2:08 pm - Monday August 20, 8181

Dzikir Tahlil, Dzikir Yang Paling Utama

Diantara semua dzikir, ucapan La ilaha illallah adalah dzikir yang paling utama. Bahasan kita kali ini berbicara tentang dzikir ini. Kita akan menyimak masalah tersebut termasuk cara dan adab dalam berdzikir.

Nabi SAW bersabda, “Dzikir yang pa­ling utama adalah ucapan La ilaha illalah.” (HR Al-Hakim). Yakni, karena kalimat tah­lil (ucapan La ilaha illallah) itu merupakan ucapan tauhid (penegasan terhadap ke-Esaan Allah SWT), sedangkan tauhid itu tidak dapat disamai oleh sesuatu pun. Juga karena tahlil mempunyai pengaruh dalam menyucikan bathin, karena ia menunjukkan ketiadaan Tuhan-Tuhan yang lain dengan ucapan La ilaha (tiada Tuhan) dan menetapkan kemahaesaan hanya bagi Allah Ta’ala dengan ucapan illallah (kecuali Allah). Hendaknya mengulang-ulang dzikir (tahlil) itu mulai dari lahiriah lidahnya sampai bathiniah hatinya. Demikian keterangan dari Syaikh Al-Azizi.

Nabi SAW bersabda, “Dzikir yang pa­ling baik adalah yang samar, dan ibadah yang terbaik adalah ibadah yang paling ringan.” (HR Al-Qudha’i dari Utsman bin Affan). Sesungguhnya yang paling ringan itu adalah ibadah terbaik karena mudah merutinkannya dan karena hal itu dapat menggiatkan (menyemangatkan) jiwa. Dzikir yang samar itu artinya yang disembunyikan oleh pelakunya dari orang lain. Dengan kata lain berdzikir secara perlahan sehingga tidak terdengar orang lain.

Namun di dalam hadits-hadits lain terdapat keterangan yang menunjukkan bahwa dzikir dengan suara keras itu lebih utama. Demikian yang diterangkan oleh Syaikh Al-Azizi. Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani berkata, “Para ulama, baik dari kalangan salaf maupun khalaf, telah bersepakat mengenai sunnah berdzikir kepada Allah Ta’ala se­cara berjama’ah di masjid-masjid dan tempat-tempat lainnya, tanpa ada yang mengingkari, dengan syarat aman dari riya’ dan tidak mengganggu, seperti mengganggu orang yang sedang shalat, misalnya.

Imam Al-Ghazali menyerupakan dzikir seseorang sendirian dan dzikir berja­ma’ah dengan adzan orang yang shalat sendirian dan adzan orang yang shalat berjama’ah. Karena suara-suara para muadzin shalat berjama’ah dapat memutus hawa nafsu lebih keras daripada suara orang yang adzan shalat sendirian. Begitu pun dzikir berjama’ah atas hati seseorang itu lebih banyak pengaruhnya dalam mengangkat hijab (penutup terhadap keagungan Allah) karena Allah menyerupa­kan hati dengan batu, dan telah dimaklumi bahwa batu tidak akan pecah kecuali de­ngan kekuatan sekelompok orang yang bergabung, pada hati seseorang, karena kekuatan jama’ah itu lebih dahsyat dari­pada kekuatan satu orang saja.”

Syaikh Ibrahim Al-Mathbuli berkata, “Keraskan suara-suara kalian dalam berdzikir sampai berhasil (terdengar) dzikir itu kepada kalian semuanya seperti orang- orang ahli ma’rifat.”

Kemudian pensyarah (Syaikh Nawawi Al-Bantani) mengatakan, “Para syaikh berkata: Diwajibkan bagi seorang murid ketika baru mulai membiasakan berdzikir untuk mengeraskan suaranya dalam ber­dzikir di tempat jama’ah hingga hijabnya terkuak. Kemudian apabila ia telah kukuh dalam dzikir dan merasa nyaman bersama Allah Ta’ala, bukan kepada makhluk, di saat ini tiada satu pun makhluk yang layak diperhatikan olehnya, maka ia tidak perlu mengeraskan suara.”

Syaikh Abdul Wahhab berkata, “Selayaknya mengeraskan suara itu dengan kelembutan, karena, apabila tanpa kelembutan, kerapkali lubang di bathinnya akan bertambah besar (menganga), maka dzi­kir dengan suara kerasnya itu menjadi sia-sia (tidak berpengaruh apa-apa).”

Jika tidak mendapati guru untuk membimbing, hendaklah memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala dengan lafazh “Allah’, hingga Allah Ta’ala menjadi yang disaksikan olehnya dan di saat itulah bisa terbuka hijab, sebagaimana keterangan Syaikh Sya’rani. Mengutip sejumlah ula­ma ia mengatakan, “Wajib bagi seorang syaikh memerintahkan muridnya untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan lisannya dengan kuat dan mantap.”

Apabila hal itu telah kukuh, Syaikh memerintahkan muridnya untuk menyeimbangkan dzikir antara lisan dan hatinya, seraya Syaikh berkata kepada muridnya: Tetapkan olehmu melanggengkan dzikir semacam ini, seakan-akan engkau ada di hadapan Tuhanmu, dengan hatimu selamanya. Dan jangan tinggalkan dzikir ini hingga engkau ber­hasil mendapatkan satu kondisi darinya dan anggota tubuhmu seluruhnya men­jadi berdzikir, tidak lalai dari Allah Ta’la.

Dalam berdzikir, keadaannya sedapat mungkin suci dari hadats dan kotoran, dan menghadap kiblat jika berdzikir sen­dirian. Dan jika tidak sendirian, jama’ah duduk melingkar dan mengosongkan hatinya dari segala sesuatu selain Allah, hingga tidak menuntut keduniaan, keakhiratan, ganjaran, maupun kenaikan tingkatan. la berdzikir kepada Allah semata-mata karena rasa cinta kepada-Nya. Dan hendaknya ia menutup kedua matanya, karena hal itu lebih mempercepat menerangi hati, dan hendaknya tempat ia berdzikir dalam keadaan gelap. Maka seandainya di sana terdapat pelita, hendaknya ia padamkan jika tempat itu khusus untuk pribadinya.

Di saat berdzikir, hendaknya membersihkan hati seraya menghadirkan makna yang didzikirkan, hingga seakan-akan hatinya adalah pelaku dzikirnya sedangkan ia mendengarkannya.

 

(Oleh: KH. Saifuddin Amsir)

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: Akhlak, KAJIAN ASWAJA

No comments yet.

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


1 × 6 =