Derajat Hadits Landasan Menghancurkan Makam

Sarkub Share:
Share

Penjaga Makam WaliJika kita mencoba terus meneliti lebih jauh, maka akan semakin nyata kedunguan & kebodohan kaum Wahabi-Salafy. 

Sekarang kita coba lagi membongkar kedunguan mereka yang lain, yaitu dalam meneliti hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ibn al-Qayyim di dalam kitabnya Zad al-ma’ad fi huda khayr al-Ibad berkata,

“Wajib hukumnya untuk MENGHANCURKAN bangunan yang dibuat di atas kuburan dan setelah diperoleh kekuasaan untuk menghancurkannya, tidak diizinkan membiarkannya walau hanya satu hari.” (Ibn al-Qayyim, Zad al-ma’ad fi huda khayr al-‘ibad, hlm. 661).

"Camkan fatwa para pemuka Wahabi-Salafi ini dan perhatikan hadits-hadits yang mendasari fatwa-fatwa mereka."

HADITS ABUL HAYYAJ

Salah satu andalan dan senjata yang digunakan para pemuka kaum Wahabi di dalam fatwa-fatwanya untuk membongkar dan meratakan kuburan para Nabi dan orang-orang shalih adalah hadits Shahih Muslim, yang diriwayatkannya dari 3 orang yaitu : Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abi Syayba dan Zuhayr bin Harb. yaitu yang diriwayatkan dari 3 orang bernama Yahya, Abu Bakar dan Zuhair, bahwa Waki’ meriwayatkan dari Sufyan dari Habib dari Abi Wail dari Abu Hayyaj dari Ali yang berkata kepadanya:

“Aku menyeru engkau kepada sesuatu perbuatan yang Rasulullah telah menyeru aku dengannya. Jangan melihat patung kecuali hendaknya engkau memusnahkannya dan kuburan yang menonjol kecuali hendaknya engkau meratakan.”
Sekte Wahabi-Salafy telah menggunakan hadits ini sebagai dalil tanpa memerhatikan sanad dan makna yang ditunjukkan hadits.

Setiap kali kita ingin mengetahui dasar pemikirannya atau membuktikan kebenaran haditsnya, maka hadits itu harus memenuhi 2 syarat:

1. Referensi (sanad) harus benar. Para perawi di setiap tingkatan harus orang-orang yang dapat dipercaya perkataannya.

2. Instruksi harus jelas maksudnya. Kata-kata dan kalimat hadits harus jelas menunjukkan makna dari yang kita maksud sehingga jika kita berikan hadits yang sama kepada orang paham ilmu dengan tata bahasa baik, maka orang itu akan dapat memahaminya sama baiknya seperti yang kita pahami. Hadits ini sayang sekali tidak memenuhi kedua syarat di atas khususnya pada syarat yang kedua karena sama sekali tidak ada kaitan dengan maksudnya.

Dari sudut pandang syarat yang pertama yaitu sanad, para ulama hadits tidak mempercayai para perawi seperti :
(1) Waki’
(2) Sufyan al-Tsauri
(3) Habib bin Abi Tsabit
(4) Abi Wail Asadi.

Seorang ulama ahli hadits al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengecam keempat orang di atas di dalam bukunya Tandzib at-Tandzib dengan panjang lebar sehingga orang menjadi bimbang kepada mereka dan hadits yang disebutkan di atas sama sekali tidak mempunyai kepastian tentang keasliannya begitu juga dengan hadits-hadits lain yang mereka (keempat orang ini) riwayatkan.

Ibnu Hajar Asqalani meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal mengenai Waki : “Dia telah melakukan kesalahan dalam 500 hadits.” (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tahdhib al-tahdhib, Jil. 11, hlm. 125).

Ibnu Hajar Asqalani juga meriwayatkan dari Muhammad bin Nasr Marwazi tentang Waki’ : “Dia sudah terbiasa meriwayatkan hadits sesuai dengan maknanya (lalu dia menyusun sendiri hubungan kata-kata hadits) padahal dia tidak fasih berbahasa Arab. (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tahdhib al-tahdhib, Jil. 11, hlm. 130).

Mengenai Sufyan al-Tsauri, Ibn Hajar al-Asqalani meriwayatkan, “Sufyan sedang meriwayatkan suatu hadits ketika saya tiba-tiba datang dan memperhatikan dia sedang berbohong membacakan hadits. Ketika dia melihat saya dia merasa malu.” (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tahdhib al-tahdhib, Jil. 4, hlm. 115).

Berbohong di dalam meriwayatkan hadits apapun jelas memperlihatkan bahwa periwayat tersebut tidak adil, tidak jujur, dan tidak mengungkapkan makna yang sebenarnya dan dia telah menyampaikan hal yang sebenarnya tidak benar.

Di dalam Tarjamah Yahya al-Qattan, Ibnu Hajar Asqalani meriwayatkan darinya bahwa Sufyan mencoba memperkenalkan kepada saya seorang yang tidak layak (tidak tsiqah) untuk dijadikan layak (tsiqah) tetapi akhirnya dia tidak berhasil. (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tahdhib al-tahdhib, Jil. 11, hlm. 218).

Mengenai Habib bin Abi Tsabit, Ibnu Hajar Asqalani meriwayatkan dari Ibn Hibban : “Dia sedang berbohong membacakan hadits (kâna mudallisan).”

Tentang Habib bin Abi Tsabit, Ibnu Hajar juga meriwayatkan dari Qattan : “Hadisnya tidak dapat diikuti karena hadisnya tidak terpecaya.” (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Tahdhib al-tahdhib, Jil. 2, hlm. 179.)

Mengenai Abi Wail, dia berkata, “Dia termasuk nawasib (pembenci Ahlul Bayt) dan termasuk orang-orang yang berpaling dari (jalur) Ali ra.” (Ibn Abi al-Hadid al-Mu’tazili, Syarah Nahjul Balaghah, Jil. 9, hlm. 99)

Perlu diketahui bahwa dalam seluruh buku sahih yang enam, hanya ada satu hadits yang diriwayatkan dari Abul Hayyaj yang kualitas haditsnya sama seperti yang telah dibahas di atas.

Jadi, walaupun hadits diatas diriwayatkan oleh Muslim, sangat tidak tertutup kemungkinan hadits tersebut memiliki kualitas sanad yang lemah (dha’if) sebagaimana yang kita tahu seperti sebuah hadits yang juga diriwayatkan Muslim tentang Nabi Sulaiman as yang bersenggama dengan 100 perempuan dalam semalam. Tentu saja orang yang memiliki akal sehat tidak akan menerima hadits-hadits semacam itu.

Wallohu a'lam bis-Showab

Sumber : Dr Ibnu Mas'ud, Mkub, Asisten Eksekutor Bedah at Specialist Bedah Salafi Wahabi

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

One Response

  1. Ahmad Sobirin11/01/2015 at 04:41Reply

    YO NGONO KUWI PINTERE YAHUDI@BISANE MUNG NGEDU ISLAM KARO ISLAM #SEMAKIN GAK RUKUN SEMAKIN MENANG MEREKA #TARUNG YO RA WANI #NGILANGNO SEJARAH SALAH SATU DALANE #GOBLOKE WNG ISLAM GELEM DI ADU PODO ISLAME #SENENG HUJAT PODO ISLAME #SIK GAK GELEM RUKUN #LALI HADITS-E

Leave a Reply