Mengenal Akidah Imâm Ahmad Ibn Hanbal

Sarkub Share:
Share

Akidah al-Imâm Ahmad Ibn Hanbal dalam menyikapi teks-teks mutasyâbih baik teks Mutasyâbihât dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi yang shahih adalah seperti keyakinan para ulama mujtahid lainnya dari para ulama Salaf saleh, yaitu memberlakukan metodologi takwil sesuai tuntutan teks-teks itu sendiri. al-Imâm Ahmad tidak seperti yang dipropagandakan kaum Wahhabiyyah sebagai Imam yang anti takwil. Dalam hal ini kaum Wahhabiyyah telah melakukan kedustaan besar atas al-Imâm Ahmad, dan merupakan bohong besar jika mereka mengklaim diri mereka sebagai kaum bermadzhab Hanbali. Madzhab al-Imâm Ahmad terbebas dari keyakinan dan ajaran-ajaran kaum Wahhabiyyah. Anda dapat melihat dengan berbagai referensi yang sangat kuat bahwa al-Imâm Ahmad telah memberlakukan takwil dalam memahami teks-teks Mutasyâbihât, seperti terhadap firman Allah: ”Wa Jâ-a Rabbuka” (QS. Al-Fajr: 22), dan firman-Nya: ”Wa Huwa Ma’akum” (QS. Al-Hadid: 4), juga seperti hadits Nabi ”al-Hajar al-Aswad Yamîn Allâh Fi Ardlih”. Teks-teks tersebut, juga teks-teks Mutasyâbihât lainnya sama sekali tidak dipahami oleh al-Imâm Ahmad dalam makna-makna zahirnya. Sebaliknya beliau memalingkan makna-makna zahir teks tersebut dan memberlakukan metode takwil dalam memahami itu semua, karena beliau berkeyakinan sepenuhnya bahwa Allah maha suci dari menyerupai segala makhkuk-Nya dalam segala apapun.

            Al-Hâfizh Abu Hafsh Ibn Syahin, salah seorang ulama terkemuka yang hidup sezaman dengan al-Hâfizh ad-Daraquthni berkata: “Ada dua orang saleh yang diberi cobaan berat dengan orang-orang yang buruk akidahnya, yaitu Ja’far ibn Muhammad dan Ahmad ibn Hanbal”[1].

Yang dimaksud dua Imam agung yang saleh ini adalah; pertama, al-Imâm Ja’far ash-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir, orang yang dianggap kaum Syi’ah Rafidlah sebagai Imam mereka hingga mereka menyandarkan kepadanya keyakinan-keyakinan buruk mereka, padahal beliau sendiri sama sekali tidak pernah berkeyakinan demikian. Dan yang kedua adalah al-Imâm Ahmad ibn Hanbal, orang yang dianggap oleh sebagian orang yang mengaku sebagai pengikutnya, namun mereka menetapkan kedustaan-kedustaan dan kebatilan-kebatilan terhadapnya, seperti akidah tajsîm, tasybîh, anti takwil, anti tawassul, dan lainnya yang sama sekali hal-hal tersebut tidak pernah diyakini oleh al-Imâm Ahmad sendiri. Di masa sekarang ini, madzhab Hanbali lebih banyak lagi dikotori oleh orang-orang yang secara dusta mengaku sebagai pengikutnya, mereka adalah kaum Wahhabiyyah, yang telah mencemari kesucian madzhab al-Imâm Ahmad ini dengan segala keburukan keyakinan dan ajaran-ajaran mereka. Hasbunallâh.  

            Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi al-Hanbali dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzîh menuliskan sebagai berikut:

“Saya melihat bahwa ada beberapa orang yang mengaku di dalam madzhab kita telah berbicara dalam masalah pokok-pokok akidah yang sama sekali tidak benar. Ada tiga orang yang menulis karya untuk itu; Abu Abdillah ibn Hamid, al-Qâdlî Abu Ya’la, dan Ibn az-Zaghuni. Tiga orang ini telah menulis buku yang mencemarkan madzhab Hanbali. Saya melihat mereka telah benar-benar turun kepada derajat orang-orang yang sangat awam. Mereka memahami sifat-sifat Allah secara indrawi. Ketika mereka mendengar hadits ”Innallâh Khalaqa Adâm ‘Alâ Shûratih”, mereka lalu menetapkan shûrah (bentuk) bagi Allah, menetapkan adanya wajah sebagai tambahan bagi Dzat-Nya, menetapkan dua mata, menetapkan mulut, gigi dan gusi. Mengatakan bahwa wajah Allah memiliki sinar yang sangat terang, menetapkan dua tangan, jari-jemari, talapak tangan, jari kelingking, dan ibu jari. Mereke juga menetapkan dada bagi-Nya, paha, dua betis, dan dua kaki. Mereka berkata; Adapun penyebutan tentang kepala kami tidak pernah mendengar. Mereka juga berkata; Dia dapat menyentuh dan atau disentuh, dan bahwa seorang hamba yang dekat dengan-Nya adalah dalam pengertian kedekatan jarak antara Dzat-Nya dengan dzatnya. Bahkan sebagian mereka berkata; Dia bernafas. Lalu untuk mengelabui orang-orang awam mereka berkata; ”Namun perkara itu semua tidak seperti yang terlintas dalam akal”.

Mereka telah mengambil makna zahir dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, lalu mereka mengatakan, seperti yang dikatakan para ahli bid’ah, bahwa itu semua adalah sifat-sifat Allah. Padahal mereka sama sekali tidak memiliki dalil untuk itu, baik dari dalil-dalil tekstual maupun dalil-dalil akal. Mereka berpaling dari teks-teks muhkamât yang menetapkan bahwa teks-teks Mutasyâbihât tersebut tidak boleh diambil makna zahirnya, tetapi harus dipahami sesuai makna-makna yang wajib bagi Allah, dan sesuai bagi keagungan-Nya. Mereka juga berpaling dari pemahaman bahwa sebenarnya menetapkan teks-teks Mutasyâbihât secara zahirnya sama saja dengan menetapkan sifat-sifat baharu bagi Allah.

Perkataan mereka ini adalah murni sebagai akidah tasybîh, penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Ironisnya, keyakinan mereka ini diikuti oleh sebagian orang awam. Saya telah memberikan nasehat kepada mereka semua tentang kesesatan akidah ini, baik kepada mereka yang diikuti maupun kepada mereka yang mengikuti. Saya katakan kepada mereka: “Wahai orang-orang yang mengaku madzhab Hanbali, madzhab kalian adalah madzhab yang mengikut kepada  al-Qur’an dan hadits, Imam kalian yang agung; Ahmad ibn Hanbal di bawah pukulan cambuk, -dalam mempertahankan kesucian akidahnya- berkata: “Bagaimana mungkin aku berkata sesuatu yang tidak pernah dikatakan Rasulullah!?”. Karena itu janganlah kalian mangotori madzhab ini dengan ajaran-ajaran yang sama sekali bukan bagian darinya”[2].

Tiga orang dinyatakan Ibn al-Jawzi di atas sebagai orang-orang pencemar nama baik madzhab Hanbal:

Orang pertama adalah Abu Abdillah ibn Hamid, nama lengkapnya ialah Abu Abdillah al-Hasan ibn Hamid ibn Ali al-Baghdadi al-Warraq, wafat tahun 403 Hijiriah. Di masa hidupnya, dia adalah salah seorang terkemuka di kalangan madzhab Hanbali, bahkan termasuk salah seorang yang cukup produtif menghasilkan karya tulis di kalangan madzhab ini. Di antara karyanya adalah Syarh Kitâb Ushûl ad-Dîn, hanya saja kitab ini, juga beberapa kitab karyanya penuh dengan kesesatan akidah tajsîm. Dari tangan orang ini pula lahir salah seorang murid terkemukanya, yang sama persis dengannya dalam keyakinan tasybîh, yaitu al-Qâdlî Abu Ya’la al-Hanbali.

Orang kedua; al-Qâdlî Abu Ya’la al-Hanbali, nama lengkapnya ialah Abu Ya’la Muhammad ibn al-Husain ibn Khalaf ibn al-Farra’ al-Hanbali, wafat tahun 458 Hijriah. Ia adalah salah seorang yang dianggap paling bertanggung jawab, –sama seperti gurunya tersebut di atas–, atas tercemarnya kesucian madzhab Hanbali. Bahkan salah seorang ulama terkemuka bernama Abu Muhammad at-Tamimi berkata: “Abu Ya’la telah mengotori madzhab Hanbali dengan satu kotoran yang tidak akan dapat dibersihkan walaupun dengan air lautan”. Di antara karya Abu Ya’la ini adalah Thabaqât al-Hanâbilah; di dalamnya terdapat perkataan-perkataan tasybîh yang secara dusta ia sandarkan kepada al-Imâm Ahmad ibn Hanbal. Padahal sedikitpun al-Imâm Ahmad tidak pernah berkeyakinan seperti apa yang ia sangkakannya. Termasuk salah satu karya Abu Ya’la adalah kitab berjudul Kitâb al-Ushûl, juga di dalamnya banyak sekali keyakinan-keyakinan tasybîh; di antaranya dalam buku ini ia menetapkan bentuk dan ukuran bagi Allah.

Sangat penting untuk diingat!!!, bahwa al-Qâdlî Abu Ya’la al-Mujassim ini berbeda dengan al-Hâfizh Abu Ya’la. Yang pertama; al-Qâdlî Abu Ya’la adalah seorang Mujassim murid dari Abu Abdillah ibn Hamid, seperti yang telah kita tuliskan di atas. Sementara al-Hâfizh Abu Ya’la adalah salah seorang Imam besar dan terkemuka dalam hadits yang tulen sebagai seorang sunni, nama lengkap beliau adalah Abu Ya’la Ahmad ibn Ali al-Maushili, penulis kitab Musnad yang kenal dengan Musnad Abû Ya’lâ.

Adapun orang yang ketiga, yaitu Ibn az-Zaghuni, nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali ibn Abdillah ibn Nashr az-Zaghuni al-Hanbali, wafat tahun 527 Hijriah. Orang ini termasuk salah satu guru dari al-Hâfizh Ibn al-Jawzi sendiri. Ia menulis beberapa buku tentang pokok-pokok akidah, salah satunya pembahasan tentang teks-teks mutasyâbihât berjudul al-Idlâh Min Gharâ-ib at-Tasybîh, hanya saja di dalamnya ia banyak menyisipkan akidah-akidah tasybîh.

Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh selain menyebutkan tiga orang yang harus bertanggaungjawab terhadap tercemarnya madzhab Hanbali, beliau menuliskan pula bantahan-bantahan atas orang-orang berakidah tasybîh dan tajsîm yang mengaku bermadzhab Hanbali secara umum. Di antara apa yang dituliskan beliau sebagai berikut:

“Janganlah kalian masukan ke dalam madzhab orang saleh dari kalangan Salaf ini (al-Imâm Ahmad ibn Hanbal) sesuatu yang sama sekali bukan dari rintisannya. Kalian telah membungkus madzhab ini dengan sesuatu yang sangat buruk. Karena sebab kalian menjadi timbul klaim bahwa tidak ada seorangpun yang bermadzhab Hanbail kecuali pastilah ia sebagai mujassim. Bahkan, ditambah atas itu semua, kalian telah mengotori madzhab ini dengan mananamkan sikap panatisme terhadap Yazid ibn Mu’awiyah. Padahal kalian telah tahu bahwa al-Imâm Ahmad sendiri membolehkan untuk melaknat Yazid. Dan bahkan Abu Muhammad ata-Tamimi berkata tentang beberapa orang pimpinan dari kalian bahwa kalian telah mengotori madzhab ini dengan sesuatu yang sangat buruk yang tidak akan dapat dibersihkan hingga hari kiamat”[3]

Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi al-Hanbali dalam kitab Manâqib al-Imâm Ahmad pada bab 20 menuliskan secara detail tentang keyakinan al-Imâm Ahmad: “Keyakinan al-Imâm Ahmad Ibn Hanbal dalam pokok-pokok akidah”, Ia (al-Imâm Ahmad) berkata tentang masalah iman: “Iman adalah ucapan dan perbuatan yang dapat bertambah dan dapat berkurang, semua bentuk kebaikan adalah bagian dari iman dan semua bentuk kemaksiatan dapat mengurangi iman”. Kemudian tentang al-Qur’an al-Imâm Ahmad berkata: “al-Qur’an adalah Kalam Allah bukan makhluk. Al-Qur’an bukan dari selain Allah. tidak ada suatu apapun dalam al-Qur’an sebagai sesuatu yang makhluk. Barangsiapa mengatakan bahwa al-Qur’an makhluk maka ia telah menjadi kafir”.  

 


[1] Dikutip oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî dengan rangkaian sanad-nya langsung dari al-Hâfizh Ibn Syahin.

[2] Daf’u Syubah at-Tasybîh, h. 7-9

[3] Daf’u Syubah at-Tasybîh, h. 10

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply