Indikasi Butanya Mata Hati

Sarkub Share:
Share

Kali ini kajian Al-Hikam oleh Yai Muhammad Syafii tadi pagi ba’da Subuh di Pondok Pesantren Lampung…
Allhommar zuqna ‘ilman nafi’

Ibtigho’an li-mardlotillahi wa rahmatihi Al-Faatihah …..

“اجتهادك فى ما ضمن لك و تقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك “
“Ijtihaaduka fii maa dlumina laka, wa taqshiiruka fii maa thuliba minka, daliilun ‘alanthimasil bashiirati minka ”
(Keseriusan njenengan dalam urusan (rezeki) yang telah dijamin Gusti Allah, sementara njnengan teledor atas urusan (ibadah) yang dituntut Gusti Alloh merupakan indikasi atas butanya mata hati njnengan).

Syaikh Ibn ‘Athoillah dalam hikmah ke 5 ini menyoroti tanda-tanda orang yang terindikasi mata hati-nya telah buta.
hal ini dimaksudkan agar kita mampu menghindari hal tersebut.

Ciri pertama, terlalu seriusnya seseorang dalam masalah rizqi yang telah dijamin Gusti Alloh, sehingga hidupnya hanya dicurahkan untuk mencari harta, pangkat serta kepntingan dunia yang lain.. padahal dalam ayat 60 surat al-‘Ankabut, Gusti Allah SWT jelas menjamin rizqi seluruh makhluq.

Ciri Kedua, teledor dalam urusan ibadah yang telah menjadi tugas hidup manusia sebagai hamba.
ciri ini merupakan kelanjutan dari ciri yang pertama. Karena orang tersebut segala perhatian dan waktunya sudah habis untuk mengurusi harta, pangkat dan kepentingan duniawi lainnya, akhirnya menjadikan orang tersebut tidak ada perhatian untuk beribadah kepada Allah, padahal ibadah inilah yang dituntut Gusti Allah.

Dari hikmah ini juga semakin memperjelas atas hikmah sebelumnya yang mendudukkan qodlo’ dan qodar Gusti Alloh sebagai kunci untuk mengenal-Nya. Bahwa rizqi merupakan bagian yang tak bisa dilepaskan dengan qodlo’ dan qodarnya Gusti Allah,, Karenanya, semestinya urusan rizqi tidaklah perlu dipikirkan secara serius mengalahkan urusan ibadah.
Rizqi itu urusan Gusti Alloh, manusia hanyalah berusaha dan berikhtiar. Jika seseorang bisa menanamkan dalam hatinya sikap seperti ini, kelak akan tumbuh sifat syukur, sabar, qona’ah, tawakkal dan tentu ridlo atas keputusan Alloh SWT.
Sifat-sifat inilah yang dimiliki para Nabi dan Rasul serta waiyulloh yang harus kita teladani.

Demikian kontributor Sarkub, Ari Munawar Lampung melaporkan

Sumber : KH Muhammad Syafi’i, MWC NU Kelumbayan, Tanggamus

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply