Santri di Pesantren tempat anak saya mondok. Setelah Sholat Dhohor bersama istri menghadiri Pernikahan Teman se kantornya di daerah Klayatan. Habis buwuh menuju Villa Bungkoh Dau, melanjutkan persiapan ugo rampe acara Seminar dan OUTBOUND Training.

Ada yang menarik saat menghadiri undangan Sillahturrahmi Wali Santri Pondok Pesantren itu. Saat giliran sambutan disampaikan oleh Sang Kyai Pengasuh Pondok Pesantren, wali santri yang kebanyakan datang sekalian sangat terkesima mengikuti uraian Pak Kyai.

Kyai yang cepat akrab dengan siapa saja ini, mengawali sambutannya dengan cerita tentang sulitnya mengawal, mengawasi anak-anak asuhannya. Santri di pondok pesantren itu kebanyakan sekolah di Madrasah Aliyah Negeri 1 Malang. Di pondok yang berada di tengah kampung yang padat penduduk itu tidak hanya membina santri laki-laki santri perempuan juga ada di dalamnya.

Ada beberapa kendala yang disampaikan Sang Kyai dalam mengawasi perilaku para santri. Pada saat antara jam-jam pulang sekolah dan kembali ke pondok. Rentang waktu jam 14.OO sampai Jam 17.00 rentan dengan pengaruh lingkungan. Sebenarnya Kyai  memberikan kemudahan bagi santri untuk mengembangkan potensi, bakat dan keinginan santrinya.

Pada jam ‘bebas’ tersebut sering dimanfaatkan oleh santri untuk online di Warnet, ada yang main futsal dan ada yang sekedar jalan-jalan memanfaatkan jam bebas. Namun kebanyakan para santri langsung kembali ke pondok seusai pulang sekolah.

Yang sangat disayangkan oleh Pengasuh Pondok ini, kadang-kadang anak-anak lupa waktu, kadung asyik On line sampai melampaui batas jam bebas. Belum lagi yang olah raga futsal ini, semakin sering bermain semakin menghabiskan sangu santri. Ya maklum olah raga yang satu ini memang ngetren di kalangan anak muda walau harus membayar uang sewa 75rb per jamnya. Kasihan orang tuanya harus mengupayakan bekal ekstra bagi anak-anaknya.

Pak Yai merasa galau jika sudah melewati jam bebas, ada santri yang masih belum kembali ke pondok. Lebih cemas lagi jika ada santri yang ijin pulang namun sampai batas tanggal dan jam yang telah ditentukan untuk kembali belum juga tampak di areal pondok. Memang tidak semua santri menunjukkan gelagat yang aneh-aneh atau menerjang tata tertib pondok pesantren, hanya santri-santri tertentu saja. Namun demikian tetap saja menjadi tanggung jawab Sang Kyai.

“Kulo menawi dalu mboten saget tilem, ngawasi putro-putri Njenengan sedoyo, nopo malih menawi wonten lare ingkang dereng wangsul dateng pondok ngantos dalu. Njengan enak-enak tilem pun mboten mikir tingkah polahe putro-putri Njenengan, kulo mumet, yok opo arek iki karep e …” Curhat Sang Kyai, disambut tertawa tersipu malu para wali santri.

Ketika mendapat info gelagat yang aneh-aneh santrinya, terutama santri yang masih di luar pondok, saat itulah Sang Kyai beraksi, menyiapkan aneka kostum penyamaran untuk penyidikan, guna memperoleh informasi yang sebenarnya. Kostum ala Arema lengkap dengan slayer pun ada. Kadang harus berkostum ala pengemis. Kamera kecilpun selalu dibawa.

Diceritakan oleh Pak Yai, pernah ada santri yang sampai jam 11 malam belum kembali ke asrama, beliau segera cari info dari beberapa santri yang dianggap tahu. Setelah memperoleh gambaran sepintas, Pak Yai mengajak beberapa santri senior untuk mendampinginya.

Di keluarkan mobilnya menuju sasaran, setelah berputar-putar, mengamati dari satu warung-ke warung satunya, diketahuilah santri yang menjadi sasaran pencarian itu sedang asyik makan dengan pacarnya. Aktion segera dimulai. Pak  Yai membisiki pemilik warung, yang dibisiki manggut-manggut tanda setuju. Pak Yai menyamar sebagai pembatu, tukang korah-korah dan ringkes-ringkes, dan tidak lupa sambil menjalankan aksinya dia menjepret dengan kamera kecilnya.

Sesekali berusaha memancing perhatian, agar santri senior bisa mengambil salah satu sepatu milik santri yang manjadi target sebagai barang bukti.Penyamaran berhasil, barang bukti dibawa pulang lengkap dengan fotonya. Tanpa sepengetahuan santri yang sedang menjadi sasaran pencarian. Tanpa ada insiden tanpa ada rame-rame.

Di saat pengajian subuh, di sela-sela menjelaskan isi pelajaran kitab yang sedang diajarkan, Sang Kyai menanyakan kepada santrinya siapa yang kemarin sampai malam belum pulang kembali ke pondok. Santri ada yang terdiam dan ada yang tolah toleh dengan temannya. Tidak ada yang mengaku, lama suasana hening. Pak Yai berdiri dan mengambil bungkusan di pinggir tembok, terus membuka isinya.

“Ini sepatu siapa ?”, sambil menunjukkan ke semua santri yang sedang mengaji subuh. Akhirnya telak sudah, santri yang merasa memiliki tidak bisa mengelak dan mengakui.

Pak Kyai memang sengaja tidak melakukan ‘tindak di tempat’ kepada santrinya yang melanggar ketentuan itu, beliau merasa lebih bijak, kalau kejadian itu dijadikan sebagai pelajaran bagi santri yang lain, peristiwa itu dijadikan shock terapi, dan ini lebih mendidik.

Sesekali Penyamaran Kyai sebagai buruh tani yang sedang menyiram tanaman, tatkala santri yang menjadi sasaran pengawasan sedang sembunyi di tempat sunyi. Kadang pula berpakaian ala arema. Kadang menjadi penjual bakso bahkan berpura-pura jadi pengemis.

Semua itu dilakukan karena tanggung jawab yang luar biasa seorang Kyai yang telah mendapat amanah dari para wali santri. Semoga santri-santrinya menjadi anak berilmu- bermanfaat amien.

(Oleh: Bsj Embasjori)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply