Ingin Disayang Rasulullah SAW?

Sarkub Share:
Share

Habib Alwi mengawali dengan membaca sholawat fatih sebelum memulai tausiah.

Barangsiapa mencintai Allah SWT, maka ia akan dicintai Allah SWT, jagalah kebersihan masjid, siapkan kantong plastik, saya tidak mau ada pengajian, jamaah sembarangan membuang sampah.
Jamaah atau punggawa ahbaburrasul yang di luar agar merapikan sandal, agar jamaah yang usai ngaji bisa nyaman ketika keluar dari masjid/selesai mengaji. Jangan sampai anda datang ke masjid malah bawa dosa, menginjak nginjak sandal orang, padahal sandal yang dipakai nginjak itu berlumpur, yang punya sandal (yang sandalnya diinjak) sakit hati…jadi pulang dari masjid malah membawa dosa.

Mari mengamalkan agama Islam yang simple-simple saja prakteknya (yang mudah), seperti menjaga kebersihan, saling sayang menyayangi, saling mendoakan satu sama lain, mendoakan saudara kita yang sakit.
Saya sendiri punya cita cita memiliki mobil operasional yang bertugas khusus membersihkan masjid-masjid dimanapun (berkeliling) secara gratis. saya ingin bentuk team untuk melaksanakan seperti itu, nanti teamnya kita bayar…..

Semoga diberi rizki ataupun donatur yang bisa memberikan bantuannnya untuk mewujudkan program ini…

(HIKAYAT) diceritakan bahwa Beliau syech as- syibli mendatangi majlis Abu Bakar bin Mujahid. Melihat Beliau datang, Abu Bakar bangun dari duduknya, menyambutnya dengan badan menunduk-nunduk, memeluknya, dan mencium keningnya.
Setelah kejadian itu, Abu Bakar ditanya oleh salah satu muridnya:

“Duhai Sayyidi…!! (murid ini memanggil dengan sayyidi), Engkau melakukan yang demikian kepada Abu Bakar Dalf bin Jahdar as- Syibli..??
Padahal, engkau dan semua penduduk Baghdad menganggapnya sinting..?”

Abu Bakar bin Mujahid menjawab:
“Apa yang aku lakukan kepadanya adalah karena mencontoh yang dilakukan Rasulullah kepadanya……
Aku pernah bermimpi melihat Dia datang kepada Rasulullah Saw….
Lalu Rasulullah bangun dari duduknya dan mencium kening dia.
Lalu dengan heran aku bertanya kepada Rasulullah:

“Duhai Rasulullah…! engkau berbuat demikian kepada Abu Bakar Dalf bin Jahdar as- Syibli..??’’.
Rasululullah menjawab:

“Ya begitulah….Itu karena orang ini (Syibli) sehabis shalat senantiasa membaca ayat:

”LAQODJA A KUM ROSUULUN MIN ANFUSIKUM ‘AZIIZUN ALAIHI MAA ‘ANITTUM HARISHUN ‘ALAIKUM BIL MU’MINIINA RO’UUFUR ROHIIM (128) FAA IN TAWALLAU FAQUL HASBIYALLAHU LAA ILAHA ILLA HUWA, ‘ALAIHI TAWAKKALTU, WA HUWA ROBBUL ‘ARSYIL ‘ADHIIM

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu…
Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu..
Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
(at-Taubah: 128).
Lalu ia melanjutkannya dengan membaca shalawat kepadaku sebanyak 3 kali’

Maka siapa saja yang ingin didatangi Rasulullah SAW. dalam mimpi, maka bisa meniru apa yang dilakukan oleh syech Abu Bakar Dalf bin Jahdar as- Syibli dalam bacaan usai sholatnya.

Mengenai murid memanggil sayyid, maka tidak mengapa memanggil orang yang dihormati dengan sayyid, karena ini bukan mengkultuskan, namun sekedar penghormatan.

Kadang memang aneh wahabiyun, sering menggunakan hadist palsu.
Ada sementara orang terkelabui oleh pengarang hadits palsu yang berbunyi:

“Laa tusayyiduunii fis-shalah” artinya “Jangan menyebutku (Nabi Muhammad saw.) sayyid di dalam sholat”.

Tampaknya pengarang hadits palsu yang mengatasnamakan Rasulullah saw. untuk mempertahankan pendiriannya itu lupa atau memang tidak mengerti bahwa di dalam bahasa Arab tidak pernah terdapat kata kerja tusayyidu. Tidak ada kemungkinan sama sekali Rasulullah SAW mengucapkan kata-kata dengan bahasa Arab gadungan seperti yang dilukiskan oleh pengarang hadits palsu tersebut.

Dilihat dari segi bahasanya saja, hadits itu tampak jelas kepalsuannya. Namun untuk lebih kuat membuktikan kepalsuan hadits tersebut baiklah kami kemukakan beberapa pendapat yang dinyatakan oleh para ulama.

Dalam kitab Al-Hawi , atas pertanyaan mengenai hadits tersebut Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjawab tegas : “Tidak pernah ada (hadits tersebut), itu bathil !”.

Perlu kita ketahui, Dalam surat Aali-‘Imran:39 Allah SWT. menyebut Nabi Yahya as. dengan predikat sayyid :
“…Allah memberi kabar gembira kepadamu (Hai Zakariya) akan kelahiran seorang puteramu, Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang dari) Allah, seorang sayyid (terkemuka, panutan), (sanggup) menahan diri (dari hawa nafsu) dan Nabi dari keturunan orang-orang sholeh”.
Lihatlah…Nabi Yahya digelari sayyid…lalu nabi Muhammad SAW, pasti lebih pantas dipanggil sayyid,

Bahkan seorang sahabat, dipangil sayyiid oleh Rasulullah sebagaimana dikatakan dalam hadist,
Ketika Sa’ad bin Mu’adz ra. diangkat oleh Rasulullah SAW sebagai penguasa kaum Yahudi Bani Quraidah (setelah mereka tunduk kepada kekuasaan kaum muslimin), Rasulullah SAW mengutus seorang memanggil Sa’ad supaya datang menghadap beliau. Sa’ad datang berkendaraan keledai, saat itu Rasulullah saw. berkata kepada orang-orang yang hadir:

“Guumuu ilaa sayyidikum au ilaa khoirikum” artinya : “Berdirilah menghormati sayyid (pemimpin) kalian, atau orang terbaik.⁠⁠[16:34, 4/2]

Sumber : Cuplikan tausiah habib seif alwi ba’aalaawiy, di Masjid raudhotul jannah, Perumaham Graha Cikarang 23 April 2016.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply