IBNU TAIMIYAH AKHIRNYA TAUBAT

Sarkub Share:
Share

Di tahun 707 hari ke-6 bulan Rabi’ul Awwal hari kamis, Ibnu Taimiyyah menyatakan taubatnya dari akidah dan ajaran sesatnya di hadapan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah dari kalangan empat madzhab, bahkan ia membuat perjanjian kepada para ulama dan hakim dengan tertulis dan tanda tangan untuk tidak kembali ke ajaran sesatnya, namun setelah itu ia pun masih sering membuat fatwa-fatwa nyeleneh dan mengkhianati surat perjanjiannya hingga akhirnya ia mondar-mandir masuk penjara dan wafat di penjara sebagaimana nanti akan diutarakan ucapan dari para ulama. Berikut ini pernyataan Ibnu taimiyyah tentang pertaubatannya:

  الحمد الله، الذي أعتقده أن في القرءان معنى قائم بذات الله وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية وهو غير مخلوق، وليس بحرف ولا صوت، وليس هو حالا في مخلوق أصلا ولا ورق ولا حبر ولا غير ذلك، والذي أعتقده في قوله: ? الرحمن على آلعرش آستوى ? [سورة طه] أنه على ما قال الجماعة الحاضرون وليس على حقيقته وظاهره، ولا أعلم كنه المراد به، بل لا يعلم ذلك إلا الله، والقول في النزول كالقول في الاستواء أقول فيه ما أقول فيه لا أعرف كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله، وليس على حقيقته وظاهره كما قال الجماعة الحاضرون، وكل ما يخالف هذا الاعتقاد فهو باطل، وكل ما في خطي أو لفظي مما يخالف ذلك فهو باطل، وكل ما في ذلك مما فيه إضلال الخلق أو نسبة ما لا يليق بالله إليه فأنا بريء منه فقد تبرأت منه وتائب إلى الله من كل ما يخالفه وكل ما كتبته وقلته في هذه الورقة فأنا مختار فى ذلك غير مكره. كتبه أحمد بن تيمية) وذلك يوم الخميس سادس شهر ربيع الآخر سنة سبع وسبعمائة

“ Segala puji bagi Allah yang aku yakini bahwa di dalam Al-Quran memiliki makna yang berdiri dengan Dzat Allah Swt yaitu sifat dari sifat-sifat Dzat Allah Swt yang maha dahulu lagi maha azali dan al-Quran bukanlah makhluq, bukan berupa huruf dan suara, bukan suatu keadaan bagi makhluk sama sekali dan juga bukan berupa kertas dan tinta dan bukan yang lainnya. Dan aku meyakini bahwa firman Allah Swt “ الرحمن على آلعرش آستوى adalah apa yang telah dikatakan oleh para jama’ah (ulama) yang hadir ini dan bukanlah istawa itu secara hakekat dan dhohirnya, dan aku pun tidak mengetahui arti dan maksud yang sesungguhnya kecuali Allah Swt, bukan istawa secara hakekat dan dhohir seperti yang dinyatakan oleh jama’ah yang hadir ini. Semua yang bertentangan dengan akidah ini adalah batil. Dan semua apa yang ada dalam tulisanku dan ucapanku yang bertentangan dari semua itu adalah batil. Semua apa yang telah aku tulis dan ucapkan sebelumnya adalah suatu penyesatan kepada umat atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah Swt, maka aku berlepas diri dan menjauhkan diri dari semua itu. Aku bertaubat kepada Allah dari ajaran yang menyalahi-Nya. Dan semua yang aku dan aku ucapkan di kertas ini maka aku dengan suka rela tanpa adanya paksaan “ Telah menulisnya : (Ahmad Ibnu Taimiyyah) Kamis, 6-Rabiul Awwal-707 H.

Di atas surat pernyaan itu telah ditanda tangani di bagian atasnya oleh Ketua hakim, Badruddin bin jama’ah. Pernyataan ini telah disaksikan, diakui dan ditanda tangani oleh : – Muhammad bin Ibrahim Asy-Syafi’i, beliau menyatakan : اعترف عندي بكل ما كتبه بخطه في التاريخ المذكور (Aku mengakui segala apa yang telah dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah ditanggal tersebut) – Abdul Ghoni bin Muhammad Al-Hanbali : اعترف بكل ما كتب بخطه (Aku mengakui apa yang telah dinyatakannya) – Ahmad bin Rif’ah – Abdul Aziz An-Namrowi : أقر بذلك (Aku mengakuinya) – Ali bin Miuhammad bin Khoththob Al-Baji Asy-Syafi’I : أقر بذلك كله بتاريخه (Aku mengakui itu dengan tanggalnya) – Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Husaini : جرى ذلك بحضوري في تاريخه (Ini terjadi di hadapanku dengan tanggalnya) – Abdullah bin jama’ah (Aku mengakuinya) – Muhammad bin Utsman Al-Barbajubi : أقز بذلك وكتبه بحضوري (Aku mengakuinya dan menulisnya dihadapanku).

Mereka semua adalah para ulama besar di masa itu salah satunya adalah syaikh Ibnu Rif’ah yang telah mengarang kitab Al-Matlabu Al-‘Aali “ syarah dari kitab Al-Wasith imam Ghozali sebanyak 40 jilid.

(Oleh: Ust. Abu Van West Java Al-buntety)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

11 Responses

  1. Drs.H.Fathur Rohman Muddassir,MH.01/05/2012 at 14:38Reply

    Semoga ajaran yang ditaubati oleh beliau tidak berkembang di masyarakat ila yaumul qiyamah.

  2. kang SOLEH04/09/2012 at 08:53Reply

    Aslmkm.pasti ada saja ujian disetiap zaman ,Dan itu diperlukan agar kita (umat “ASWAJA”)slalu mau melihat perjalanan panjang sejarah ,sehingga bisa lebih bijak dan percaya diri dalam membawa umat.

  3. manshur11/07/2013 at 17:11Reply

    semoga kita semua dibeeri ketabahan atas iri, dengki, hasud dan kejahiliyahan saudara-saudara kita yang senantiasa mengolok2 aswaja, mari kita tumbuhkan rasa tawadlu’/rendah diri semoga hidayah untuk kita semua al faatihah….

  4. Zulkarnain ElMadury02/12/2013 at 10:10Reply

    Itu bukan tobat Ibnu Taimiyah, justru memperkuat keyakinan Ibnu Taimiyah, rupanya sarkub perlu telaah, yang ditujuh itu jamaah yang membicarakan Ibnu Taimiyah tidak pada tempatnya.

  5. Zulkarnain ElMadury02/12/2013 at 10:13Reply

    pernyataan itu memperkuat pendapat pendapat Ibnu Taimiyah dalam tulisannya, karena memang tak ada satu tulisan Ibnu Taimiyah menyatakan berbeda dengan pernyataannya tersebut

  6. Putra Andalas03/12/2013 at 00:31Reply

    http://www.sarkub.com/2013/ibnu-taimiyah-membungkam-wahabi-yang-anti-tahlilan/

  7. Udin Saja03/12/2013 at 00:57Reply

    hay.

  8. Udin Saja03/12/2013 at 00:59Reply

    permintaan pertemanan terkirim

  9. Udin Saja03/12/2013 at 00:59Reply

    haey.

  10. Surya Tanjung09/07/2014 at 13:17Reply

    pernyataan itu bukan tobat Ibnu Taimiyah, justru memperkuat keyakinan Ibnu Taimiyah,rupanya sarkub perlu telaah karna diawal mengaakan "fil Qur'an" sehingga maksudnya isi alqur'an itu, , yang ditujuh itu jamaah yang membicarakan Ibnu Taimiyah tidak pada tempatnya

  11. Gadis Kluang21/04/2016 at 00:30Reply

    http://ibnu-alkatibiy.blogspot.my/2011/12/kisah-taubatnya-ibnu-taimiyah-di-tangan.html

Leave a Reply