Hadist Tentang Hak-hak Suami

Sarkub Share:
Share

الَا يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ ، وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا) رواه الإمام أحمد في ” المسند ” (20/65)، والنسائي في ” السنن الكبرى ” (5/363)،

Dari Anas, berkata, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak patut seseorang sujud kepada orang lain. Sekiranya seseorang patut sujud kepada orang lain, tentu aku akan perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya, karena begitu besar haknya kepada istrinya itu.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Dan Aisyah ra berkata, Aku bertanya kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah yang paling besar haknya kepada seorang wanita?’

Sabdanya, “Suaminya.”

Aku bertanya pula: `Siapakah yg paling besar haknya kepada seorang laki-laki?’

Sabda beliau, “Ibunya.” (HR. Nasa’i)

Dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Jangan seorang istri menyakiti suaminya di dunia ini. Karena bidadari dari surga berkata kepadanya:

‘Janganlah engkau sakiti dia. Semoga Allah membinasakanmu. Sebab dia (suamimu) hanya sebentar di sisimu. Ia segera akan berpisah dari dirimu untuk pergi kepada kami’ (HR. Tirmidzi)

Al-Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya:

أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Apakah engkau sudah bersuami?”

Bibi Al-Hushain menjawab: “Sudah.”

“Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?” tanya Rosululloh lagi.

Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”

Rosululloh bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad)

Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لـِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.”

Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab: “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka pada suatu masa, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata:

‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:

Bagaimana yang dikatakan “menyakiti” hati suami itu? Apakah kalau suami berkata atau berbuat salah, lalu ditegur istrinya, tetapi tidak berkenan di hatinya, maka hal itu disebut “menyakiti” hati suami?

Bagaimana konkretnya perbuatan yang disebut menyakiti hati suami itu?

Istri dikatakan menyakiti hati suami, bila sikap atau perbuatannya dapat dinilai merendahkan martabat suaminya. Wallohu a’lam

 Semoga bermanfaat. Aamiin

Sumber : Dr KH Asimun Mas’ud, MKub,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply