Kondisi Keimanan Yang Memungkinkan Seorang Mukmin Disalami Malaikat Dalam Hidupnya

Sarkub Share:
Share

Dalam sebuah riwayat yang shohih, suatu hari Handhalah bertemu dengan Abu Bakar ra. Abu Bakar ra bertanya kepada Handhalah, "Bagaimana keadaanmu, wahai Handhalah ?" Handhalah menjawab, "Handhalah adalah seorang munafik." Abu Bakar ra terkejut dengan jawaban Handhalah. Kemudian dia bertanya lagi, "Subhanallah, apa yang kau katakan, wahai Handhalah ?" Handhalah menjawab, "Ketika kita berada di hadapan Rasulullah SAW., kita ingat neraka dan surga hingga seakan-akan kita melihat dengan mata kepala kita sendiri. Namun, setelah kita keluar dari majelis beliau dan berkumpul dengan istri, anak, dan juga kesibukan duniawi, kita banyak lupa." Abu Bakar ra berkata, "Demi Allah saya juga mengalami hal serupa."

Kemudian Handhalah dan Abu Bakar ra menghadap Rasulullah SAW. Handhalah berkata, "Wahai Rasul, Handhalah adalah seorang munafik." Rasulullah SAW. berkata, "Apa maksudmu, wahai Handhalah ?" Handhalah menjawab, "Ketika kita berada di hadapan Rasulullah SAW., kita ingat neraka dan surga hingga seakan-akan kita melihat dengan mata kepala kita sendiri. Namun, setelah kita keluar dari majelis Rasulullah dan berkumpul dengan istri, anak, dan juga kesibukan duniawi, kita banyak lupa."

Rasulullah SAW. bersabda, "Demi Zat yang dirimu berada dalam kekuasaan-Nya. Seandainya kalian bisa terus-menerus merasakan hal yang kalian rasakan ketika bersamaku dan ketika berzikir maka malaikat akan selalu menyalami kalian, baik ketika kalian berada di atas ranjang atau dalam perjalanan. Karenanya Handhalah, sebaiknya (kamu lakukan hal itu) sesaat demi sesaat saja. (Rasul menganjurkan hal ini sampai tiga kali)." (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Riwayat tersebut seolah ingin mengonfirmasikan kepada kita, tidak selamanya manusia selalu berada dalam ketaatan kepada Allah. Pun sebaliknya mustahil manusia selamanya terjerembab dalam dosa dan kemaksiatan. Abu Bakar saja, sahabat Rasulullah SAW. yang paling dekat dengan beliau, berada dalam kondisi seperti tersebut dalam hadits di atas. Ketika sedang dekat dengan Rasulullah, Abu Bakar ra dan para sahabat yang lainnya merasa dekat dengan Allah. Akan tetapi, ketika sudah keluar dari majelis Rasulullah SAW. dan bergumul dengan persoalan keduniaan, terkadang lupa. Apalagi kita umat Nabi Muhammad SAW. yang hidup tidak sezaman dengan Rasulullah, tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, dan tidak pernah berada dalam majelis Rasulullah. Kita hanya tahu ajaran Islam dari peninggalan (turats) yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya.

Artinya, merupakan sunnatullah apabila keimanan seseorang bersifat fluktuatif. Kadang berada dalam puncak keimanan, tetapi tidak jarang berada pada titik yang paling rendah. Sahabat Rasulullah SAW., Umair bin Habib al-Khatami RA. biasa berkata, "Iman itu bertambah dan berkurang."

Seseorang bertanya, "Apa saja yang menambah dan mengurangi iman ?" Jawabnya, "Bila kita mengingat Allah, berdoa pada-Nya, dan mengakui kesempurnaan-Nya, hal itulah yang menambahnya. Bila kita tidak peduli, menyia-nyiakan dan melupakan iman, maka hal itulah yang membuat iman kita berkurang."

Imam Ahmad bin Hanbal, saat ditanya tentang apakah iman bertambah dan berkurang, beliau menjawab, "Iman bisa bertambah sampai mencapai bagian tertinggi dari surga ke tujuh. Dan iman juga menurun sampai mencapai bagian terendah dari lorong-lorong tambang di perut bumi."

Kedua riwayat (masih banyak riwayat yang lain) menginformasikan kepada kita, iman adakalanya meningkat (naik), adakalanya melemah (turun). Tidak ada alat teknologi secanggih apa pun yang mampu mendeteksi kapan iman naik dan kapan turun. Bahkan, sangat sulit bagi manusia mengukur keimanan seseorang karena keimanan bersifat abstrak.

Bagaimana caranya memperbarui keimanan agar kita senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang mestinya dilakukan oleh seorang Muslim, di antaranya,
Pertama, sering aktif dalam berbagai kegiatan keislaman, mulai dari menghadiri berbagai pengajian, tadarus Al-Quran, mendengarkan berbagai ceramah dan taushiah, serta berbagai kegiatan keislaman lainnya. Dengan seringnya terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan hati menjadi terikat dengan Allah SWT. sebagaimana yang dialami oleh Abu Bakar, Handhalah, dan para sahabat Nabi yang lainnya.
Kedua, bergaul dengan orang-orang yang saleh. Seorang Muslim dianjurkan bergaul dengan siapa saja, tidak memilih-milih siapa yang akan menjadi teman kita. Artinya, seorang Muslim hendaknya tetap menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim ataupun dengan non-Muslim. Namun, jika kita menginginkan agar kualitas keimanan kita meningkat, semakin semangat dalam mengamalkan ibadah, berupaya menjadi hamba Allah yang istiqamah, dan agar ketika iman kita mulai kendur bisa segera dicharge lagi, ada motivator yang membuat diri kita kembali kepada Allah, maka bergaul dengan orang saleh dengan ketulusan hati mengharapkan ridla Allah adalah satu solusi untuk itu semua.
Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang yang saleh dan berkawan dengan orang yang jahat adalah seperti seseorang yang membawa minyak wangi dan seseorang yang meniup dapur tukang besi. Orang yang membawa minyak wangi, mungkin dia akan memberikannya kepadamu atau mungkin kamu akan membeli darinya dan mungkin kamu akan mendapat bau yang harum darinya. Sementara orang yang meniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu dan mungkin kamu akan mendapat bau yang tidak enak." (HR. Bukhari Muslim)

Sumber : Dr Sahil Althaf, Mkub Dosen UMI Cabang Bondowoso, Jawa Timur

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply