Islam Melawan Fitnah Hoaks

Sarkub Share:
Share

Sesungguhnya ada beberapa ayat lain yang juga memperingatkan tentang kewajiban seorang muslim dalam menyikapi berita, seperti yang terkenal adalah:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujurat 6)

Rasulullah SAW sendiri dengan tegas menyatakan bahwa seorang penuduh dengan tuduhan keliru, akan berpotensi menjadi muflisin, yaitu bangkrut di akhirat, akibat amal darinya akan dipindahkan ke orang yang salah dituduh, dan dosa dari yang salah dituduh akan dipindahkan kepada penuduh.

“Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)? Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi berkata: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia datang (dengan membawa dosa) telah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si itu; maka si ini (orang yang terzhalimi) akan diberikan (pahala) kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman), dan si ini (orang yang terzhalimi lainnya) akan diberikan kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman). Jika kebaikannya telah habis sebelum dituntaskan dosanya, maka (dosa) kesalahan mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Para Imam kaum muslim pun dalam mengajarkan adab, moral, mengajarkan sikap kehati-hatian dalam menyebarkan berita. Karena itu adalah bagian fundamental dalam pengajaran agama, yang tidak boleh dicampur aduk antara ajaran yang baik dengan berita bohong.

Misalnya Imam Syafi’i, berkata

“Sesungguhnya kebohongan yang juga dilarang adalah kebohongan tak terlihat, yakni menceritakan kabar dari orang yang tak jelas kejujurannya.” (Ar Risalah)

“Di antara jenis kebohongan adalah kebohongan yang samar. Yakni ketika seseorang menyebar informasi dari orang yang tak diketahui apakah ia bohong atau tidak.” (Iryadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad)

Maka sungguh lengkap kiranya panduan dari Qur’an, Hadits, Qaul Ulama tentang bahaya penyebaran berita bohong, sehingga perkara ini tidak bisa dianggap sepele. Sehingga ketika negara kita terkena wabah penyebaran hoax, umat Islam sudah punya panduan yang tidak terbantahkan tentang bagaimana menyikapinya.

Yaitu, lawan hoax. Karena tidak ada kehormatan menggunakan berita bohong untuk kepentingan apapun. Tidak ada kemaslahatan yang bisa dicapai dengan menyebarkan atau mendiamkan hoax. Wallahua’lam (Fahmi Ali NH/Tim Sarkub)

(Disadur dari Status  Muhammad Jawy)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply