Kesederhanaan, Keteladanan Yang Diajarkan Baginda Nabi SAW

Sarkub Share:
Share

Keteladanan Baginda Nabi SAW yang Sulit Diikuti Oleh Para Pejabat & Elit Politik 

Sebelum ada yang berkomentar bahwa “Jangan samakan Pejabat negara atau politisi dengan nabi, karena manusia biasa tidak mungkin bisa seperti nabi”, maka disini perlu dijelaskan bahwa, Salah satu alasan kenapa Tuhan menurunkan Nabi dan Rasul dalam sosok seorang Manusia adalah supaya Manusia bisa mengikuti sifat baiknya.

Hal tersebut karena jika Tuhan menurunkan Nabi dan Rasul dalam sosok Malaikat, tentunya manusia tidak bisa mengikutinya.

Perlu dicatat juga bahwa, ketika ada orang memiliki sifat baik yang sama seperti Nabi dan Rasul, bukan berarti secara otomatis orang tersebut dianggap sama dengan Nabi dan Rasul.

Jika kita membaca sejarah Nabi Muhammad S.A.W, salah satu teladan yang seharusnya diikuti oleh para pejabat dan penguasa serta politisi kita yaitu kesederhanaan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW dalam catatan sejarah terbukti menjadi pedagang yang sukses kala itu. Terlebih saat Nabi Muhammad SAW menikah dengan Sayidah Khadijah, seorang pengusaha yang kaya raya, saat itu menjadikan Nabi Muhammad SAW menjadi pengusaha yang kaya raya.

Tapi coba lihat, Kekayaanya yang begitu besar hampir semuanya dibelanjakan untuk Bangsa dan Negaranya serta untuk Agama dan Umatnya. Sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri dalam tidurnya hanya menggunakan anyaman pelepah daun kurma.

Tidak hanya soal papan tidurnya, dalam memakan Nabi Muhammad SAW juga sangat sederhana.

Nabi Muhammad SAW juga berkali-kali menekankan kepada Umatnya khususnya yang menjadi pemimpin dan khalifah supaya mengutamakan rakyatnya. Jangan sampai disaat masih ada rakyat yang kelaparan tapi pemimpinya justru hidup bergelimang harta.

Semua itu sangat ditekankan karena seorang pemimpin, di akherat nanti pastinya akan dimintai pertanggungjawabanya selama menjadi pemimpin.

Apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW tersebut juga diikuti oleh keempat Sahabat terbaik beliau yang selalu hidup sederhana. Mereka itu adalah Abu Bakar RA, Umar bin Khattab RA, Usman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib KWH.

Keempat penerus Khalifah tersebut mewarisi gaya hidup kesederhanaan Nabi Muhammad SAW. Bukan karena mereka miskin, para khalifah tersebut juga terkenal sebagai pengusaha  yang sukses tapi mereka tetap hidup sederhana.

Hal tersebut tentunya sangat berbeda sekali dengan pemimpin-pemimpin di negeri kita.

Para Pemimpin dan politikus kita lebih banyak terlalu hidup dengan bermegah-megah. Lihatlah kekayaan mereka, dimulai dari rumah yang mewah, mobil mewah, pakaian yang mewah, serta serba kemewahan yang lainya.

Gambaran tersebut menggambarkan seolah mereka sebagai pejabat lupa bahwa di negeri ini masih banyak yang menderita. Jangankan bermimpi disebut hidup layak dan berkecukupan. Di beberapa daerah masih ada yang harus mati hanya karena gizi buruk.

Hal ini tentunya membuat hati kita miris dan mengelus dada dan mempertanyakan dimana nurani mereka?

Yang lebih menjijikan lagi adalah ketika diantara mereka lebih memilih menikah lagi dengan alasan pribadinya daripada harus berfikir bagaimana kekayaan yang buat menikah tersebut sebenarnya masih dibutuhkan untuk orang-orang yang masih kelaparan dan bergizi buruk.

Padahal perlu dicatat bahwa sebagian besar kekayaan pejabat kita tentunya didapat dari keringat rakyat yang kita bayarkan melalui pajak.

Kalaupun seandainya itu kekayaan memang hak dia dan milik mereka yang sudah kita bayarkan, tapi harus diingat bahwa dalam hukum Islam, sebagian kekayaan kita adalah bukan milik kita dan hanya titipan. Dan dalam harta dan kekayaan kita ada hak-hak anak yatim dan yang lainya yang memang membutuhkanya.

Apakah TIDAK MALU, jadi pejabat negara bergaya hidup mewah dengan kekayaanya, akan tetapi di daerah masih ada rakyat dan masyarakat harus Meninggal hanya karena Gizi Buruk?

Silahkan anda mengartikan dan menganggap jika tokoh idola dan partai anda sudah hidup sederhana. Itu hak anda dan mungkin memang standard hidup anda seperti itu.

Akan tetapi bagi kita yang hanya sebagai seorang anak petani bisa merasakan dan menganggap jika kebanyakan dan rata-rata GAYA HIDUP pejabat dan elit partai di Indonesia jauh dari kata SEDERHANA.

Semoga saja dalam peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad S.A.W yang berkali-kali kita rayakan ini bisa menyadarkan pejabat kita dan elit partainya supaya mengikuti keteladanan nabi khususnya untuk bergaya hidup sederhana.

Jika pejabat dan elit partai di negara kita semuanya bisa memiliki gaya hidup yang sederhana, maka yakinlah korupsi tidak akan lagi ada di Indonesia. Karena tidak mungkin seorang yang hidup sederhana itu mempan untuk menerima suap apalagi korupsi.

Mereka yang mau menerima suap dan korupsi PASTILAH bukan dari orang yang hidup sederhana melainkan segerombolan ORANG-ORANG YANG TAMAK, RAKUS, dan TIDAK PUNYA MALU APALAGI TAKUT DENGAN DOSA..!

(Disadur dari http://aribicara.blogdetik.com)

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

One Response

  1. Arif Budimen05/02/2015 at 17:19Reply

    tergantung didikan otrunya
    ROSUL itu adalah contoh dan umatnya yang sebenernya merevisinya dan hanya hati kita yang bisa merasakanya

Leave a Reply