5:20 am - Thursday September 25, 2014

Bentengi Diri Dari Ajaran Radikalisme

Berikut adalah penuturan kisah nyata oleh Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Solo:

Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA yang saya ketahui tentang Islam di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah. Meskipun banyak juga kelompok-kelompok Islam lain yang saya sebatas tahu tapi karena kondisi mereka yang tidak sebesar NU dan Muhammadiyah sehingga dari pemahaman saya pribadi terhadap mereka juga kurang mendalam.

Kemudian ketika mulai muncul isu terorisme di Indonesia saya mulai tahu bahwa banyak di luar sana umat Islam yang berpandangan sangat keras ketika menyikapi permasalahan yang terjadi di zaman sekarang ini. Terutama jika permasalahan tersebut berkaitan dengan dunia barat (AS dan sekutu), neo-liberalisme, dan Yahudi. Dari situ kemudian juga berdampak kepada permasalahan antarumat bergama.

Setelah hampir 3 tahun saya hidup di Solo untuk menempuh pendidikan tinggi di sana, saya mulai mengerti bagaimana kondisi real tentang gencarnya doktrinasi Radikalisme Islam dari mulai grassroot hingga tingkatan paling atas. Saya paham betul khususnya di kampus (negeri) bagaimana doktrik-doktrin radikal tersebut dimasukkan ke otak para mahasiswa lewat berbagai kegiatan keagamaan.

Yang terjadi apa? Kampus diindikasikan sebagai wadah pencetak teroris. Pada tahun 2010-2011 tercatat beberapa PTN di Indonesia mahasiswanya terbukti berhubungan dengan berbagai kelompok pembaharu yang mengatas namakan Islam akan tetapi dengan ideologinya mereka menginginkan untuk membentuk sebuah Negara Islam Indonesia (NII) dengan cara-cara yang sama sekali tidak pernah diajarkan dalam agama Islam.

Dari hal tersebut kemudian bisa dirasakan bahwa dampak yang muncul yakni anti-pati, larangan, dan kecaman oleh para orang tua mahasiswa—khususnya mahasiswa baru—terhadap segala organisasi kegamaan di kampus. Mereka khawatir jika anak-anaknya terjerumus ke dalam radikalisme agama.

Saya dengan pandangan ke-Indonesia-an mencoba menelusur lebih dalam tentang tanah air, bagaimana di Indonesia itu dikenal sangat berbudaya, apapun yang ada di Indonesia adalah produk budaya, bahkan masuknya Islam di nusantara juga tidak lepas dari nilai-nilai luhur budaya nusantara itu sendiri. Itulah mengapa saya pribadi beranggapan bahwa pentingnya menjaga tradisi dan budaya dan melawan segala bentuk radikalisme agama yang akan menganggap segala tradisi dan budaya itu adalah hal yang menyesatkan.

Di Kota Bengawan ini saya belajar mengenal kondisi lingkungan dan masyarakatnya. Rutin seminggu sekali di Solo digelar JAMURO (Jamaah Muji Rosul) yang tempatnya berpindah-pindah. Di Solo dan sekitarnya Jamuro menjadi semacam “perlawanan budaya” terhadap menjamurnya gerakan Islam radikal yang mengibarkan semangat anti aqidah dan amaliah warga Nahdliyyin—karena saya orang NU—dan juga menggerogoti budaya-budaya leluhur Jawa dengan dalil penyesatannya.

Solo memang daerah di mana berbagai macam kelompok Islam berkembang dengan suburnya. Selain menjadi basis Muhammadiyah, di daerah ini juga ada Pesantren Al-Mukmin Ngruki pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Ada juga Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) pimpinan Ahmad Sukino.

Sebagai bagian dari masyarakat asli Indonesia dan juga bagian dari NU yang memang anti-radikalisme saya sangat prihatin ketika ancaman oleh radikalisme Islam itu semakin gencar dilakukan. Khususnya ini menjadi ancaman bagi 4 pilar kehidupan kebangsaan Indonesia, yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

KH Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU pernah menyampaikan bahwa gerakan-gerakan Islam radikal itu merupakan ancaman bagi kita semua. Dan Indonesia yang multikultur akan terus eksis jika NU sebagai payung kebhinnekaan bangsa tetap berdiri kokoh menjadi kekuatan sosial keagamaan dan kebudayaan.

Ini jelas hal yang butuh diperhatikan secara lebih untuk kemudian disikapi dengan tindakan yang sesuai norma-norma yang ada. radikalisme Islam bisa dikatakan sebagai salah satu musuh bangsa yang harus dilawan dan jangan dibiarkan berkembang dengan leluasa. Karena mereka jelas tidak mau menghargai kearifan lokal yang ada di Indonesia ini. Yang padahal nilai-nilai budaya dan kearifan lokal itu lah yang membuat nusantara menjadi bangsa yang disegani.

Segala upaya-upaya untuk menangkal radikalisme harus dilakukan, pemerintah selaku penyelenggara negara harus berperan aktif dalam hal ini. Membentengi diri dengan ilmu agama yang tidak asal-asalan harus juga diperhatikan, jangan asal mau menangkap ajaran-ajaran yang tidak jelas asal-usulnya.

Ahmad Rodif Hafidz
Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Solo

NU Online

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: Akhlak

No comments yet.

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


− 1 = 3