Kisah Seorang Ibu Dengan Anak Penyandang Autisme II

Sarkub Share:
Share

Oleh: Afiana Rohmani Abdul Kohar

Potongan kisah sebelumnya: Kisah Seorang Ibu Dengan Anak Penyandang Autisme

Di usianya yang ke lima Fikri sudah duduk di TK besar, TK untuk anak-anak normal. Walau kadang masih tampak perilaku autistiknya namun dia telah mengalami kemajuan perkembangan yang luar biasa. Dia sudah bisa membaca. Mampu mengerjakan matematika penjumlahan dan pengurangan dengan lancar. Dia pun hafal surat-surat pendek hingga surat Al Qoriah, juga surat Al Ghasiyah. Dia juga hafal beberapa doa sehari-hari. Dia hafal nama-nama jalan kota Semarang, dan juga hafal rute-rute beberapa tempat, walaupun dia jarang melewatinya.

Fikri yang dulu sempat saya sesali kehadirannya di dunia ini, kini mampu mengingatkanku akan Sang Maha Segalanya. Misalnya saat siang hari kami berjalan-jalan di mall, Fikri sering berkata “Ma, kita sholat Dzuhur dulu ya, Ma!” Kalau saya berkata, “Fikri, kita sholatnya nanti saja di rumah bagaimana?”. Dia menyangkal ,”Jangan Ma, sekarang saja. Kan sudah adzan!”. Atau saat saya menyesali turunnya hujan karena saya jadi terlambat masuk kerja, Fikri berkata, ”Ma, hujan itu kan rahmat dari Allah.”

Perjuangan Terus Berjalan

Kini di usianya yang ke tujuh, Fikri duduk di kelas 1 SD di Semarang, sebuah sekolah favorit. Alhamdulillah semenjak Fikri SD dia tidak perlu terapi lagi. Saya dan suamiku sungguh sangat berterima kasih kepada para terapis yang telah lama membantu kami. Walau begitu, perjuangan tetap berjalan, Fikri masih anak yang polos dan susah untuk menerima penjelasan yang butuh analisa. Dia hanya mampu berpikir sesuai dengan kenyataan yang ada. Sulit menjelaskan pelajaran tentang PKN, IPS dan ilmu-ilmu yang membutuhkan penalaran. Menjelaskan sesuatu pada Fikri akan lebih mudah jika ada sesuatu yang bisa dia lihat, dia rasakan.

Tak jarang teman-temannya sering menggoda karena sifatnya yang polos dan tidak bisa bermain pura-pura. Pernah sepatunya disembunyikan temannya dan dia harus pulang tanpa alas kaki, atau bekal makanya diambil teman. Kesabaran memang harus selalu tertanam dalam hati kami. Namun alhamdulillah para guru di sekolah Fikri sangat perhatian dengan Fikri, para guru sudah memahami karakter dan latar belakang perilaku dia.

Fikri tidak pernah takut untuk tampil di depan, dia selalu meminta yang pertama maju saat anak-anak yang lain ogah untuk tampil atau maju di depan kelas, sehingga kadang menjengkelkan. Namun Alhamdulillah seiring dengan perkembangan umurnya dia lebih mudah untuk diatur, emosinya juga lambat laun dapat terkontrol.

Fikri juga selalu menanyakan apapun sampai detil hingga orang sulit untuk menjawab. Fikri senang sekali menggambar, dia mampu menggambar sesuatu hingga hal-hal detil kecil sekalipun. Dia paling suka menggambar lampu dan jalanan lengkap dengan lampu-lampunya hingga detil.

Fikri Adalah Karunia

Setiap jengkal perkembangan Fikri hingga kini harus selalu kami syukuri. Fikri adalah karunia yang tiada tandingannya. Walaupun saya dan suami telah berkorban banyak tenaga, pikiran, waktu, harta, karir dan apapun itu untuk kesembuhan Fikri. Hampir seluruh hidup ini tercurah untuk Fikri. Mengasuh dan mendidik seorang Fikri memang harus penuh kesabaran. Mengasuh seorang Fikri bagaikan mengasuh 5 orang anak normal.

Tapi semua itu tak pernah kusesali, semua itu tak sebanding atas karunia dan kasih sayang Allah SWT kepada kami. Allah Maha Tahu bagaimana cara menyayangi kami. Allah mengirim Fikri supaya kami mampu lebih banyak belajar tentang arti kesabaran, arti cinta kasih dan ketulusan.

Saya yakin autisme ataupun ADHD bisa disembuhkan. Autisme ataupun ADHD bukanlah penyakit, tetapi suatu keistimewaan yang disandang. Keistimewaan ini tidak diderita oleh seorang anak pilihan untuk orang tua pilihan.

Mutiara yang dulu hilang, ternyata bukan hilang, tetapi hanya tersembunyi. Yang harus kami gali dengan penuh kesabaran. Menggali potensi yang dimilikinya, supaya bersinar seperti mutiara yang mahal harganya.

Penulis:

Kisah ini dikirim oleh Ibu Afiana Rohmani Abdul Kohar. Saat ini beliau tinggal di Semarang. Jika Anda ingin berkenalan dengan beliau atau Fikri, silakan klik Facebook beliau di: https://www.facebook.com/afiana.rohmani

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply