2:11 pm - Friday September 23, 3155

NKRI Bukan Negara Kafir

Pak Idham Bantah Republik Indonesia Kafir

Wilayah Nusantara pasca kemerdekaan tidak kalah genting dengan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Lantaran tidak semua kelompok lantas bersatu membangun Indonesia merdeka. Ada di antara kita yang ingin memisahkan diri dari kesatuan, termasuk dari kelompok Islam.

Kelompok Islam ini melontarkan tuduhan: Republik Indonesia (itu) kafir. Kelompok Islam ini ingin membubarkan Republik Indonesia dan menggantinya dengan Darul Islam (DI) tahun 1950-an.

Kartosuwiryo memimpin DI Jawa Barat, Kahar Mudzakar di Sulawesi Selatan, Ibnu Hajar mengomandani pemberontakan di Kalimantan Selatan.

KH Dr. Idham Chalid, atau biasa dipanggil Pak Idham dibuat sibuk oleh kelompok Islam ini. Sebab, tuduhannya serius, yakni menyangkut perkara teologi. Mereka membawa-bawa dalil agama untuk menjalankan misinya. Pak Idham yang waktu itu menjabat Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Keamanan tentu tak akan main-main, tentu juga karena ia sendiri adalah seorang ulama.

Sebelum menyikapi Kartosuwiryo dan kawanannya, Pak Idham meminta kaum ulama membahas Darul Islam. “Ini tugas saya yang paling berat,” tulis Pak Idham autobiografinya.

Dalam sebuah sidang di badan keamanan, Pak Idham bertanya, “Bagaimana menurut Bapak-bapak kiai,apa betul mereka berjuang memakai senjata menghadapi negera Republik Indonesia? Di Jawa Barat mereka menyebut Rebuplik Indonesia sebagai ‘RIK’ (Republik Indonesia Kafir). Apakah hal ini kita biarkan?”

Sidang kaum ulama memutuskan bahwa Kartosuwiryo dan tentaranya tidak bisa dibenarkan. DI itu, kata Pak Idham, bukan perjuangan, tapi pemberontakan. Kartosuwiryo tidak sesuai dengan negara yang berdasarkan Pancasila. Cita-cita Islam yang luhur tidak bisa didapat dengan cara kekerasan seperti yang dilancarkan DI.

“Aksi DI/TII bukannya menguntungkan umat Islam, tetapi merugikan. Banyak umat Islam yang menjadi korban kekejaman mereka. Mungkin di Aceh tidak terjadi perbuatan seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Di dua daerah ini DI membakari madrasah dan masjid-masjid yang tidak sependapat dengan paham mereka.”

Sikap tegas Pak Idham pada DI/TII nyaris bikin dirinya tewas diterjang timah panas, yakni ketika Idul Adha DI/TII menyerang Bung Karno saat shalat Id.

“Peluru yang ditembakkan anggota DI/TII yang menyusup ke Jakarta itu juga menyerempet saya. Terasa benar panasnya peluru ditengkuk saya,” cerita Pak Idham.

Pak Idham sudah tiada, pulang ke Rahmatullah Juli tahun lalu di usia 88 tahun. Tapi, jasa dan perjuangannya masih dapat dinikmati hingga sekarang, dan Indonesia mendatang. Negeri Pancasila yang mengedepankan persatuan di tengah berbedaan agama, suku, bahasa, golongan, masih berlangsung, meski di sana-sini masih direcoki.

(Sumber: www.nu.or.id)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: KAJIAN ASWAJA, Keaswajaan

6 Responses to “NKRI Bukan Negara Kafir”

  1. pan
    21/12/2011 at 23:37 #

    Assallamuallaikum, sebelumnya mohon maaf, cm sekedar bertanya.., bisakah disebutkan alasan kenapa negara Indonesia bukan negara kafir.., walaupun bukan aliran garis keras dan tidak suka kekerasan, tp menurut saya pribadi Indonesia saat ini adalah negara kafir, karena ideologi yg dipakai adalah Pancasila, dan Pancasila bukan Islam?mohon penjelasannya,thx

    • Wahhabi
      07/05/2013 at 10:25 #

      Indonesia bukan negara Kafir karena masih ditegakkan sholat, syiar bisa dilakukan dengan mudah, masjid bisa dibangun (walau di Indonesia timur agak sulit), penduduknya mayoritas Muslim, Adzan berkumandang bebas (mungkin di Bali yang dilarang).

      Nah kondisi seperti ini menunjukkan kita adalah negara muslim. Apalagi bila kita membaca dasar negara kita yang berdasarkan Ketuhanan yang maha esa (hanya Islam yang beraqidah ahad seperti ini).

      Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam tidak menyerang suatu daerah saat berperang hingga beliau yakin bila ternyata pada saat Subuh tidak ada dikumandangkan adzan di daerah tersebut.

      Wallaahu a’lam.

  2. 10/08/2012 at 10:29 #

    Ini orang kebanyakan indoktrinasi politik yang keliru atau lebih parah lagi tidak pernah mempelajari sejarah berdirinya Negara Republik Indonesia. Yang diterima hanya doktrin “Pokoknya Negara Islam” kalau nggak “Negara Kafir”. Negara Republik Indonesia ini adalah dari hasil perjuangan lahir bathin orang-orang muslim, pemimpin2 muslim, dan yang lain. Mereka rela ditahan, diasingkan, dan dan dalam bentuk penindasan berat yang lain oleh pihak penjajah selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah se-ucap-pun dalam setiap perjuangannya untuk mendirikan negara Islam. Yang ada di dalam nurani mereka adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan falsafah “Pancasila” dan landasan UUD ’45. Jadi kalau anda tidak setuju dengan deklarasi kemerdekaan mereka pendiri bangsa dan negara ini, silahkan saja ini jaman sudah merdeka nggak suka ya protes kecilnya, besarnya berontak seperti DI / TII dan yang lainnya nanti sampean akan menemukan kenyataan bahwa Negara Republik Indonesia sesungguhnya bukan negara “Kafir” tapi justru negara yang me-agungkan dan menghormati agama Islam dalam pola kehidupan sehari-hari.
    Jangan mengecilkan bahkan kalau saya berpendapat anda sudah menghina dan merendahkan arti perjuangan pendahulu kita yang dengan tanpa pamrih telah mengalirkan darah pada perang kemerdekaan beliau-beliau wafat secara syuhada dan merelakan harta benda bagi kelanjutan Negara Republik Indonesia.
    Lalu dimana peran sampean waktu itu??? Sampean sekarang kan tinggal menikmati kebebasan atau pepatah jawa mengatakan ” Sego mateng Surak “. Oleh karena itu kalau boleh sampean saya ingatkan jangan asal “Njeplak ” dan sekiranya anda tetap ingin negara yang tidak kafirun ya bikin saja negara yang anda kehendaki dimana terserah namun jangan di Indonesia.

  3. 10/08/2012 at 20:26 #

    setuju

  4. 16/08/2012 at 08:46 #

    Saudara Pan.. saya yakin saudara ketika bertanya sudah mengetahui jawaban asasi dari pertanyaan saudara. Dan saya yakin tidak ada keinginan bughot dari dalam hati saudara. Namun ketahuilah.. Negara Islam itu bukan negara yang mengedepankan simbol dalam kenegaraaannya; bendera berlambang syahadat, berbahasa resmi Arab, semua warganya harus berjubah dan peci. Apakah artinya semua itu apabila akhlaknya biadab, lihatlah nasib para TKW-TKW itu. Suka berperang dan munafiq, lihatlah sikap apatis Arab SAUDI terhadap nasib afganistan, palestina, mesir, suriah.. negara Islam bukanlah begitu. NKRI adalah negara dengan sebenar-benarnya negeri dimana alam islami sedang dipraktekkan. Insyafilah..

  5. fauzi
    17/08/2012 at 15:50 #

    Pan kuwe KOPLAK….ALIAS COMLO

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


1 + = 5