4:58 am - Thursday April 17, 2014

Benarkah Suguhan Makanan Kematian Haram?

Wahabi Berdusta Atas Nama Ulama Madzhab Imam Syafi’i

Pada tanggal 23 Juli 2011, penulis mengisi acara Daurah pemantapan Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran, Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh KH. Mu’tashim Billah Mufid. Dalam acara tersebut, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada penulis tentang hukum selamatan kematian, di mana dalam selebaran Manhaj Salaf, media siluman kaum Wahabi, selamatan atau suguhan makanan kematian dianggap haram secara mutlak. Selebaran tersebut berjudul Imam Syafie Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan. Setelah saya memeriksa selebaran tersebut, ternyata isinya penuh dengan kebohongan dan pemalsuan terhadap pernyataan para ulama madzhab Syafi’i.  Ulama menyatakan makruh, selebaran tersebut merubahnya menjadi haram.

Saya menjadi heran, bukankah selama ini kaum Wahabi sangat keras menyuarakan penolakan terhadap hadits dha’if dan palsu, akan tetapi mengapa mereka sendiri justru kreatif memalsu pernyataan para ulama? Di antara kebohongan dan pemalsuan selebaran tersebut adalah pernyataannya yang berulang-ulang bahwa Imam Syafi’i dan madzhab Syafi’i mengharamkan “kenduri arwah” yang lebih dikenali dengan berkumpul beramai-ramai dengan hidangan jamuan (makanan) di rumah si Mati.

Kemudian selebaran tersebut mengutip pernyataan ulama dalam kitab I’anah al-Thalibin, Hasyiyah al-Qulyubi wa ‘Amirah dan Mughni al-Muhtaj. Anehnya, semua kutipan dari ketiga kitab tersebut menyatakan bahwa selamatan kematian selama tujuh hari atau lainnya itu dihukumi makruh. Akan tetapi penulis selebaran tersebut menegaskan bahwa tradisi selamatan kematian tersebut dihukumi haram. Sepertinya penulis selebaran tidak mengerti perbedaan antara hukum makruh dan hukum haram.Selebaran tersebut banyak melakukan pemelintiran dan distorsi terhadap pernyataan para ulama madzhab Syafi’i dalam kitab-kitab fiqih mu’tabaroh.  Oleh karena itu, catatan ini akan mengupas secara ringkas tentang hukum suguhan kematian menurut para ulama.

Suguhan makanan yang dibuat oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziyah, diperselisihkan di kalangan ulama menjadi 3 pendapat.

 

Pertama, pendapat yang menyatakan makruh. Pendapat ini diikuti oleh mayoritas ulama madzhab empat, seperti dikutip oleh Syaikh al-Bakri dalam kitab I’anah al-Thalibin dengan mengutip fatwa gurunya, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan berikut ini:

مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ (2/145) وَفِيْ حَاشِيَةِ الْعَلاَّمَةِ الْجَمَلِ عَلَى شَرْحِ الْمَنْهَجِ وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ وَالْمَكْرُوْهِ فِعْلُهَا مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجُمَعِ وَاْلأَرْبَعِيْنَ بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ إِنْ كَانَ مِنْ مَالِ مَحْجُوْرٍ أَوْ مِنْ مَيِّتٍ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَوْ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ ضَرَرٌ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ اهـ (2/146) وَلاَ شَكَّ أَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ هَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَرَةِ فِيْهِ إِحْيَاءٌ لِلسُّنَّةِ وَإِمَاتَةٌ لِلْبِدْعَةِ وَفَتْحٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الْخَيْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِيْرٍ مِنْ أَبْوَابِ الشَّرِّ فَإِنَّ النَّاسَ يَتَكَلَّفُوْنَ تَكَلُّفًا كَثِيْرًا يُؤَدِّيْ إِلَى أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا (2/146).

“Apa yang dilakukan oleh manusia berupa berkumbul di rumah keluarga duka cita dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang munkar. Dalam Hasyiyah al-Jamal diterangkan, “Di antara bid’ah yang munkar adalah tradisi selamatan (kenduri) kematian yang disebut wahsyah, juma’, dan arba’in (nama-nama tradisi di Hijaz). Bahkan semua itu dihukumi haram apabila makanan tersebut diambil dari harta mahjur ‘alaih (orang yang belum dibolehkan mentasarufkan hartanya seperti anak yang belum dewasa), atau harta si mati yang memiliki hutang, atau dapat menimbulkan madarat pada si mati tersebut dan sesamanya.” Tidak diragukan lagi bahwa mencegah manusia dari bid’ah yang munkar ini, dapat menghidupkan sunnah, mematikan bid’ah, membuka sekian banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup sekian banyak pintu-pintu kejelekan. Karena manusia yang melakukannya telah banyak memaksakan diri yang membawa pada hukum keharaman.” (Syaikh al-Bakri, I’anah al-Thalibin, juz 2 hal. 145-146).

Demikian fatwa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan al-Syafi’i yang dikutip oleh Syaikh al-Bakri dalam I’anah al-Thalibin. Kesimpulan dari fatwa tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, selamatan pada hari kematian, sampai hari ketujuh dan hari empat puluh adalah makruh, apabila makanan yang disediakan berasal dari harta keluarga si mati.

Kedua, selamatan tersebut bisa menjadi haram, apabila makanan disediakan dari harta mahjur ‘alaih (orang yang tidak boleh mengelola hartanya seperti anak yatim/belum dewasa), atau dari harta si mati yang mempunyai hutang, atau dapat menimbulkan madarat dan sesamanya. Demikian kesimpulan fatwa Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan yang bermadzhab Syafi’i. Fatwa yang sama juga dikemukakan oleh ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Meski demikian, apabila makanan yang disediakan kepada penta’ziyah tersebut berasal dari bantuan para tetangga, maka status hukum makruhnya menjadi hilang dan berubah menjadi tidak makruh. Hal ini seperti dikemukakan oleh Syaikh Abdul Karim Bayyarah al-Baghdadi, mufti madzhab Syafi’i di Iraq, dalam kitabnya Jawahir al-Fatawa. Dalam hal ini, ia berkata:

اِنِ اجْتَمَعَ الْمُعِزُّوْنَ الرُّشَدَاءُ وَأَعْطَى كُلٌّ مِنْهُمْ بِاخْتِيَارِهِ مِقْدَارًا مِنَ النُّقُوْدِ أَوْ جَمَعُوْا فِيْمَا بَيْنَهُمْ مَا يُكْتَفَى بِهِ لِذَلِكَ الْجَمْعِ مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ وَالْمَشْرُوْبَاتِ وَأَرْسَلُوْهُ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ أَوْ إِلَى أَحَدِ جِيْرَانِهِمْ وَتَنَاوَلُوْا ذَلِكَ بَعْدَ الْوُصُوْلِ اِلَى مَحَلِّ التَّعْزِيَةِ فَلاَ حَرَجَ فِيْهِ هَذَا وَاللهُ الْهَادِيْ إِلَى الْحَقِّ وَالصَّوَابِ.

“Apabila orang-orang yang berta’ziyah yang dewasa berkumpul, lalu masing-masing mereka menyerahkan sejumlah uang, atau mengumpulkan sesuatu yang mencukupi untuk konsumsi perkumpulan (selamatan kematian) berupa kebutuhan makanan dan minuman, dan mengirimkannya kepada keluarga si mati atau salah satu tetangganya, lalu mereka menjamahnya setelah sampai di tempat ta’ziyah itu, maka hal tersebut tidak mengandung hukum kesulitan (tidak apa-apa). Allah lah yang menunjukkan pada kebenaran.” (Jawahir al-Fatawa, juz 1, hal. 178).

Kedua, pendapat yang menyatakan boleh atau mubah. Pendapat ini diriwayatkan dari Khalifah Umar, Sayyidah Aisyah dan Imam Malik bin Anas. Riwayat dari Khalifah Umar bin al-Khatthab disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai berikut:

عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ أَسْمَعُ عُمَرَ رضي الله عنه يَقُوْلُ لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِيْ بَابٍ إِلَّا دَخَلَ مَعَهُ نَاسٌ فَلاَ أَدْرِيْ مَا تَأْوِيْلُ قَوْلِهِ حَتَّى طُعِنَ عُمَرُ رضي الله عنه فَأَمَرَ صُهَيْبًا رضي الله عنه أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثَلاَثًا وَأَمَرَ أَنْ يُجْعَلَ لِلنَّاسِ طَعَاماً فَلَمَّا رَجَعُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ جَاؤُوْا وَقَدْ وُضِعَتِ الْمَوَائِدُ فَأَمْسَكَ النَّاسُ عَنْهَا لِلْحُزْنِ الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ. (المطالب العالية، 5/328).

“Dari Ahnaf bin Qais, berkata: “Aku mendengar Umar berkata: “Seseorang dari kaum Quraisy tidak memasuki satu pintu, kecuali orang-orang akan masuk bersamanya.” Aku tidak mengerti maksud perkataan beliau, sampai akhirnya Umar ditusuk, lalu memerintahkan Shuhaib menjadi imam sholat selama tiga hari dan memerintahkan menyediakan makanan bagi manusia. Setelah mereka pulang dari jenazah Umar, mereka datang, sedangkan hidangan makanan telah disiapkan. Lalu mereka tidak jadi makan, karena duka cita yang menyelimuti.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5 hal. 328).

Hal yang sama juga dilakukan oleh Sayyidah Aisyah, istri Nabi SAW. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اَلتَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ. رواه مسلم.

“Dari Urwah, dari Aisyah, istri Nabi SAW, bahwa apabila seseorang dari keluarga Aisyah meninggal, lalu orang-orang perempuan berkumpul untuk berta’ziyah, kemudian mereka berpisah kecuali keluarga dan orang-orang dekatnya, maka Aisyah menyuruh dibuatkan talbinah (sop atau kuah dari tepung dicampur madu) seperiuk kecil, lalu dimasak. Kemudian dibuatkan bubur. Lalu sop tersebut dituangkan ke bubur itu. Kemudian Aisyah berkata: “Makanlah kalian, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Talbinah dapat menenangkan hari orang yang sedang sakit dan menghilangkan sebagian kesusahan.” (HR. Muslim [2216]).

Dua hadits di atas mengantarkan pada kesimpulan bahwa pemberian makanan oleh keluarga duka cita kepada orang-orang yang berta’ziyah tidak haram. Khalifah Umar berwasiat, agar para penta’ziyah diberi makan. Sementara Aisyah, ketika ada keluarganya meninggal, menyuruh dibuatkan kuah dan bubur untuk diberikan kepada keluarga, orang-orang dekat dan teman-temannya yang sedang bersamanya. Dengan demikian, tradisi pemberian makan kepada para penta’ziyah telah berlangsung sejak generasi sahabat Nabi SAW.

Demikian pula Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki, berpandangan bahwa hidangan kematian yang telah menjadi tradisi masyarakat dihukumi jaiz (boleh), dan tidak makruh. Dalam konteks ini, Syaikh Abdullah al-Jurdani berkata:

يَجُوْزُ مِنْهُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ عِنْدَ الْإِماَمِ مَالِكٍ كَالْجُمَعِ وَنَحْوِهَا وَفِيْهِ فُسْحَةٌ كَمَا قَالَهُ الْعَلاَّمَةُ الْمُرْصِفِيُّ فِيْ رِسَالَةٍ لَهُ.

“Hidangan kematian yang telah berlaku menjadi tradisi seperti tradisi Juma’ dan sesamanya adalah boleh menurut Imam Malik. Pandangan ini mengandung keringanan sebagaimana dikatakan oleh al-Allamah al-Murshifi dalam risalahnya.” (Syaikh Abdullah al-Jurdani, Fath al-‘Allam Syarh Mursyid al-Anam, juz 3 hal. 218).

Ketiga, pendapat yang mengatakan sunnah. Pendapat ini diriwayatkan dari kaum salaf sejak generasi sahabat yang menganjurkan bersedekah makanan selama tujuh hari kematian untuk meringankan beban si mati. Dalam hal ini, al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab al-Zuhd:

عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوْسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعاً فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمَ.

“Dari Sufyan berkata: “Thawus berkata: “Sesungguhnya orang yang mati akan diuji di dalam kubur selama tujuh hari, karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan sedekah makanan selama hari-hari tersebut.”

Hadits di atas diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ (juz 4 hal. 11), al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur (32), al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (juz 5 hal. 330) dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi (juz 2 hal. 178).

Menurut al-Hafizh al-Suyuthi, hadits di atas diriwayatkan secara mursal dari Imam Thawus dengan sanad yang shahih. Hadits tersebut diperkuat dengan hadits Imam Mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur dan hadits Ubaid bin Umair yang diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam al-Mushannaf, sehingga kedudukan hadits Imam Thawus tersebut dihukumi marfu’ yang shahih. Demikian kesimpulan dari kajian al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi.

Tradisi bersedekah kematian selama tujuh hari berlangsung di Kota Makkah dan Madinah sejak generasi sahabat, hingga abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Suyuthi.

Berdasarkan paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa tradisi hidangan makanan dari keluarga duka cita untuk orang-orang yang berta’ziyah masih diperselisihkan di kalangan ulama salaf sendiri antara pendapat yang mengatakan makruh, mubah dan sunnat. Di antara mereka tidak ada pendapat yang menyatakan haram. Bahkan untuk selamatan tujuh hari, berdasarkan riwayat Imam Thawus, justru dianjurkan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat dan berlangsung di Makkah dan Madinah hingga abad kesepuluh Hijriah. Wallahu a’lam.

(Oleh: Muhammad Idrus Ramli)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Filed in: KAJIAN ASWAJA, Tahlilan

22 Responses to “Benarkah Suguhan Makanan Kematian Haram?”

  1. anggraeni
    13/12/2011 at 06:50 #

    KALW DIKAJI BYK HADIS YG DISAJiKAN DIATS KAITANYA SEDEKAH ORG MATI, SELAMA TUJUH HARI,tTAHLILAN DLL PERLU DIPERTANYAKAN KE ABSAHANYA….JANGAN2 HADIST LEMAH SEMUA..TUCH

    • 13/12/2011 at 08:55 #

      agama gak pake anggapan-anggapan semata. kalau cuma “JANGAN-JANGAN” doank..,, bisa amburadul lah agama islam ini.

      • abu hamzah
        13/10/2012 at 12:02 #

        Kalau begitu jelasin dong keshohennya.

  2. husnul muttaqin
    04/04/2012 at 08:41 #

    tinggal kita mau taqlid yang mana selama kita masih belum bisa berijtihad sendiri insya Alloh aman

  3. 01/05/2012 at 06:37 #

    Bagaimana tanggapan saudaraku (Tim Sarkub) dengan yg berikut ini?

    Al Mawa’idz merupakan sebuah nama bagi majalah yang dikelola oleh organisasi Nahdatul Ulama Tasikmalaya, terbit sekitar pada tahun 30-an. Di dalam majalah ini, pihak NU (yang biasa dikenal sebagai pendukung acara prevalensi perjamuan tahlilan) menyatakan sikap yang sebenarnya terhadap kedudukan hukum prevalensi tersebut. Berikut kutipannya :

    Tjindekna ngadamel rioengan di noe kapapatenan teh, ngalanggar tiloe perkara :

    1. Ngabeuratkeun ka ahli majit; enja ari teu menta tea mah, orokaja da ari geus djadi adat mah sok era oepama henteu teh . Geura oepama henteu sarerea mah ?
    2. Ngariweuhkeun ka ahli majit; keur mah loba kasoesah koe katinggal maot oge, hajoh ditambahan.
    3. Njoelajaan Hadits, koe hadits mah ahli majit noe koedoe di bere koe oerang, ieu mah hajoh oerang noe dibere koe ahli majit.

    Kesimpulannya mengadakan perjamuan di rumah keluarga mayat yang sedang berduka cita, berarti telah melanggar tiga hal :

    1. Membebani keluarga mayat, walaupun tidak meminta untuk menyuguhkan makanan, namun apabila sudah menjadi kebiasaan, maka keluarga mayat akan menjadi malu apabila tidak menyuguhkan makanan. Tetapi coba kalau semua orang tidak melakukan hal serupa itu ?

    2. Merepotkan keluarga mayat, sudah kehilangan anggota keluarga yang dicintai, ditambah pula bebannya.

    3. Bertolak belakang dengan hadits. Menurut hadits justru kita tetangga yang harus mengirimkan makanan kepada keluarga mayat yang sedang berduka cita, bukan sebaliknya.

    Kemudian ditempat lain :

    Tah koe katerangan Sajjid Bakri dina ieu kitab I’anah geuning geus ittifaq oelama-oelama madhab noe 4 kana paadatan ittiehadz tho’am (ngayakeun kadaharan) ti ahli majit noe diseboetkeun njoesoer tanah, tiloena, toejoehna dj.s.t. njeboetkeun bid’ah moenkaroh.

    Nah, berdasarkan keterangan Sayid Bakr di dalam kitab I’anah tersebut, ternyata para ulama dari 4 mazhab telah menyepakati bahwa kebiasaan keluarga mayit mengadakan perjamuan yang biasa disebut dengan istilah Nyusur Tanah, tiluna (hari ketiganya), tujuhnya (hari ketujuhnya), dst, merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disukai agama.

    Selanjutnya :

    Koeninga koe ieu toekilan-toekilan noe ngahoekoeman bid’ah moenkaroh, karohah haram teh geuning oelama-oelama ahli soennah wal Djama’ah, lain bae Attobib, Al Moemin, Al Mawa’idz. Doeka anoe ngahoekoeman soennat naha ahli Soennah wal Djama’ah atawa sanes ?

    Melalui kutipan-kutipan tersebut, diketahui bahwa sebenarnya yang menghukumi bid’ah mungkarah itu ternyata ulama-ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah, bukan hanya majalah Attobib, Al Moemin, Al Mawa’idz. Tidak tahu siapa yang menghukumi sunnat, apakah Ahlu Sunnah wal Jama’ah atau bukan ?

    Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa warga Nu pada waktu itu sepakat pandangannya terhadap hukum prevalensi perjamuan tahlilan, yaitu bid’ah yang dimakruhkan dengan makruh tahrim, (menjadi haram karena sebab lain) apabila biaya penyelenggaraan acara tersebut berasal dari tirkah mayit (peninggalan mayit) yang di dalamnya terdapat ahli waris yang belum baligh atau mahjur ‘alaihi ( di bawah pengampuan/curatel).

    Demikian isi majalah tersebut. [Al Mawa'dz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaya (Tasikmalaya: Nahdlatoel Oelama, 1933)]

    • Mbah Jo
      01/05/2012 at 06:50 #

      Bukankah bagi salafy NU itu bid’ah / sesat..?
      Lalu,ngambil & pakai senjata NU untuk nembak NU..?
      Lempar batu minjem tangan..

  4. 01/05/2012 at 09:42 #

    Bukan begitu Saudaraku Mbah Jo, mohon jgn mengedepankan emosi, saya cuma minta pendapat dari Tim Sarkub, saya pengen tahu kenapa dulu NU melalui majalahnya di Tasikmalaya berpendapat demikian? Saya ingin ada jawaban yg ilmiah dan jelas serta bukan sekedar jawaban yang dilandasi oleh emosi dan hujatan saja.

  5. Gus Munib
    29/06/2012 at 21:56 #

    perbedaan2 yg terjadi sudah menjadi prinsip tiap individu……..bagaimana menyikapinya ya terserah individu2 tersebut. Itu semua sudah takdir ilahi yg merupakan rahmat dari Allah SWT. Seyogyannya kita sesama umat muslim saling menghargai perbedaan yg sudah menjadi prinsip agama tersebut. Tidak perlu kita mengatakan “pendapat Kami BENAR , pendapat Situ yg SALAH”. Karena KEBENARAN hanyalah milik Allah semata. Manusia sudah diberi akal untuk berfikir. Semua berpendidikan….semua terpelajar, kemana dan bagaimana kita mau menggali khasananh keislaman kita lebih mendalam…terserah saja. Dimana itu masih membawa manfaat, Kita ambil. Dimana itu tidak membawa manfaat, Kita tinggalkan. Sekali lagi PERBEDAAN adalah RAHMAT. KEBENARAN adalah milik Allah semata.

  6. 08/07/2012 at 08:29 #

    hukum Islam bersumber dari 2 hal yaitu Al- qur’an dan As-Sunnah(Al Hadits), Kalau kita menjalan kan agama islam yang bukan bersumber dari 2 hal tadi atau kita salah dalam menterjemahkan dan mentafsirkannya maka kita menyimpang dari ajaran Islam yang orisinil. apalagi jika kita melakukan suatu ibadah khususnya ibadah hablumminallaah yang tidak merujuk kepada ayat Alquran atau dalil2 yang shohih maka terancam bid’ah atau syirik.

  7. Mas Derajad
    08/07/2012 at 14:46 #

    @andry
    Semua umat Rasulallah Muhammad S.A.W. selalu berpegang pada keduanya (Qur’an dan hadits). Namun demikian ada hal yang perlu diperjelas dan dilakukan ijtihad dalam pengambilan hukumnya. Maka pengambilan itu kesepakatan bersamanya disebut ijma’ ulama. Seperti ta’rif/definisi shalat, puasa, zakat dll termasuk syarat dan rukunnya. Di jaman Rasulallah itu belum detail penjelasannya, karena beliau lebih mengutamakan pengamalannya, yang jelas lebih melekat dalam pemahamannya.

    Selanjutnya, tidak semua amalan yang tidak ada contoh pada masa Rasulallah adalah tertolak, itu pemahaman yang keliru.

    Kebenran hakiki hanya milik Allah

    Hamba Allah yang dhaif dan faqir

    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  8. Pencariilmu
    25/07/2013 at 06:57 #

    Selanjutnya, tidak semua amalan yang tidak ada contoh pada masa Rasulallah adalah tertolak, itu pemahaman yang keliru.

    Benar, belum tentu yg tidak ada contohdari Rasul Tertolak supaya dicamkan ! asalkan bukan urusan dalam beramal ibadah yg sdh dituntunkan ,amalan Dunia Rasul banyak gak mencontohkan, agar dipahami itu.

    • Mas Derajad
      29/08/2013 at 10:29 #

      @Pencari Ilmu :

      Bismillahirrahmanirrahim,

      Kami para pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah jelas berpegang pada “Asa Ibadah adalah Tauqif (Berhenti pada ketentuan Qur’an dan Sunnah). Dalam qaidah ushul fiqh disebutkan الأصل في العبادات التوقيف. Tapi pemahaman itu harus jelas seperti penjelasan para ulama’, bukan asal tahu bunyinya saja lalu semaunya berdalil.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  9. gusjan
    21/08/2013 at 22:26 #

    Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

    meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

    beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

    dewasa.
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do’akan

    sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

    mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan….

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro

    putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

    monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

    wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul

    masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

    tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah

    nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan

    Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf…

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras

    dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

    Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

  10. 29/08/2013 at 10:04 #

    buat gusjan
    dulu saya ggak tahu tahlilan tp sekarang saya suka tahlilan. dan sekarang saya jadi penggerak tahlilan.
    mohon maaf bagi yang tidak suka tahlilan, ggak usah mencari dalil/memplintir dalil untuk memaksakan untuk mengharamkan/melarang tahlilan. karena yang melakukan tahlilan jg punya dasar, kalo kita mau belajar sejarah jangan setengah2 mas.
    mari kita belajar lg.

  11. Mas Derajad
    29/08/2013 at 10:57 #

    @gusjan

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Kelihatan dari tulisan saudara menggiring pada pemahaman yang mengambang, karena memang saudara tidak menyalahkan amaliah “Tahlilan” tapi juga tidak membenarkan, juga dibumbui tambahan penjelasan yang rancu.

    Saudara mengatakan lebih kurang, “Nabi, keluarga dan sahabat saja tidak pernah tahlilan”.

    Pertanyaan untuk saudaraku : Apa pengertian saudara dengan “Tahlilan” ?

    Kemudian saudara juga mengatakan lebih kurang, “Menyedihkan shalat di masjid yang ada pondoknya, shafnya gak rapat, jamaah berjauhan, Imam tidak memperhatikan shaf dls.”

    Pertanyaan untuk saudaraku : Tanpa bermaksud meragukan cerita saudara tentang pondok/masjid yang saudara kunjungi, pendekatan fiqh shalat apa yang saudara pakai ? Apakah shalat seperti Pak Albani dalam kitabnya ?

    Saya tidak membenarkan kesalahan ilustrasi yang saudara sampaikan, jamaah shalat yang shafnya berjauhan, imam tidak memperhatikan shaf dan lain sebagainya memang salah, tapi sejauh pengalaman saya masih di pondok, ilustrasi saudara tampak mengada-ada dan perlu pembahasan secara jelas fiqh dalam shalat yang dijadikan tolok ukurnya.

    Kembali pada artikel diatas jelas bahwa suguhan dalam acara kematian bukan haram, paling ketat jatuhnya pada hukum makruh, jika ada keharusan dalam pengadaannya. Tapi jika penyuguh makanan ikhlas dengan tujuan menyedekahkan makanan tersebut untuk amal keluarga yang meninggal, maka itu sunah.

    Juga perlu difahami Tahlilan itu hanya nama, ada juga yang menyebutnya dengan Kenduri, selamatan kematian dll. Tapi yang jelas didalamnya berisi do’a, bacaan Qur’an dan dzikir yang hadiah pahala bacaannya dimohonkan kepada Allah untuk disampaikan kepada ahli qubur. Dan itu sunnah. Banyak dalil yang mendukungnya. Kebetulan saja disitu dzikir “La ilaha illallah” porsi bacaannya lebih banyak, maka orang-orang menyebutnya “Tahlilan”.

    Mengenai Rasulullah, Keluarga dan sahabatnya tidak pernah “Tahlilan” dalam pengertian do’a, apakah saudara menjamin memang hal tersebut tidak pernah dilakukan Rasulullah dan pengikutnya ?

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  12. 31/08/2013 at 08:52 #

    buat gusjan
    maksud saudara apa? coba saudara telaah dengan hati yang jernih dan seimbang. saya dulu juga seperti saudara tapi sekarang alhamdulillah saya cinta tahlilan

  13. gusjan
    04/09/2013 at 11:13 #

    Sy tdk lagi menggunakan istilah “TAHLIL” dalam masalah ini. Kalimat TAHLIL sangat agung untuk diperdebatkan. Yang saya maksud dalam tuisan itu adalah acara RITULAN 3,7,40,100 dst, pada meninggalnya seseorang. Seperti yg sudah kita ketahui, semua putra-putri Nabi SAW ketika wafat juga gk diadakan RITUAL an 3,7,40,100 dst. Ketika Nabi SAW wafat juga tdk ada 1 riwayatpun kl NABi di RITUAL i 3.7.40.100 dst. Bahkan sampek para SAHABAT, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in. Belum pernah sy dengar mereka wafat di RITUAL i 3,7,40,100 dst. Untuk Sudara2 yg mengamalkan, silahkan saja. Itu hak masing2.

    @Mas Derajad
    menurut buku Ahkamul Fuqaha, (seperti yg Mas Derajat kutip), hukumnya makruh, apakah sudah pernah disampaikan kepada msyarakat, saat ada acara, misalnya:”bapak dan para undangan sekalian, sebetulnya suguhan dalam acara seperti ini MAKRUH…, dst..” ?? Agar yg tdk mampu tdk perlu memaksakan diri.
    itu saja, mohon ma’af kl ada yg kurang berkenan,
    Alhir kata.., marilah kita selalu sholat berjama’ah, di masjid/mushola, waktu mustajab berdo’a antara adzan dan iqomah, saat itu kita banyak2 berdo’a untuk orang tua kita, untuk kaum muslimin dst. Setelah sholat kita bisa berdo’a lagi, setiap waktu senggang, banyak waktu untuk berdo’a, sebagaimana yg dicontohkan Nabi SAW dan para sahabat. Semoga Alloh SWT memberi hidayah kepada kita semua, untuk bisa mengikuti SUNNAH Nabi Muhammad SAW. Amin.

    • Mas Derajad
      08/10/2013 at 12:54 #

      Bismillahirrahmanirrahim,

      @Gusjan :

      Saudara mengatakan : “menurut buku Ahkamul Fuqaha, (seperti yg Mas Derajat kutip), hukumnya makruh, apakah sudah pernah disampaikan kepada msyarakat, saat ada acara, misalnya:”bapak dan para undangan sekalian, sebetulnya suguhan dalam acara seperti ini MAKRUH…, dst..” ??”

      Coba Gusjan sedikit saja lebih cermat membaca hadits dan fatwa ulama’, maka yang dimakruhkan adalah niyahah, ma’tam, an Nadb , qiil dan istilah lain yang intinya menjadikan acara kematian sebagai acara untuk bersedih yang berlebihan. Bahkan hukumnya akan jatuh pada haram.

      Sedangkan acara Tahlilan/Yasinan/Kenduri atau apapun sebutannya adalah diniatkan sedekah, membaca Qur’an, dan do’a yang dihadiahkan kepada mayit/orang yang meninggal dan itu sunnah, bukan makruh.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  14. 05/10/2013 at 10:17 #

    ritual yang saudara maksud itukan cuma untuk memudahkan orang mengingat saja bahwa hari2 itu diagunakan untuk berdoa’a jadi memudahkan orang yang mau ikut mendo’akan mencari waktu senggang, lagian tidak ikut mendo’akan bersama2 juga ggak apa2. dan yang tidak mampu mengakan do’a bersama jg tidak dosa.
    bagi saya minyak unta cap BABI lebih baik dari pada minyak babi cap UNTA.

  15. Ian Sugiarto Aji
    26/10/2013 at 09:16 #

    yang berta’jiah memberikan sumbangan pada keluarga yang meninggal, sumbangan dana tersebut untuk biaya jamuan makan tahlilan kalau itu tidak cukup maka saudara2 dekatnya yang membantu….
    ini berlaku di daerah saya… haramkah?

  16. 02/11/2013 at 10:14 #

    kalo sumbangannya halal (baik dari dzatiah dan asal mendapatkannya), insya allah tidak haram mas. he heh he guyon mas dikira gak tenanan. dan bisa juga suguhan itu haram dimakan jika yang disuguhkan itu berupa arak dan daging babi/anjing

  17. Anonymous
    30/12/2013 at 07:02 #

    klo yg disuguhkan celeng haram dia,atau daging hasil curian jelas haram,masak org sedekah dbatasi lantaran ada kematian,jk ya berarti islam ini kaku,kykna g msk akal deh,meski hukunya tak wajibb kyknya syah2 sj org selamatan

Tinggalkan Pesan


Dilarang keras berdusta mengatasnamakan SARKUB atau NU
Dilarang mengisi di kotak isian dibawah ini dengan nama SARKUB, email SARKUB, dan website SARKUB.COM)
BAGI YANG MELANGGAR LANGSUNG KAMI HAPUS KOMENTAR ANDA!


3 + 6 =