11:06 pm - Tuesday December 9, 2014

Meresahkan, Buku Panduan “Kegiatan Bulan Ramadhan” Siswa MI Sragen Ditarik

 Pada poin H No 8, tepatnya di halaman 13, terdapat tulisan yang kurang lebih menyatakan hadis tentang Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditutup witir tiga rakaat bersumber dari hadis daif atau lemah.

Keberadaan buku panduan Kegiatan Bulan Ramadan (KBR) yang dikeluarkan Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sragen diprotes sejumlah wali murid.  Buku yang dijual seharga Rp 2.500 kepada siswa Madrasah Ibtidayah (MI) itu dinilai provokatif dan berpotensi melukai keyakinan sebagian umat Muslim.

Menurutnya, Kantor Kemenag sebagai lembaga resmi yang menerbitkan buku tersebut seharusnya selektif. Karena itu pihaknya berharap agar buku tersebut segera ditarik dan diralat dari peredaraan.

Orangtua siswa Madrasah Ibtidayah (MI) di Kabupaten Sragen dibuat resah dengan isi buku panduan Kegiatan Bulan Ramadan (KBR) 1433 Hijriah yang dibagikan kepada siswa MI di Kabupaten Sragen. Mereka khawatir isi buku itu berpotensi menyinggung keyakinan sebagian umat Islam. Buku itu kini sudah ditarik dan akan direvisi secepatnya.

Salah satu orangtua siswa MI Tanggan, Gesi, Anas, 40, menjelaskan salah satu materi di buku KBR di halaman 11 poin H menjabarkan ibadah-ibadah sunah yang dianjurkan untuk dilaksanakan selama Ramadan. Pada poin H No 8, tepatnya di halaman 13, terdapat tulisan yang kurang lebih menyatakan hadis tentang Salat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditutup witir tiga rakaat bersumber dari hadis daif atau lemah.

Anas menyayangkan tulisan itu dimuat di buku yang dibagikan kepada seluruh siswa MI di Kabupaten Sragen. Dia menilai tulisan itu tidak layak ditulis dan dibagikan kepada siswa karena ditakutkan menyinggung keyakinan sebagian umat Islam.

“Saya kaget kali pertama membaca buku milik anak saya itu. Saya bukan mempermasalahkan benar atau salah tulisan itu. Saya lebih berpikir tentang keyakinan masing-masing umat Islam. Bagaimana mungkin kalimat itu lolos begitu saja dari pantauan Kementerian Agama Sragen? Itu bisa membuat kisruh kalau tidak segera ditarik dan diralat,” kata dia saat dihubungi Solopos.com, Jumat (20/7/2012).

Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum (Kasi Mapenda) Kabupaten Sragen, Irwan Junaidi, saat dihubungi Espos menuturkan telah menerima laporan dari beberapa kepala MI di Kabupaten Sragen terkait isi buku yang dinilai bisa menyinggung sebagian umat Islam.

“Kami sudah menarik buku itu dari peredaran. Kami akan berkoordinasi dengan kepala MI di Kabupaten Sragen untuk mempercepat proses. Kami minta semua orangtua atau wali murid jangan terprovokasi soal itu. Buku akan ditarik dan direvisi. Setelah itu akan dibagikan kembali dan tidak akan dipungut biaya sepeser pun,” ungkapnya. (sumber: http://www.solopos.com)

Simak..  Sholat Tarawih,  8 rakaat atau 20 rakaat?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
image_pdfimage_print

Filed in: Fiqih, Warta

9 Responses to “Meresahkan, Buku Panduan “Kegiatan Bulan Ramadhan” Siswa MI Sragen Ditarik”

  1. 25/07/2012 at 16:54 #

    sseorang yg mempermasalahkan sholat terawih 20rekaat boleh dipastikan mereka adalah golongan2 yg kurang waras dlm beragama.

    apakah mereka dungu atau pura2 dungu Sahabat dan khalifah yg rasyid Umar bin Khotob ra sholat tarawih 20 rekaat.
    Khalifah Ustman bin Affan ra dan juga Khalifah Ali bin Abitholib ra sholat tarawih 20 rekaat.

    KH Ahmad dahlan pendiri Muhammadiya di indonesia juga sholAT tarawih 20 rekaat hanya saja sayang sekali warga muhammadiyah sekarang tdk mau mengikuti jejak pendirinya.

    ana dan mudah2an yg lainya lebih afdlol mengikuti sholat tarawih seperti Umar ra, Ustman ra dan Ali ra dari pada mengikuti penyusun buku panduan itu.

    alasan ana sederhana saja: ketiga sahabat nabi saw jelas2 dijamin masuk surga sebagaimana disabdakan oleh nabi saw, sedangkan yg menyusun buku panduan boleh jadi nyemplung neraka.

    klo mereka berkata rosulullah tarawih 8 rekaat, pilih mana rosulullah atau Umar,ustman,ali?

    jawabanya : yg menyusun buku panduan hanya belajar pd terjemahan dan makna dhohir sedangkan khulafaurrosyidin adalah para sahabat yg mendapat petunjuk sesuai sabda nabi saw.

    • Mas Soes
      26/07/2012 at 06:19 #

      Betul mas..dikit-dikit dho’if,dikit-dikit maudhu’..
      Keshohihan hanya klaim dari mereka yang usil dgn amaliyah muslimin lainnya. Boro2 mengislamkan orang kafir,lha yg muslim aja di kafirkan..
      Mudah-mudahan sodara2 kita tidak terjebak dalam paham yang menyelisihi mayoritas muslimin,yg tentunya bersumber dari Qur’an & Hadits,yg telah disampaikan oleh ulama2 sejak zaman dahulu,yang jauh dari sikap menghujat & mencela.

    • Cah nDeso
      26/07/2012 at 08:14 #

      Begitulah akibatnya jika Hadits riwayat Aisyah “dipotong ” lalu dijadikan dalil shalat tarawih dengan formasi 4,4, lalu 3. Fatal jadinya. Saya menduga, ini semua gara-gara majlis Tarjih, yang lahir 4 tahun setelah wafatnya K.H. Ahmad Dahlan. Sekarangpun (Ramadhan 1433 H.) fatwa majlis tarjih Muhammadiyah (berubah) kembali memfatwakan shalat tarawih dilakukan dengan formasi 2 rakaat salam, mungkin baru sadar, kalau secara bahasa saja keliru menamakan formasi 4,4, dan 3 dengan Tarawih.
      Jargonnya pemurnian Islam dengan kembali pada al-Quran dan al-Hadith dan anti taqlid, eh, ini malah taqlid pd fatwa majlis tarjih yang plintat plintut itu.

  2. Taufik
    28/07/2012 at 11:12 #

    Disampaikan saja semua dalil yg ada, kemudian dibuat simpulan. Jangan kebakaran jenggot.

  3. 30/07/2012 at 06:34 #

    tolong dan mohon disebarkan bahwa di maarif nu jepara entah sengaja atau tidak telah memasukkan ajaran wahaby dengan sengaja di pelajaran fikih kelas 2/8 tsanawiyah,yaitu menyebutkan bahwa sujud syukur tidak harus/wajib suci,menghadap kiblat dll,termasuk hukum mengeluarkan zakat fitrah termasuk sodaqoh biasa pdhl hal tsb merupakan hukum2 hasil propaganda wahaby dan antek2nya tidak sejalan dg kitab fikih nu ahlissunnah waljamaah

  4. 30/07/2012 at 06:39 #

    Terima kasih mas Ahmad atas informasinya…:)

  5. 03/08/2012 at 14:21 #

    1. Pemotongan hadis.

    Kawan-kawan yang sering menjadikan hadis ini sebagai dalil shalat Tarawih, biasanya tidak membacanya secara utuh, akan tetapi mengambil potongannya saja sebagaimana disebutkan di atas. Bunyi hadis ini secara sempurna adalah sebagai berikut :
    عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أخبره أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ –رضي الله عنها- : كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي رَمَضَانَ ؟ قَالَتْ : مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا ، قَالَتْ عَائِشَةُ : فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي.

    dari Abi Salamah bin Abd al-Rahman, ia pernah bertanya kepada Sayyidah A`isyah radhiyallahu `anha perihal shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. A`isyah menjawab : “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambahi, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan, dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat, dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. A`isyah kemudian berkata : “Saya berkata, wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum shalat Witir?” Beliau menjawab : “Wahai A`isyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, akan tetapi hatiku tidak tidur.”

    Pemotongan hadis boleh-boleh saja dilakukan, dengan syarat, orang yang memotong adalah orang alim dan bagian yang tidak disebutkan tidak berkaitan dengan bagian yang disebutkan. Dalam arti, pemotongan tersebut tidak boleh menimbulkan kerancuan pemahaman dan kesimpulan yang berbeda.(19) Pemotongan pada hadis di atas, berpotensi menimbulkan kesimpulan berbeda, karena jika di baca secara utuh, konteks hadis ini sangat jelas berbicara tentang shalat Witir, bukan shalat Tarawih, karena pada akhir hadis ini, A`isyah menanyakan shalat Witir kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.(20)

    2. Kesalahan dalam memahami maksud hadis.

    Dalam hadis di atas, Sayyidah A`isyah dengan tegas menyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat melebihi sebelas rakaat baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain. Shalat yang dilakukan sepanjang tahun, baik pada bulan Ramadhan maupun bulan lainnya, tentu bukanlah shalat Tarawih. Karena shalat Tarawih hanya ada pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu para ulama berpendapat bahwa hadis ini bukanlah dalil shalat Tarawih. Akan tetapi dalil shalat Witir.

  6. Sity
    23/08/2012 at 17:22 #

    trus,, rasulullah sendiri shalat tarawihnya berapa rakaat yah??,, trima kasih atas pencerahannya..

  7. sity
    23/08/2012 at 17:28 #

    mohon pencerahannya,,, rasulullah sendiri sebenarnya shalat tarawihnya berapa rakaat? terima kasih sebelumnya..

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


4 + = 13