banner 728x90

Ketika Habib Munzir Dikritik Firanda

kenalilahaqidahmuk
Sarkub Share:
FacebookTwitterGoogle+WhatsAppTelegramLinkedInShare

Ada semacam fenomena timbulnya semangat keislaman yang menggelora dari generasi muda masa kini. Majelis-majelis agama marak di sana-sini, diskusi-diskusi keagamaan menjadi pemandangan sehari-hari, bahkan masuk hingga memenuhi dunia maya. Tentunya ini adalah perkembangan keagamaan yang menggembirakan, di tengah bobroknya iman dan moral generasi muda di tempat lainnya.

Sayangnya, tak jarang semangat dalam memunculkan Islam dalam diri sebagian mereka tak diimbangi dengan pemahaman yang utuh dalam ilmu aga­ma atau setidaknya kedewasaan dalam berinteraksi sesama insan seagama. Akibatnya, karakter yang cepat melekat dari cara beragama mereka adalah mudah sekali melontarkan tuduhan-tuduhan keras pada kelompok lain yang berbeda pemahamannya dengan pemikiran mereka. Dan ini sebenarnya “lagu lama” kaum Wahabi, sebagaimana tersirat dalam buku Ketika Sang Habib Dikritik (KSHD), yang baru terbit sekitar tiga bulan ini.

Memang, tak ada yang salah dalam semangat mengkritik. Tak boleh pula ada pihak yang merasa tak boleh dikritik, siapa pun dia. Ulama, habaib, kiai, atau siapa pun. Mereka semua manusia biasa, yang tidak suci dari dosa. Mereka boleh dikritik oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, termasuk oleh Firanda, sang penulis KSHD.

Buku KSHD merupakan kompilasi dari tulisan berisi sanggahan Firanda selama beberapa waktu terhadap kajian-kajian yang disampaikan Habib Munzir Almusawa, terutama terhadap yang disampaikan Habib Munzir pada bukunya Kenalilah Aqidahmu. Entah kenapa, sejak lama penulis KSHD sangat fokus menyoroti hampir setiap materi yang disampaikan Habib Munzir bin Fuad Almusawa.

Dari awal hingga akhir tulisan, KSHD memang tidak secara terang-terangan menyebut nama Habib Munzir sebagai tokoh “sang habib” yang dikritiknya. Tapi, sebelum menjadi sebuah buku, materi-materi tulisan itu telah lama dipublikasikan pada blog pribadinya dan nama Ha­bib Munzir tertera di sana. Entah pula karena alasan apa penulisan di buku dan publikasi di internet dibedakan oleh penulisnya. Yang satu nama Habib Munzir tak disebut, yang satunya lagi disebut.

Awalnya, karena melihat judulnya, banyak orang menyangka bahwa isi buku KSHD adalah semacam kritikan terhadap komunitas habaib secara umum atau pribadi Habib Munzir secara khusus. Nyatanya tidaklah demikian. Sebagian besar isinya lebih sebagai kritikan terhadap paham para ulama dan habaib, dus hujatan atas beberapa tokoh ulama dan habaib kecintaan umat.

Isi buku KSHD tak ubahnya buku-buku Wahabi lainnya yang menentang berbagai keyakinan yang dianut mayoritas umat Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Isu-isu yang diangkat pun tak jauh-jauh dari masalah kuburan, tawasul, istighatsah, dan isu-isu lama lainnya.

Habib Munzir ketika akan dimintai konfirmasi secara langsung kondisi kesehatannya masih belum memungkinkan untuk melakukan wawancara. Namun sejumlah pesan secara tak langsung disampaikan oleh salah satu orang dekatnya, H. Syukran, yang juga sekretaris Majelis Rasulullah SAW asuhan Habib Munzir Almusawa.

“Habibana (Habib Munzir-Red.) tak ingin menanggapi terlalu serius kritikan semacam itu. Beliau tampak biasa-biasa saja. Menurut Beliau, itu hanya karena kalimat-kalimatnya yang dikritik diambil secara tidak utuh, hanya sepotong-potong,”, ujar H. Syukran menjelaskan. “Kalimat-kalimat” yang dimaksud adalah kutipan rangkaian kalimat dari buku karya Habib Munzir, Kenalilah Aqidahmu.

Ditanya tentang jawaban apa yang disampaikan Habib Munzir terhadap buku kritikan terhadap dirinya, H. Syukran menyatakan bahwa, sebagaiman yang dituturkan Habib Munzir, kalau buku karya Habib Munzir kalau dibaca secara utuh maka buku itu sendirilah jawabannya.

Jadi, meski materi kritikan itu ditujukan terhadap materi isi buku Kenalilah Aqidahmu, jawabannya justru ada dalam buku Kenalilah Aqidahmu itu sendiri. “Asal dibaca secara utuh…”, kata H. Syukran.

Apalagi, ternyata kritikan yang disampaikan dalam buku tersebut isinya adalah isu lama belaka, yaitu masalah-masalah khilafiyah: dari mulai masalah tawassul, istighatsah, memuliakan peninggalan kaum sholihin, dan hal-hal klasik lainnya.

Di tengah padatnya jadwal kegiatan Majelis Rasulullah SAW, Habib Munzir Almusawa menderita penyakit yang cukup berat: radang otak, yang baru terdeteksi setahun terakhir ini. Pihak medis menduga, penyakit itu sudah bersarang tiga tahun lebih.

Namun Habib Munzir memang sosok yang tangguh dalam berdakwah. “Kalau penyakitu itu sedang kambuh, tak jarang membuatnya dalam kondisi yang sangat kritis. Tak jarang, meski harus dengan kursi roda, beliau tetap menyempatkan diri untuk hadir di majelis yang diasuhnya di Masjid Almunawar Pancoran, Jakarta Selatan,” ujar H. Syukran lagi.

Sejak kepulangannya belajar dari Hadhramaut, Habib Munzir Almusawa memang sudah bertekad untuk terjun di tengah masyarakat untuk berdakwah secara penuh.

Jalan dakwah memang jalan yang terjal. Berbagai tantangan adalah risiko bagi mereka yang ingin menapaki jalan ini. Namun berkat kesungguhannya untuk terus menapaki jalan yang telah dilewati oleh para pendahulunya itu, jalan ini pun terasa indah.

Bentuk kritikan seperti apapun, sesungguhnya sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita di hadapan siapa pun, sekiranya sikap kita dalam menghadapi nya penuh dengan kemuliaan, sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karen sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nya-lah yang menjadi penentu itu.

Ingatlah, walaupun jin dan manusia bergabung untuk menghina, kalau Allah menghendaki kemuliaan, maka tidak akan ada yang mampu menjatuhkan seseorang ke lembah kehinaan.

Ya Allah berikanlah kesembuhan untuk Habibana!

*) dikutip oleh SARKUB.COM dari Majalah Alkisah No. 12/2012

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

13 Responses

  1. Mas Derajad21/06/2012 at 17:15Reply

    Saya sudah membaca tulisan Habibana Mundzir Fuad Al Musawwa yang berjudul Kenalilah Aqidahmu lebih dari 2 tahun yang lalu.

    Isinya berkaitan dengan amal shalih para pengikut Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Pada terbitan pertama sampulnya bukan bergambar beliau. Dan yang jelas saya tahu beliau menggratiskannya.

    Beliau ini adalah seorang ulama yang disegani, selain karena kealimannya yang tidak terbantahkan, beliau juga dzurriyat Rasulullah Muhammad S.A.W. yang sangat gigih perjuangannya dalam dakwah Islam di Nusantara. Biografi beliau selalu beliau tulis dalam perjalanannya ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di pedalaman Papua, untuk menjadi contoh ulama lain dalam membawa da’wah Islam yang santun dan mengikut junjungan kita Rasulullah Muhammad S.A.W. Yang menjadikan beliau juga terangkat derajadnya adalah Guru beliau Habib Umar Bin Hafidz yang merupakan Ulama besar yang mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama besar seperti Sayyid Muhammad Bin Alwi Al Maliki yang merupakan guru dari beberapa ulama Nusantara. Selain itu Habib Umar bin Hafidz sangat diterima oleh semua kalangan, bahkan saudara saya yang juga Kyai di Kali Setail Banyuwangi yang jauh dari pergaulan International saja sangat menghormati beliau.

    Apa yang coba ditulis oleh Firanda dan kawan-kawannya, menurut saya sangat tidak berimbang. Bahkan dia hanya akan mendompleng ketenaran Habib Mundzir Fuad Al Musawwa. Habib Mundzir mempunyai silsilah keilmuan / sanad yang jelas/terang dan memang memiliki kedalaman ilmu fiqh yang sangat dalam. Sementara Firanda itu, mohon maaf saja, kita tidak mengetahui sanad keilmuannya. Kelompok mereka itu hanya bisa dan mengerti bahasa Arab, termasuk nahwu dan sharaf. Tapi keilmuan mereka, mohon maaf, tidak barokah, karena tidak memiliki sanad. Qur’an dan hadits mereka pahami berdasarkan logika saja dan tidak merujuk pada ijma’ ulama yang sudah terang. Dia hanya mempercayai tafsiran dari ulama mereka, semacam Syaikh Abdullah Bin Bazz, Albani, Utsaimin dan lain-lain yang memang sudah lama mempersiapkan kitab-kitab untuk menyerang pengikut Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Tidak kurang kitab Aswaja sendiri juga banyak yang mereka pelintir, bahkan kalau perlu dirubah dan ditafsiri semaunya sendiri tanpa memperhatikan ijma’.

    Oleh karena itu kita tidak perlu menanggapi terlalu berlebihan, karena memang mereka berusaha merusak tatanan yang sudah ada, seperti juga muncul Firanda-firanda yang lain macam Mantan Kyai NU dan lain-lain. Kacaunya lagi ucapan mereka banyak di copas orang-orang mereka juga. Jika terlalu berlebihan akan besar dan lebih merasa paling benar mereka nantinya.

    Terpenting adalah mari kita semua mendekat ke ulama-ulama yang jelas jalur sanadnya, dan mengikuti mazhab yang empat. Bagi yang sanggup untuk mengajukan hujjah yang jelas mari sampaikan ilmu dan pemahaman kita kepada saudara-saudara kita dengan mengikut para ulama yang sangat kita cintai, para Kyai, Habaib, Guru dan semua ulama Aswaja yang jelas keilmuannya.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah

    Hamba Allah yang dhaif dan faqir

    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  2. dedi juniar21/06/2012 at 17:31Reply

    Emang bnr,ĞӚӃ perlu di tanggapi si firanda jahil…. Yg mrk(firanda)kerjakan tdk lbh dari sprti gangguan kafir quraisy yg menghalang-halangi da’wah Baginda Rasulullah saw…. Smoga Habibana Munzir al muasawa di beri kesembuhan ϑαn kesehatan oleh اَللّهُ swt….
    آمِيّنْ… آمِيّنْ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ …….

  3. rifky21/06/2012 at 19:34Reply

    ya Alloh berikan kesembuhan kepada hambamu yg sholih, berikan karomah dan barokahnya kepada kami. Amiin.

    • doktertoeloes malang22/06/2012 at 10:28Reply

      menyerang pribadi habaib adalah tindakan picik dan amat

      sangat memalukan . ” anjing menggonggong kafilah tetap

      berlalu ” – Firanda dan kawan2 laknatulloh .

  4. doktertoeloes malang22/06/2012 at 10:44Reply

    semoga insyaALLAH Habibana Munzir al muasawa mendapatkan

    kesembuhan dari radang otak yang dideritanya dan selalu

    sehat wal afiat dalam lindunganya membimbing para jama’-

    ah seperti biasanya ……amien yaa robbal alamien.

  5. Ahmad Machmudi29/06/2012 at 13:40Reply

    Itu Bukan Mau Mengkritik Tapi Numpang Tenar,

  6. Ajisaka01/07/2012 at 22:48Reply

    paling ujung
    2nya di biayai saudi, atau untuk mendapatkan simpati dan dana dari saudi.

  7. arif widjanarka30/08/2012 at 07:17Reply

    ya Alloh ya rahman berikan kesembuhan kepada hambamu yg sholih, berikan karomah dan barokahnya kepada kami.

    Firanda dkk …laknatulloh

  8. tukangkopas17/10/2012 at 09:51Reply

    firanda itu salafi sururi dan hisbiyun..[berkelompok2 mata duitan]tidak manfaat bermajlis pada firanda cs

  9. tanman30/10/2012 at 18:59Reply

    aamiiin

  10. ahlussunnah04/11/2012 at 23:10Reply

    masyaallah…berilmu dulu baru berkomentar,jangan hanya taqlid buta..keturunan rasulullah kok nyasar ke indonesia,ada-ada saja..malah ngata-ngatai,ulama hadist seperti albany dan bin bazz,yang lebih paham bahasa arab sejak lahir..yang jadi pengikut juga harus belajar dan kritis dong,buka mata buka telinga buka hati..jangan dittutp untuk ilmu yang lebih shahih..malu dong cuman ngikut doang tapi kalu ditanya gak bisa jawab apa2..

  11. abe hd03/04/2013 at 16:20Reply

    ORANG INDO AJA YG G BISA NYARING WAHABI N SALAFI EMANG GITU KERJAANNYA…….NIC CONTOH ULAMA DIA DI SAUDI KOK MO NYALAHKAN HABIBANA……http://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.merdeka.com%2Fdunia%2Fulama-saudi-sebut-perempuan-boleh-tidak-pakai-jilbab.html#

  12. unyil17/09/2013 at 08:46Reply

    Sudah-sudah, gak baik berdebat kusir. Habib barusan meninggal, inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Hanya Allah yang Maha Benar, wallahu a’lam, Allah-lah yang lebih tahu. Ia mengetahui isi hati kita semua.

    Habib munzir wafat, tapi Allah tetap hidup. Rasulullah wafat, tetapi Allah Maha Hidup, kekal. ucapan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a saat wafatnya rasulullah saw, “Bila anda menyembah Rasulullah, sesungguhnya ia telah wafat. Jika anda menyembah Allah, sesungguhnya Allah tetap hidup”. Sembahlah Allah semata.. gak usah debat, mengeraskan dan membutakan hati

Leave a Reply